Peringatan Hari HAM Cuek Bukan Berarti Nggak Peduli
Kurniawan Tri Yunanto
Dalam setiap revolusi, generasi muda pasti punya andil utama. Bicara tentang kaum muda, berarti bicara tentang generasi bersemangat tinggi dan pantang menyerah.Lantas, bagaimana anak muda sekarang ‘mengeja’ hak asasi manusia? Bagaimana mereka memamah teori persamaan dan keadilan itu dalam realitas sosial?
Sekilas pandangan mereka terlihat dalam acara puncak peringatan Hari HAM Internasional di pelataran Taman Ismail Marzuki, 12 Desember lalu. Tanpa melepas identitas sebagai anak muda nan gaul, mereka bercerita soal mimpi hak dasar manusia.
Konsep acara ini dibungkus sangat anak muda. Panggung yang tak pernah kosong diisi penampilan disc jockey dan band-band musik ingar bingar, sampai pojok sablon tempat beberapa pemuda menggurat cat dipertemukan dalam satu bahasa hak asasi manusia.
Konsep acara ini dibungkus sangat anak muda. Panggung yang tak pernah kosong diisi penampilan disc jockey dan band-band musik ingar bingar, sampai pojok sablon tempat beberapa pemuda menggurat cat dipertemukan dalam satu bahasa hak asasi manusia.
“HAM itu enjoy. Yang penting nggak brutal,” kata Fajar Shodiq, remaja tanggung yang datang dari Jatinegara. Fajar mengaku mampu hidup mandiri dan memilih kabur dari rumah. ”Biasalah, masalah keluarga. Tapi, saya jadi bisa mengekspresikan apa yang saya mau seperti dia,” sambil menunjuk salah seorang personel band pengisi acara yang sedang berteriak sangar diatas panggung.
Meski diganggu rintik hujan sore itu, para pengunjung cuek dan tetap menikmati performance pengisi acara, DJ Rentjonk dan Rha Rha Rha. Lirik yang disuarakan grup musik ini, mengutamakan spontanitas meski terkesan ngasal. “Improvisasi aksi, arti dari semua. Respect,”
teriak Andi Tijel, vokalis DJ Rentjonk.
Suasana nyeleneh yang terkesan semau gue, kental terasa dalam acara ini. Dengan gaya cuek, Congor, vokalis Racun Kota menceritakan fenomena sosial yang ditemui disekitarnya disela-sela lagu.
Meski diganggu rintik hujan sore itu, para pengunjung cuek dan tetap menikmati performance pengisi acara, DJ Rentjonk dan Rha Rha Rha. Lirik yang disuarakan grup musik ini, mengutamakan spontanitas meski terkesan ngasal. “Improvisasi aksi, arti dari semua. Respect,”
teriak Andi Tijel, vokalis DJ Rentjonk.
Suasana nyeleneh yang terkesan semau gue, kental terasa dalam acara ini. Dengan gaya cuek, Congor, vokalis Racun Kota menceritakan fenomena sosial yang ditemui disekitarnya disela-sela lagu.
”Kemarin saya lihat seorang ibu diserempet motor RX King, si raja jalanan. Hati-hatilah dengan RX King yang ugal-ugalan. Setelah saya tahu, ternyata si ibu itu seorang copet,” kata Congor yang disambut ketawa girang para pengunjung.
Tapi bukan berarti acara ini tidak memberi ruang bagi band-band yang memiliki lirik serius yang bersisi kritik pedas. Technoshit, Jembatan Menuju Respect dan Kritis Berbeda, punya ‘tempat’ sendiri disini.
Tapi bukan berarti acara ini tidak memberi ruang bagi band-band yang memiliki lirik serius yang bersisi kritik pedas. Technoshit, Jembatan Menuju Respect dan Kritis Berbeda, punya ‘tempat’ sendiri disini.Isu antidiskriminasi gender, politik adu domba hingga empati terhadap penyapu jalan, tak luput disuarakan oleh Technoshit, grup musik asal Yogyakarta.
Lirik yang menggugah, disertai aksi panggung penuh energi perlawanan membakar semangat penonton. Ini cara anak muda membagi ide alternatif. “Karena yang kami semangati adalah publik. Kita harus bisa memberikan referensi ke publik,” kata Sigid, vokalis Technoshit.
Menurut Sigit, generasi muda saat ini cenderung mengedepankan budaya konsumtif. Birokrasi kampus yang berbelit, menggeser wacana kritis yang digadang kelompok studi mahasiswa. Pemuda kehilangan ruang berekspresi.
Lirik yang menggugah, disertai aksi panggung penuh energi perlawanan membakar semangat penonton. Ini cara anak muda membagi ide alternatif. “Karena yang kami semangati adalah publik. Kita harus bisa memberikan referensi ke publik,” kata Sigid, vokalis Technoshit.
Menurut Sigit, generasi muda saat ini cenderung mengedepankan budaya konsumtif. Birokrasi kampus yang berbelit, menggeser wacana kritis yang digadang kelompok studi mahasiswa. Pemuda kehilangan ruang berekspresi.
Bagaimana menggugah pemuda agar lebih kritis? “Harus saling menghargai. Dengan menghargai, kita bisa memanusiakan manusia,” ujar Sigit.
Melalui acara puncak peringatan Hari HAM Internasional yang digagas oleh Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (Elsam) ini, anak muda diajak untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri. Mereka digendeng menyuarakan kepentingan publik, sebab orang lain juga memiliki hak yang sama dengan hak pribadi.
Melalui acara puncak peringatan Hari HAM Internasional yang digagas oleh Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (Elsam) ini, anak muda diajak untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri. Mereka digendeng menyuarakan kepentingan publik, sebab orang lain juga memiliki hak yang sama dengan hak pribadi.
Hak asasi manusia, adalah hak yang melekat sejak lahir tanpa mengenal warna kulit, maupun jenis kelamin. Seperti diungkapkan Ade Rosita, perempuan 72 tahun yang sudah 40 tahun bergelut di bidang kemanusiaan. “Perjuangan HAM tidak berhenti di usia berapapun. Itu perjuangan seumur hidup. Sepanjang masih mampu, mari kita lakukan.” (*)
Berikan Komentar Anda
Terkini
Membangun “Negara” Antidiskriminasi
Satu pertanyaan besar muncul, mengapa laki-laki sulit menerima perempuan sejajar dengannya?


