korupsi,hutan,bakau,perminus, Hutan Bakau, Target Korupsi Selanjutnya VHRmedia.com

Hutan Bakau, Target Korupsi Selanjutnya

28 Oktober 2009 - 11:29 WIB
Pawitra Lintang Andayani

Korupsi adalah tindakan mengambil atau menerima keuntungan bagi diri sendiri yang tidak sah secara hukum, dikarenakan individu tersebut mempunyai otoritas dan kekuasaan. Siapa yang tak mengenal daftar panjang kasus korupsi di Indonesia? Mantan presiden, jaksa dan hakim, anggota MPR, anggota DPR, anggota DPRD, polisi, BUMN, bahkan pihak swasta, tak ada yang terlepas dari tindak korupsi. Apa yang menjadi obyeknya? Anggaran pendidikan, anggaran pembangunan, dana reboisasi, dana BLBI, serta APBD. Semuanya tak luput dari ‘cengkeraman’ koruptor.
 
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati, yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU No. 41 Tahun 1999). Bagaimana dengan hutan bakau? Hutan bakau merupakan salah satu bentuk ekosistem hutan yang unik dan khas, banyak terdapat di daerah pasang-surut pesisir, pantai, dan pulau-pulau kecil. Apakah keistimewaan hutan bakau? Hutan ini memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi. Namun apa yang akan terjadi ketika tangan-tangan koruptor mulai ‘memainkan’ skenario mereka di lahan ini?
 
Seberapa istimewakah hutan bakau? Fungsi hutan bakau antara lain: 1) Habitat satwa langka. Hutan bakau sering menjadi habitat berjenis-jenis satwa. Lebih dari seratus jenis burung hidup di sini, dan daratan lumpur luas yang berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai migran. 2) Pelindung dari bencana. Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian, atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi. Apabila terjadi bencana gelombang tsunami, dampak yang ditimbulkannya tidak akan separah yang terjadi di Aceh. Menurut informasi, 50% kekuatan empasan gelombang dapat diredam oleh hutan mangrove. 3)Tempat pemijahan berbagai jenis ikan.Keberadaan hutan mangrove di tepi pantai sangat disukai ikan kecil, kepiting, dan udang untuk berlindung, karena gelombang di bawah tegakan hutan bakau relatif tenang. Keberadaan biota tersebut juga didukung banyaknya plankton. 4) Menjaga kelestarian terumbu karang.Terumbu karang sangat berguna untuk tempat berlindung beraneka ragam binatang air serta berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata alam. 5)Mencegah abrasi dan erosi pantai.Keutuhan pantai dapat terjaga dan menghindari penurunan luasan pantai secara drastis. 6) Pengendapan lumpur. Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut sering kali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif. Kehadiran ekosistem bakau di wilayah pesisir sangat besar manfaatnya bagi ekosistem lain yang berada di dekatnya, seperti padang lamun (seagrass), rumput laut (seaweeds), dan terumbu karang (coral reef). Sebagai contoh, limbah padat maupun cair serta sedimen yang berasal dari muara sungai dan terbawa melalui aliran sungai terlebih dahulu disaring di kawasan bakau oleh akar-akarnya yang berfungsi sebagai perangkap sebelum masuk ke laut di mana terdapat ekosistem-ekosistem tadi.
 
Indonesia, yang sebenarnya mempunyai hutan bakau terluas di dunia, kini mengalami proses deforestasi ekstrim. Dari 8,6 juta hektar hutan bakau di tahun 1986, kini hanya tersisa kurang dari 2 juta hektar. Hal ini terjadi tak hanya karena perilaku penduduk sekitar yang kurang menghargai dan kurang mampu memaknai fungsi sebenarnya dari hutan bakau, namun juga dikarenakan beberapa kasus korupsi yang ‘menyerempet’ hutan bakau. Alih fungsi, penggusuran, serta penggelapan dana konservasi hutan bakau oleh pejabat-pejabat tinggi pemerintah menjadi penyebab lainnya. Seakan tak cukup mencuri uang anggaran negara, para koruptor mulai melirik ‘bisnis’ hutan bakau. Alih-alih menjaga kelangsungan dan keseimbangan lingkungan hidup, para pejabat tersebut sudah terlanjur gelap mata melihat sejumlah uang yang dijanjikan mitranya. Kasus korupsi yang terakhir sering dibicarakan adalah tentang pengalihfungsian sekitar 600 hektar hutan bakau untuk pembangunan pelabuhan di Tanjung Siapi-Api, Sumatera Selatan. Dalam kasus ini ditahan setidaknya dua orang, yaitu Al-Amin Nur Nasution yang merupakan anggota Komisi IV DPR, serta Sekretaris Daerah Bintan Azirwan.
 
Apa yang akan terjadi jika korupsi terus dibiarkan ‘mengerogoti’ hutan bakau? Tentu saja sejumlah besar manfaat yang dihasilkan dari fungsi hutan bakau akan hilang. 1) Ketika jumlah hutan bakau berkurang, maka dampak abrasi air laut yang dirasakan akan lebih kuat. Hutan bakau sendiri akan lebih mudah rusak karena abrasi yang terlalu kuat. Alur-alur pantai akan terkikis dan garis pantai menyempit, permukaan air laut semakin mendekati permukiman masyarakat pesisir.
 
