Neraka Satwa Surabaya (1)

Kebun Binatang Surabaya di ambang kehancuran. Konflik manajemen berkepanjangan. Satwa-satwa sekarat dan mati.
  • Yovinus Guntur / Arwani
  • 22 November 2011

 

Beruang Kanada sakit parahKandang komodo di sudut Kebun Binatang Surabaya yang biasanya sepi tiba-tiba jadi ramai. Selasa pagi 8 November itu para wartawan dari berbagai media massa berdatangan mendengar kabar komodo mati.

Itu bukan kematian pertama satwa koleksi Kebun Binatang Surabaya. Seminggu kemudian seekor bekantan betina mati. Berikutnya harimau putih dan beruang asal Kanada sakit parah dan mesti dilarikan ke Balai Karantina Satwa untuk mendapatkan perawatan khusus.

Berdasarkan catatan resmi, dari tahun 2006 hingga September 2011 saja kematian satwa KBS mencapai 2.204 ekor. Dan kematian satwa terus berlanjut hingga kini. Bisa dikata banyaknya satwa yang mati akibat konflik berkepanjangan manajemen KBS.

Tonny Sumampauw, ketua tim manajemen sementara yang ditunjuk Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, mengakui konflik manajemen menjadi salah satu sebab banyaknya satwa mati. Penyebab yang lain adalah kandang kotor dan kumuh, kurang gizi, stres, serta faktor usia satwa.

Menurut dia, 50 persen kematian satwa akibat kandang kotor, kumuh, dan kurang gizi. "Penyebab utama kematian satwa kurang sinar matahari dan kandang yang kotor. Sisanya karena usia."

Meski demikian, Tonny menyatakan tren kematian satwa KBS sejak tahun 2006 menurun. Dalam lima tahun terakhir kematian satwa tertinggi pada tahun 2007, mencapai 528 satwa. Paling banyak komodo. Setidaknya 40 ekor reptil langka koleksi KBS mati pada usia 1 - 2 tahun.

Meski tingkat kematian satwa tergolong tinggi, tim manajemen sementara yang bekerja sejak 20 Agustus 2010 mengklaim bisa menekan kematian satwa.  Selama tahun 2010 misalnya, kematian "hanya" 269 satwa. Tahun ini, hingga September 245 satwa mati. "Meski masih ada satwa yang mati, kami berhasil menekan angka kematian," kata Tonny.Kandang kera mirip penjara

Menurut Tonny, kematian satwa KBS masih dalam taraf wajar, yakni berkisar 1 - 2 persen. Taraf kewajaran 5 persen dari total jumlah satwa koleksi KBS yang mencapai 4.021 ekor, terdiri atas 249 spesies.

Manajemen Baru

Tugas tim manajemen sementara akan berakhir pada Februari 2012. Mereka menyatakan melakukan beberapa langkah. Salah satunya mereformasi KBS. Juga mengganti logo ikan suro dan boyo (buaya) menjadi komodo.

Perubahan juga dilakukan dengan membangun pintu masuk, pintu keluar, tempat parkir karyawan, hingga tiket wristband atau tiket gelang yang hanya bisa digunakan satu kali masuk. Manajemen juga melakukan perubahan pola dan peningkatan kualitas pakan satwa serta pengelolaan secara profesional. Perbaikan kandang secara bertahap dilakukan, mengingat saat ini banyak kandang jauh dari layak.

Tim manajemen sementara juga mencanangkan gerakan True Freedom Satwa. Yakni satwa harus bebas haus, lapar, dan malnutrisi. Bebas rasa sakit, cedera, dan ketidaknyamanan fisik. ”Bebas rasa takut dan mewujudkan perilaku normal pada satwa,” kata Tonny.

Tim manajemen sementara juga menargetkan pengelola profesional. Nantinya pengelola baru harus mampu memperbaiki sistem pengelolaan yang selama ini keliru. Soal bentuknya, bisa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Perseroan Terbatas (PT), Yayasan, atau pihak swasta. "Soal bentuk pengelola, silakan berbadan hukum apa saja. Yang terpenting mereka harus profesional dan mengerti konsep konservasi," ujar Tonny.

