korupsi,perminus, Buaya di Istanaku VHRmedia.com

Buaya di Istanaku

12 November 2009 - 14:47 WIB
Ria Fitria Pryliana

Sunyi, tenang, damai, dan tentram. Indahnya suasana di istanaku. Senang rasanya aku tinggal di sini. Awan biru dan pepohonan yang hijau semakin membuat sempurna keadaan dan suasana di istanaku. Rasanya enggan melangkahkan kaki dari sini.
 
Buaya kuumpamakan sebagai salah satu anggota keluagaku. Kupelihara buaya di istanaku. Buaya milikku itu berbeda dengan buaya lainnya. Ia tidak ganas, ia pun binatang yang penurut. Ia tidak pernah menggigit, apalagi memangsa manusia. Senang sekali rasanya bila sudah menghabiskan waktu bemain bersama buayaku itu. Buaya itu menjadi pelindung bagi keluargaku. Semua tetangga takut melihat buayaku. Mereka tak tahu bahwa buayaku sangatlah baik.
 
Huft… Sayangnya itu dulu. Sekarang semuanya berubah. Keadaan di istana dan buayaku sudah tidak menyenangkan hati. Ingin rasanya aku berteriak dan kabur dari keadaan ini. Kenapa ini semua terjadi padaku?
 
Kini, buaya di istanaku menjadi liar. Ia suka menggigit, bahkan mencelakai orang banyak. Miris rasanya melihat tingkah laku buayaku ini. Awalnya aku tidak percaya. Buaya yang dulu menjadi teman bermain, sekarang berbalik menjadi musuh hati. Tingkah lakunya yang sudah banyak mencelakai orang membuatku ingin membuangnya. Kalau aku bisa, buang saja buayaku itu ke kebun binatang. Biar ia terkurung dan jera.
 
Istanaku, negeriku. Negeriku Indonesia. Istanaku ada di Indonesia. Indonesiaku sangatlah kaya. Budaya dan sumber daya buminya berlimpah. Berbagai jenis pohon dapat tumbuh di sini. Rindangnya pepohonan membuat udara yang panas menjadi sejuk. Budaya-budayanya yang indah membuat mata enggan menutup. Sungguh nyaman tinggal di negeriku, Indonesia.
 
Banyak sarana dan prasarana yang dapat dijadikan sebagai aset negara. Banyak hal bisa membuat negeriku maju dan berkembang. Semua kekayaan yang negeriku punya sangatlah berharga. Indonesiaku memiliki pelaku agar negeri ini bisa berkembang. Pelaku tersebut adalah semua warga yang tinggal di Indonesia, termasuk aku.
 
Pejabat tinggi negara, ia adalah pelaku yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan negara. Tanggung jawab pejabat negara sangatlah besar. Berkembanglah negeriku ini apabila pejabat negara dapat melakukan tugasnya dengan baik. Sebaliknya, hancurlah negeriku ini bila pejabat negara lalai dan mengabaikan tugasnya. Hampir semua warga, termasuk aku mengandalkan pejabat negara untuk memajukan negeriku ini. Keinginan untuk memajukan negara diserahkan kepada pejabat negara. Aku beserta warga negara lainnya memercayakan semua yang bersangkutan dengan perkembangan negara kepada pejabat negara.
 
Pejabat negara juga merupakan orang-orang terpilih. Mereka pilihan rakyat. Mereka semua memegang kepercayaan dari rakyat. Namun sayang, tak sedikit dari mereka yang menyalahgunakan kepercayaan rakyat. Tak sedikit juga dari mereka yang lebih mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan rakyat. Di antaranya, tak sedikit pejabat negara yang melakukan korupsi. Ujung-ujungnya rakyat dirugikan dan negeri ini pun tidak berkembang. Negeri ini tertinggal jauh dari negara berkembang lainnya.
 
Di mana rasa malu dan bersalah mereka? Di mana kepercayaan yang telah aku dan rakyat lainnya berikan? Di mana hati nurani mereka sampai mereka tega melakukan korupsi demi kepentingan pribadi? Tak disangka ada manusia berpendidikan yang tega melakukan hal itu.
 
Kini negeriku yang indah menjadi tempat bersarangnya para koruptor. Tempat bersarangnya orang-orang egois yang hanya memikirkan kepentingan pribadi. Hanya harta dan jabatan yang ada di benak mereka. Mereka tega merampas hak orang-orang miskin. Mereka tega secara tidak langsung menghancurkan negeri ini. Negeri yang kaya-raya telah tercoreng namanya di mata internasional hanya karena koruptor.
 
Sejujurnya aku malu. Malu karena aku telah memberikan kepercayaanku kepada orang yang salah. Malu karena di negeriku terindah terdapat penjahat kelas kakap yang hanya memikirkan kepentingan pribadi. Terlebih lagi, aku sangat malu, karena ternyata buayaku termasuk dalam salah satu penjahat negeri ini. Buaya yang menjadi pelidung keluargaku ternyata seorang koruptor! Buayaku seorang buronan!
 
Aku merasa bersalah karena selama ini aku telah menyembunyikan penjahat di istanaku. Aku heran pada buayaku itu. Tidakkah ia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan? Sangat malu rasanya, ada seorang penjahat di istanaku. Nama baik keluargaku tercemar. Jika mungkin, rasanya enggan kuanggap buaya itu peliharaanku, yang tak lain adalah keluargaku....
 
Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Ada buaya ganas yang sedang diincar polisi di istanaku. Haruskah aku diam? Tentu tidak! Tugasku sebagai warga negara yang bertanggung jawab adalah menyerahkannya. Aku harus berkorban untuk negeri ini walau keutuhan keluargaku menjadi taruhannya. Aku tidak boleh seperti buaya, mementingkan kepentingan pribadi dan negeri menjadi taruhannya. Aku tidak boleh egois.
 
Harta dan jabatan menjadi incaran sang koruptor, yang tak lain adalah buayaku sendiri. Buayaku memberikan kehidupan materi bagiku dan keluargaku. Kemewahan berada di sekelilingku. Awalnya aku bahagia dan bersyukur karena aku hidup berkecukupan. Namun itu dulu. Sekarang aku tahu bahwa kemewahan yang ada di sekelilingku adalah milik orang lain. Milik orang lain yang telah buayaku rampas.
 
Bagaimana aku bisa hidup tenang, jika aku bahagia dengan apa yang bukan milikku? Di satu sisi hidupku berkecukupan, tapi di sisi lain banyak orang yang haknya telah buayaku rampas dan akhirnya mereka hidup sengsara. Bahkan di antara mereka ada yang kesulitan mencari sesuap nasi. Aku tidak bisa hidup seperti ini. Buat apa aku menikmati kemewahan yang haram?
 
Wahai buayaku… Mengapa engkau tega melakukan ini semua? Tidakkah kau berpikir sewaktu melakukan korupsi? Di mana imanmu? Di mana akal sehat dan perasaanmu? Tidakkah kau takut pada balasan di akhirat kelak?
 
Aku memang sayang pada buayaku. Tapi maafkan aku.... Aku tidak bisa hidup di atas penderitaan orang. Walaupun engkau keluargaku, tapi engkau tetap harus dihukum. Aku harus menyerahkanmu pada pihak berwajib. Maafkan aku, buayaku.
 
Sesungguhnya korupsi dan pelakunya harus diberantas. Buaya ganas di istanaku itu juga harus dibasmi. Negeriku ini harus diselamatkan. Negeri yang kaya dan indah ini tidak boleh jatuh hanya karena tindak korupsi.
 
Penjarakan saja para pelaku korupsi, termasuk buayaku itu. Hukum ia seberat-beratnya. Buang buaya di istanaku itu. Kurung buayaku itu! Buaya yang sudah membunuh nasib orang banyak harus dihukum. Sepenting-pentingnya buaya itu bagi keluargaku, ia tetaplah seorang penjahat.
 
Polisi!! Petugas KPK!! Salah satu buronan negeri yang kalian cari ada di istanaku!! Selamatkan negeri ini.... Tangkap dia! Negeri ini harus bisa maju.
 
Negeriku yang indah ini pasti bisa berkembang seperti negara lainnya. Saadarlah para koruptor! Sadarlah buayaku! Buat apa hidup bahagia hanya di dunia saja? Buat apa hidup dengan harta yang haram? Takutlah kalian pada hari pembalasan di akhirat kelak! Segeralah bertobat!
 
Wahai pejabat negara, tolong jaga kepercayaanku dan warga lainnya. Bangkitkan negeri ini! Bertanggungjawablah! Alangkah bahagia dan bangganya jika negeri tercinta ini dipenuhi orang-orang yang jujur. Wahai petugas KPK, berantaslah terus tindak korupsi di negeri ini. Jangan pandang umur, kedudukan, dan jabatan dalam memberantas korupsi. Koruptor adalah penjahat paling jahat dari penjahat yang ada. Selamatkan negeri ini dari orang-orang tak bertanggung jawab, seperti koruptor. Wahai buayaku, sekali lagi maafkan aku karena tidak bisa memihakmu. Bagiku, penjahat tetaplah penjahat. Koruptor tetaplah koruptor. ■
 
Penulis adalah Ria Fitria Pryliana, siswi SMAN 5 Bandung kelas XII-C.
 
“Buaya di Istanaku” merupakan satu dari sepuluh pemenang pendamping "Lomba Menulis Anti Korupsi Tingkat SMA" yang diselenggarakan sejak Juli sampai September 2009 sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pementasan teater Ladang Perminus dan workshop guru di Bandung dan Jawa Barat. Diselenggarakan atas kerjasama antara Indonesia Corruption Watch (ICW), Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Perkumpulan Praxis, Mainteater Bandung, dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

VHRmedia.com Bookmark and Share
Beri Komentar Share on Facebook Print Kirim ke Teman

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail *tidak dipublikasikan
Komentar

Isikan kode disamping, refresh untuk me-reload kode.
 

 

Terkini

Tikus Pengerat Rakyat

16 November 2009 - 13:33 WIB

Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekadar suatu kebiasaan. Dalam seluruh penelitian perbandingan tingkat korupsi antarnegara, Indonesia selalu menempati posisi paling tinggi. Indonesia dipersepsikan sebagai negara terkorup di Asia, disusul Thailand. Sementara itu Singapura dianggap sebagai negara paling bebas dari korupsi alias tebersih soal urusan korupsi. Demikian pengumuman sebuah perusahaan konsultan yang bermarkas di Hongkong.