Sedangkan kita tahu bahwa es di Kutub Utara dan Kutub Selatan terus mencair.Tak sadarkah para pejabat itu bahwa perbuatan mereka akan menenggelamkan negara mereka sendiri? 2) Biota laut yang biasanya berlindung di balik akar-akar tanaman bakau akan terusik dan kehilangan ekosistem. Mulai dari sana, keseimbangan ekosistem akan terganggu. Selain itu, hutan bakau yang juga biasanya difungsikan sebagai tambak ikan dan udang akan kehilangan fungsinya. Para nelayan akan kehilangan salah satu mata pencahariannya. 3) Permukiman masyarakat pesisir akan kehilangan perisai. Sehingga ketika terjadi badai, ombak besar, atau bahkan yang lebih parah, tsunami, kecelakaan dengan risiko buruk sangat mungkin terjadi. 4) Penyerapan zat beracun pada air akan sangat berkurang. Padahal, pada zaman globalisasi ini, terdapat semakin banyak industri, yang sayangnya tak mampu (atau tak mau) memanfaatkan teknologi yang sudah maju untuk menangani masalah limbah pabrik. Sehingga kemungkinan pencemaran air oleh limbah pabrik akan semakin besar. Jika kemungkinan ini terjadi, sedangkan hutan bakau mulai habis, maka kehidupan laut atau air akan terancam. Jika ikan, udang, serta biota lain yang sedianya merupakan konsumsi manusia mati, bagaimana manusia dapat makan dan hidup? 5) Mungkin orang-orang belum pernah mendengar hutan bakau sebagai tempat rekreasi, wisata, dan sarana pembelajaran.Namun ketika hutan bakau habis dan rusak, maka fungsi tersebut akan hilang juga. Takkan ada lagi orang yang menjadikan hutan bakau sebagai tempat wisata dan tak ada lagi kunjungan pembelajaran hutan bakau. Maka daya tarik dan (mungkin saja) alternatif mata pencaharian masyarakat pesisir akan hilang.
 
Dan ketika masyarakat pesisir telah kehilangan sebagian mata pencahariannya, akan timbul masalah baru. Mereka mungkin saja pergi ke kota berupaya mencari pekerjaan, karena tak ada yang tersisa di tempat tinggal mereka. Hal ini kemudian akan merambat menjadi masalah pengangguran dan kemiskinan. Kota-kota yang mereka datangi akan semakin penuh dan semua orang berebut pekerjaan. Di setiap sudut kota akan ada segerombolan orang yang bermimpi mendapatkan pekerjaan di kota, namun tak ada yang dapat mereka lakukan. Bukan tak mungkin hal ini kemudian berkembang menjadi masalah kriminal. Mereka yang putus asa mungkin akan mencoba bidang baru: kriminalitas.
 
Inikah masa depan Indonesia yang hendak dibangun para pejabat teras Indonesia? Haruskah hak warga direbut dan pada saat yang sama lingkungan dirusak? Penyelidikan yang tuntas serta hukum yang tegas sangat diperlukan untuk menindak kasus korupsi. Korupsi tidak dapat dikompromikan. Jika saja para pejabat tinggi kita dapat berpikir panjang dan memerhatikan semua nasib masyarakat Indonesia, bukannya berusaha memakmurkan diri sendiri, pasti Indonesia dapat terbebas dari korupsi, dan semua rakyat dapat hidup sejahtera seiring dengan lingkungan yang berjalan seimbang. Jangan sampai korupsi mengambil hak warga dan juga merusak lingkungan kita!
 
Penulis adalah Pawitra Lintang A., siswi SMAN 5 Bandung.
 
“Hutan Bakau, Target Korupsi Selanjutnya” merupakan pemenang ketiga "Lomba Menulis Anti Korupsi Tingkat SMA" yang diselenggarakan sejak Juli sampai September 2009 sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pementasan teater Ladang Perminus dan workshop guru di Bandung dan Jawa Barat. Diselenggarakan atas kerjasama antara Indonesia Corruption Watch (ICW), Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Perkumpulan Praxis, Mainteater Bandung, dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

VHRmedia.com Bookmark and Share
Beri Komentar Share on Facebook Print Kirim ke Teman

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail *tidak dipublikasikan
Komentar

Isikan kode disamping, refresh untuk me-reload kode.
 

 

Terkini

Tikus Pengerat Rakyat

16 November 2009 - 13:33 WIB

Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekadar suatu kebiasaan. Dalam seluruh penelitian perbandingan tingkat korupsi antarnegara, Indonesia selalu menempati posisi paling tinggi. Indonesia dipersepsikan sebagai negara terkorup di Asia, disusul Thailand. Sementara itu Singapura dianggap sebagai negara paling bebas dari korupsi alias tebersih soal urusan korupsi. Demikian pengumuman sebuah perusahaan konsultan yang bermarkas di Hongkong.