Harimau putih kurus lemahAda banyak tugas lain yang harus diselesaikan tim manajemen sementara. Salah satunya meningkatkan pendapatan dan mencegah kebocoran dari berbagai sisi. Hal ini sangat penting, karena saat tim mulai bekerja, kas KBS hanya Rp 84 juta. Angka itu sangat minim, mengingat manajemen harus menyiapkan anggaran Rp 120 juta/orang untuk uang pensiun pegawai.

Untuk kebun binatang yang sehat, setidaknya harus ada dana cadangan minimal 1 tahun. Apalagi dalam setiap bulan KBS diperkirakan bisa mendapatkan Rp 1,4 miliar. Setidaknya diperlukan dana cadangan 3 kali lipat dari jumlah itu dalam 1 tahun.

Tugas berat lainnya menaikkan jumlah pengunjung. Setelah banyak pemberitaan soal kematian satwa, jumlah pengunjung menurun. Pada tahun 2009 pengunjung 1.586.483 orang dan tahun 2010 berkisar 1.500.000 orang.

Kelebihan Penghuni

Kebun Binatang Surabaya seluas 15 hektare saat ini dihuni 4.021 satwa dari 249 spesies, dari mamalia, aves, reptil, dan ikan. Jumlah satwa itu dianggap melebih batas atau overpopulasi.

Menurut Tonny, satwa yang overpopulasi terbanyak reptil dan ikan. Komodo misalnya. Dalam satu kandang dipenuhi hingga 40 ekor. Parahnya lagi, kandang komodo nyaris tidak terkena sinar matahari, sehingga mengakibatkan banyak penghuni mati.

Persoalan lain yang mengancam adalah pencurian makanan serta satwa. Pada tahun 2010, karyawan KBS diperiksa polisi karena terbukti membawa daging yang seharusnya untuk makan satwa. Kasus lain adalah hilangnya jalak Bali dan komodo pada bulan Maret dan Oktober 2011.

Untuk mengatasi persoalan overpopulasi satwa, manajemen sementara akan menempuh beberapa alternatif. Misalnya pertukaran satwa dengan kebun binatang ataupun lembaga konservasi. Cara lain, menyumbangkan atau mematikan satwa secara paksa.

Tonny menyatakan pemusnahan atau mematikan satwa bisa dibenarkan asalkan memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya satwa sudah tua dan tidak bisa berkembang biak dengan baik. Itu pun harus menunggu persetujuan lembaga lain yang memiliki kewenangan soal konservasi. ”Selama syarat itu dipenuhi, pengurangan satwa tidak masalah,” katanya.

Nasib Satwa

Pernyataan Tonny soal rencana pemusnahan, pertukaran, ataupun menyumbang satwa ke kebun binatang lain mengundang reaksi beberapa pihak. Pengamat konservasi Sinky Suwadji menduga ada modus jual-beli satwa oleh tim manajemen sementara.Patung gajah gemuk

Pengurus KBS mengklaim tahun 2006 melakukan pertukaran satwa dengan Singkawang dan Wisata Bahari. Sinky menilai pernyataan itu tidak masuk akal. Sebab, keduanya kebun binatang baru saat itu. ”Itu bohong, kalau tidak dijual. Kalau memang dijual, jujur saja, asal uangnya digunakan untuk renovasi kandang dan bukan masuk kantong pribadi,” katanya.

Seiring konflik manajemen yang terjadi sejak tahun 1996 silam, dugaan pencurian dan penjualan satwa tidak hanya dilakukan manajemen. Karyawan KBS yang merasa kesejahteraannya terabaikan akibat konflik, juga melakukan hal yang sama.

Simon (nama samaran) misalnya, yang sudah bekerja hampir 20 tahun, mengaku terpaksa mengambil daging satwa untuk dikonsumsi. Ia menyadari perbuatannya melanggar hukum, namun terpaksa karena gajinya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dia menyebutkan ada beberapa karyawan lain melakukan hal yang sama. Bahkan lebih parah, karena mengambil satwa seperti burung untuk dijual. Biasanya mereka mengambil pada sore hari menjelang pulang kerja atau pada malam hari. (bersambung)

Foto-foto: VHRmedia / Yovinus GW
Facebook   Tweet this
  • VHRmedia.com - Jl. Melati No.10, Ragunan - Jakarta Selatan