Bibit baru. Kita yang melawan punah.
Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Haust, Jakarta, 17 Maret sore. Pemimpin redaksi VHRmedia.com FX Rudy Gunawan meninggalkan piring makanannya di atas meja. Minat makannya terpecah. Dia harus memastikan sebuah e-mail terkirim ke staf Goethe.
Rudy, panggilan FX Rudy Gunawan, lupa membawa print-out pengumuman pemenang lomba penulisan blog bertajuk Beat Blog Contes. Sedianya malam itu dia kebagian tugas mengumumkan pemenang lomba penulisan blog bertema lingkungan hidup.
“Goethe ternyata tidak menerima flashdisk dari luar. Untung kita bisa kirim e-mail. Kalau tidak, tidak ada pengumuman pemenang malam ini,” kata Rudy berseloroh sebelum mengumumkan pemenang.
Selain pengumuman pemenang lomba menulis untuk blogger, malam itu diluncurkan rangkaian acara Net.Work yang akan digelar VHRmedia.com selama setahun ini. Net.Work akan menyelenggarakan berbagai acara yang melibatkan para blogger dan pengguna situs jejaring sosial.
Rangkaian acara akan ditutup pemberian penghargaan kepada netizen yang dianggap berjasa mengkampanyekan isu pelestarian lingkungan. ”Penghargaan Key-Worth Netizen Awards akan kami umumkan di akhir tahun,” kata Direktur Eksekutif VHRmedia.com, Raharja Waluya Jati.
Sebelum Raharja Waluya Jati memberikan sambutan, malam di Goethe jadi hangat oleh alunan saksofon Nicky Manuputty. Pentas kecil akustik Nicky, disambut renyah tepuk tangan pengunjung yang rata-rata berusia dua puluh tahunan.
Jati mengaku terkejut mengetahui jumlah peserta Beat Blog Contes. Biasanya, sayembara blog diikuti paling banyak oleh 200 peserta. Sekitar satu setengah bulan pendaftaran, panitia menerima 1.100 karya para netizen. “Ternyata kami tidak sendiri.”
Tim seleksi awal memilih 100 karya yang layak maju ke tahap penjurian selanjutnya. Kemudian dipilih 20 karya terbaik sebagai finalis.
Pada tahap akhir, penjurian dilakukan oleh Pemimpin Redaksi VHRmedia.com, FX Rudy Gunawan, aktris Happy Salma, dan wartawan National Geographic, IGG Maha Adi. Ketiga dewan juri memilih 3 pemenang.
Juara ketiga menjadi milik Akmal Budiman. Mahasiswa beasiswa jurusan bisnis dan manajemen Universitas Paramadina Mulya Jakarta ini, menang melalui artikel “Sang Hitam: Suara Alam adalah Suara Tuhan” yang ditulis di http://aammanajemen.blog.com (ora@labORa).
Dalam artikel itu, Arman mengisahkan perjalanan mudiknya ke Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dia bercerita soal kebudayaan suku Kajang Dalam yang menganggap alam bagian dari Tuhan.
Suku yang oleh penduduk setempat disebut Sang Hitam karena mengenakan pakaian serba hitam ini, memegang prinsip tidak menyiakan alam. Kepercayaan turun-temurun ini sejalan dengan “go green”.
Orang Kajang misalnya, melarang membangun rumah menggunakan batu bata. Larangan ini mengurangi penebangan kayu. Sebab untuk membakar batu bata, perlu banyak kayu bakar. “Sehingga eksploitasi hutan untuk keperluan komersil terminimalisir,” tulis Arman.
Juara kedua jatuh kepada Lianggono, pemuda dari Sidoarjo, Jawa Timur. Melalui http://dibumihatiku.blogspot.com/, Lianggono menuliskan sudut pandangnya tentang perubahan iklim dalam artikel ”Bumi dan Arsitek Kecil”. Penggiat seni dan desain ini, memberikan sejumlah contoh desain arsitektur yang ramah lingkungan.
