lesbian,cinta,sejenis, Cinta Martini Berakhir di Bui VHRmedia.com

Asmara Sejenis (1): Cinta Martini Berakhir di Bui

(en) 30 Juni 2009 - 11:31 WIB

MartiniSeorang perempuan "menjadi" laki-laki. Impian menikahi kekasih berantakan.
 
“MEREKA bukan penjahat, hanya tersesat. Belum terlambat untuk bertobat. Kalimat itu terpampang di baliho berukuran setengah meter di depan ruang pemeriksaan Lembaga Pemasyarakatan Blora, Jawa Tengah. Seorang perempuan berambut cepak berkemeja kotak-kotak biru dan celana jins kutung ogah-ogahan menuturkan kisahnya hingga terdampar di satu-satunya LP di Kabupaten Blora ini.
 
“Tak pernah terbayangkan akan menjadi seperti ini,” dia mulai bercerita. “Aku hanya mencintai dia dan ingin menikahi dia. Apa aku salah, hanya karena aku juga seorang perempuan?”
 
Martini, nama asli perempuan berusia 26 tahun ini. Dalam keseharian dia lebih dikenal sebagai Rega alias Martin. Gaya Martini dengan potongan rambut cepaknya memang bisa menipu orang yang melihat. Namun jika mendengar suaranya dan melihat dadanya yang membusung orang segera tahu Martin perempuan.
 
“Sudah dari kecil aku begini. Dan sepertinya tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Meski kedua orang tua dan saudara-saudara sering menasihatiku. Tapi entahlah, kesenanganku bergaya laki-laki seperti tak terkendali. Apalagi setelah aku tamat sekolah dasar,” ujar Martini sendu.
 
Martini yang terlahir dari pasangan miskin di Desa Jepon Blora, Jawa Tengah, harus berjuang hidup untuk membantu orang tua yang hanya pencari kayu bakar dengan penghasilan jauh dari cukup.
 
Kerja keras sejak kecil itulah yang membentuk Martini semakin menjadi “laki-laki”. Martini yang saat itu masih 12 tahun harus membantu mencari kayu, menjadi kuli bangunan, bahkan pernah  menjadi pemanggul kayu di perusahaan mebel. Sejalan dengan itu kejiwaan Martini pun menyerupai laki-laki. Di masa pubernya tidak ada satu pun lelaki yang memikatnya. Martini justru tertarik pada perempuan.
 
“Jika masih di desa, orang tahu aku perempuan. Jadi, kuputuskan merantau ke Surabaya. Di sana aku merasa merdeka untuk menjadi laki-laki sejati. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menipu. Aku tidak pernah bilang aku laki-laki. Tapi mereka yang selalu mengira aku laki-laki setelah aku memacari mereka,” ucapnya.
 
Dari sekian banyak  gadis yang pernah dekat dengannya, Martini mengaku hanya Dinda, nama samaran, yang membuat dia jatuh hati. Hubungan mereka direstui kedua orang tua Dinda dan mendukung penuh kehadiran Martini sebagai calon menantu.
 
“Beberapa bulan setelah kami pacaran, aku mulai tinggal serumah dengan Dinda dan orang tuanya. Selama dua bulan di sana kami seperti pengantin baru. Tak terpisahkan. Aku tak lagi kerja. Semua ditanggung orang tua Dinda,” ungkap Martini sambil sesekali menutup muka seperti ingin melupakan masa lalu.
 
Martini mengakuinya,  kepada Dinda dan orang tuanya, dia tak pernah menyebut dirinya laki-laki. Bahkan ketika tetangga kampungnya sengaja datang ke rumah Dinda di Tunjungan, Blora, untuk memberitahukan keperempuanan Martini tidak ditanggapi oleh Dinda dan keluarganya. Bahkan orang tua Dinda merencanakan menikahkan keduanya.
 
“Di satu sisi aku senang dengan rencana pernikahan itu, tapi  sisi  lain aku juga bingung. Untuk menikah membutuhkan berbagai surat untuk melengkapi administrasi, sementara aku tidak memiliki keberanian untuk mengurus surat-surat tersebut, karena aku perempuan,” ujar Martini lirih .
 
Dua hari menjelang resepsi pernikahan Martin menghilang. Dia hanya mengirim pesan pendek kepada paman Dinda untuk meminta maaf tidak dapat menikah karena tidak memiliki surat-surat.
 
Seluruh keluarga Dinda gempar. Kebenaran atas keperempuanan Martini makin terkuak. Undangan pernikahan yang telah diedarkan segera ditarik oleh keluarga Dinda. Kursi yang telanjur disewa dibiarkan menumpuk di halaman rumah yang sudah ramai kehadiran kerabat.
 
Sehari menjelang hari pernikahan yang dijadwalkan, Martini menerima pesan singkat dari paman Dinda yang menginginkan dia datang serta berjanji memberikan solusi terbaik bagi keduanya. Dengan hati berbunga hati Martini bergegas datang. (bersambung)
 
Foto: VHRmedia/Andhika Puspita Dewi

Beri Komentar Share on Facebook Print Kirim ke Teman

1 Komentar

no name @ 7 Juli 2009, pukul 13:40

Masalah hukumnya adalah pemalsuan identitas, bukan orientasi seksualnya..
itu yang harus kita pahami..

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail *tidak dipublikasikan
Komentar

Isikan kode disamping, refresh untuk me-reload kode.
 

 

Terkini

Waranggana Penjaga Martabat Tayub

31 Agustus 2010 - 11:8 WIB


Waranggana dituntut menjaga dan mengembalikan tayub dari pandangan buruk. Selama 23 tahun Musrini memilih jalan ini.

Terpopuler