satpol,pp,penggusuran,pedagang,kaki,lima, Balita Tersiram Kuah Panas saat Penggusuran PKL VHRmedia.com

Balita Tersiram Kuah Panas saat Penggusuran PKL

11 Mei 2009 - 17:1 WIB

VHRmedia, Surabaya - Penggusuran pedagang kaki lima di Jalan Boulevard Surabaya, Senin (11/5) siang, menyebabkan korban. Horiyah (4,5 tahun) tersiram air panas kuah bakso dari gerobak yang ditabrak truk Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surabaya ketika melakukan penggusuran.
 
Horiyah saat ini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo Surabaya. Ketua Forum Pers RSUD dr Soetomo, Urip Murtedjo, mengatakan Horiyah menderita luka bakar serius dari wajah, dada, hingga kedua lengan. Luka bakar itu menyebabkan banyak kehilangan cairan pada kulit. Butuh waktu perawatan 2 hingga 3 minggu untuk memulihkan kesehatan bocah tersebut.
 
Bila sudah melewati masa kritis, Horiyah akan menjalani operasi transpantasi kulit (skin graft). “Saat ini Horiyah telah diberi bantuan cairan elektorolit. Lukanya akan dibersihkan dan diinkubasi, sebelum ditutup dengan perban,” kata Urip Murtedjo, Senin (11/5).
 
Kepolisian Sektor Genteng Surabaya saat ini memeriksa 10 personel Satpol PP yang diduga menggulingkan gerobak bakso. Polisi juga memeriksa sejumlah pedagang sebagai saksi.
 
Bunali, pemilik gerobak bakso, mengatakan Horiyah tersiram kuah panas setelah gerobaknya ditabrak truk Satpol PP dari belakang. Selain melukai Horiyah, Satpol PP juga menganiaya Sumariyah, istri Bunali.
 
Utomo Kepala Satpol PP Kota Surabaya mengaku akan bertanggung jawab dan memberikan bantuan pengobatan kepada Horiyah. “Meski siap bertanggung jawab dan memberikan sanksi kepada anggota Satpol PP yang melakukan kesalahan, kami tetap akan melanjutkan penertiban pedagang kaki lima yang menyalahi aturan,” ujarnya. (E1)

VHRmedia.com Bookmark and Share
Beri Komentar Share on Facebook Print Kirim ke Teman

5 Komentar

sayang anak @ 12 Mei 2009, pukul 13:20

suruh anak istri pamong praja untuk melihat proses pada horiyah saat penggusuran , biar mereka tau pekerjaan orang tuanya yang brutal.

Averroes Bey Rizqullah @ 19 Mei 2009, pukul 11:55

Ya ampun, saya keponakan komandan satpol PP yang ada saat itu. Para saksi yang ada itu salah besar, satpol PP akan menolong Horiyah itu. Tapi, dikira saksi anak itu ditarik2. Yang salah juga ortu Horiyah, ngapain anaknya ditaruh diatas gerobak baso... iya loh. Perlu diingat!

Bundajes @ 19 Mei 2009, pukul 12:26

Semua salah... tapi bukan berarti cara meghukum/menertipkan dengan cara kasar seperti itu. Jadi orang miskin itu sulit... kl gak diajak kerja anaknya mau di taruh di mana...? penitipan/ pembantu/Baby siter gak mungkin lah ... Yang namanya aparat harus ngasih contoh baik, mereka dibayar harus bisa sabar, bijaksana, tau apa yg musti dilakukan di lapangan. gak malah brutal. Aku yakin jika menyengsarakan orang lain pasti ada balasannya. Yaa sekarang ini Hoiriyah telah meninggal. Gantinya yaa Sang SATPOL PP yg ceroboh harus dihukum seumur hidup, biar jadi pelajaran bagi yg lain.

hartono @ 19 Mei 2009, pukul 18:27

Bubarkan Satpol PP, institusi ini sudah gak pantas exist di negara demokrasi Indonesia. Negara harus memperlakukan rakyatnya yang miskin dengan hati nurani

yusuf @ 23 September 2010, pukul 12:42

aku setuju kalo satpol pp dibubarkan karena udah membuat mata pencaharian hilang...

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail *tidak dipublikasikan
Komentar

Isikan kode disamping, refresh untuk me-reload kode.
 

 

Terkini

Warga Lereng Merapi Akan Direlokasi

15 November 2010 - 17:14 WIB


VHRMedia, Semarang – Gubernur Jawa Tengah memerintahkan Bupati Magelang, Klaten, dan Boyolali merelokasi warga yang tinggal dalam radius 5 kilometer dari puncak  Merapi. Relokasi dilakukan karena Merapi memiliki siklus erupsi lima tahunan.

Terpopuler