Dia menyebut bos media Amerika Serikat, Donald Trump menghemat segala hal dalam pembangunan gedung. Engsel! Ya, engsel! Trump mengurangi kebiasaan menggunakan tiga sampai empat engsel untuk satu pintu menjadi satu engsel.
“Pengurangan engsel berdampak pada penggunaan paku, sekrup, cat dan waktu kerja. Selain menguntungkan secara ekonomi, kisah Trump ini juga salah satu cara cerdas untuk meminimalkan penggunaan energi,” kata Lianggono.
Contoh kedua adalah dosen Lianggono yang berprofesi arsitek. Meski disainnya “wah”, Lianggono menemukan pintu di rumah dosennya tanpa kusen.
“Sangat mengesankan. Pemasangan engsel dan handle langsung diaplikasikan ke dinding. Dan terbukti hasilnya pun menarik. Bayangkan, berapa bilah kayu yang dihemat dengan tak menggunakannya sebagai kusen pintu?”
Juara pertama diberikan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Cucun Hendriana. Pemuda berusia 26 tahun asal Kuningan, Jawa Barat ini mengisahkan pengalaman hidup auditor sebuah bank yang banting setir mengurus sampah.
Dalam artikel “Baedowy, ’Sang Juragan Sampah’” di http://cucunhendriana.blogspot.com, Cucun bercerita bahwa Baedowy sempat bangkrut karena beralih profesi mengolah sampah plastik.
Usaha yang dirintis Baedowy di Bandung, Jawa Barat, sejak tahun 2000 itu akhirnya membuahkan hasil. ”Pilihannya tepat, dari usaha yang dirintisnya itu kini ia mampu mengekspor puluhan ton biji sampah plastik ke China dengan omset menggiurkan,” kata Cucun.
Dari sudut pandang perubahan iklim, bisnis Baedowy membantu mengurangi sampah di Kota Bandung. Di samping itu, bisnis ini juga menjanjikan keuntungan besar.
***
Inilah salah satu fakta wajah dunia maya: sebagian besar blogger anak muda. Fakta ini mencerahkan. Sebab, blog dapat menjadi potensi baru kampanye lingkungan karena digerakan oleh generasi muda yang giat mengaktualisasi diri.
Cucun Hendriana misalnya. Meski hobi menulisnya dimulai sejak di bangku SMA, dia baru menggauli blog pada 2004. Dimulai dengan multiply, Cucun kemudian bergabung dengan komunitas penulis di dunia maya seperti kompasiana dan blog.detik.
Bagi Cucun, komunitas blogger penting untuk menambah sahabat dan inspirasi. Tak jarang ide tulisan muncul seusai membaca tulisan rekan lain di komunitas. “Kami juga bisa tukar pikiran dengan orang lain,” kata Cucun.
Kelebihan lain di dunia maya adalah anonimitas penulis secara fisik dan seleksi yang tak seketat media cetak. Cucun bukan penulis spesialis isu lingkungan. Dia justru lebih banyak menulis masalah politik dan sosial.
Sesekali tulisannya dimuat di surat kabar nasional. Namun, anonimitas menyebabkan Cucun bebas menulis isu apa saja tanpa perlu mencantumkan embel-embel pakar.
Dunia maya mencairkan batas identitas penulis.
Cucun kini sedang menularkan kegiatannya main blog ke anak-anak muda di kampungnya. Menurut dia, anak muda di kampungnya sudah lebih mengenal internet ketimbang saat dia merantau ke Jakarta tujuh tahun lalu.
“Kalau saya pulang kampung, anak muda sudah kenal twitter, facebook, meskipun masih pakai telepon genggam,” kata Cucun yang setiap hari menghabiskan 6 jam memelototi internet. (*)
Foto: VHRmedia/Adrian Mulya
Subscribe via RSS or email address:
Komentar Artikel