Voice of Human Rights News Center

English English 22 Maret 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Artikel

Untuk Obama dan Solana: Salam Lapar dari Diouf, Nobunkwe, Farouk dan Sarta

Yolanda DD

Keserakahan manusia tidak ada batas sedangkan perut manusia ada batasnya. Ketika perekonomian dunia runtuh, krisis pangan tetap tidak tersentuh dan semakin terpuruk. Semua hanya karena krisis keuangan tersebut terjadi di "pusat" perekonomian dunia, seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Sementara, krisis pangan, hanya terjadi di "pinggir" dunia seperti Afrika dan negara-negara dunia ketiga lainnya. Pelaku pasar tetap saja bar-bar.

 

 

Pasar Bebas + Keserakahan = Bom Waktu

Awal 2000, pada masa kepemimpinan George W. Bush, kredit konsumtif dan produktif di AS mengalir dengan mudah. Setiap aplikasi pengajuan kredit disetujui oleh bank. Bahkan, aplikasi kreditor dengan kemampuan bayar yang diragukan pun disetujui. Hal ini terlihat pada pasar properti di AS. Para agen properti menawarkan rumah beserta kreditnya dengan harga sangat murah. Ini disebabkan oleh rendahnya tingkat suku bunga yang ditetapkan The Fed, yaitu 1%, yang berarti harga uang murah dan kredit mudah didapat.  Bank-bank pun mulai meminjamkan uang ke banyak orang. Termasuk kepada orang-orang yang tidak mempunyai situasi keuangan yang stabil. Tanpa menggunakan prinsip kehati-hatian, bank investasi memberikan kredit hutang tanpa pandang bulu. Menurut Mortgage Bankers Association di Washington, total kapitalisasi surat hutang di pasar perumahan AS mencapai US$ 6 triliun.

 

Di sinilah ‘keajaiban' sistem keuangan a la kapitalisme terjadi: Hutang juga termasuk instrumen investasi. Hutang hipotek tadi dapat dijaminkan untuk mendapatkan hutang lain. Jaminan hutang tersebut pun dapat dijaminkan lagi untuk mendapatkan hutang lain, termasuk dari perusahaan-perusahaan sekuritas seperti Lehmann Brothers Holdings Inc.  Praktek jamin-menjaminkan hutang adalah tindak yang wajar dalam sistem keuangan kapital. Hal ini akan baik-baik saja, selama pihak pertama yang berhutang, dalam hal ini pembeli properti dengan hipotek, masih memiliki kemampuan untuk membayar.

 

Lalu, para bankir dan manajer investasi tersebut memecah hutang, entah yang jelek atau bagus, menjadi blok-blok kecil hutang. Lantas, mereka mencampur dan memoles blok hutang yang jelek dengan yang bagus. Untuk menyamarkannya, mereka meminta perusahaan pemeringkat hutang, seperti Moody's, untuk menilai hutang campuran yang akan dijaminkan tersebut. Layaknya film Hollywood-biasanya happy ending-hutang yang sudah dipoles tersebut akan mendapat peringkat AAA. Artinya, hutang tersebut akan dapat dibayar tepat waktu.

 

Hutang campuran itu pun dijaminkan ke mana-mana, lintas lembaga keuangan dan lintas negara, melampaui Wall Street di AS menjalar ke pasar Eropa dan Asia. Perusahaan-perusahaan asuransi raksasa, seperti American International Group (AIG), membeli hutang tersebut guna menginvestasikan premi nasabah-nasabahnya yang menggantungkan dana pensiun mereka atau dana pendidikan anak mereka pada perusahaan asuransi tersebut. Perusahaan-perusahaan reksadana besar (mutual fund) pun ikutan membeli hutang campuran tersebut. Termasuk bank-bank investasi dan bank-bank umum akan membelinya sebagai instrumen investasi turunan (derivative).

 

Selain krisis hipotek, APBN AS mengalami defisit ganda akibat perang di Irak dan Afghanistan. Biaya perang dan rentetan akibatnya yang harus dipikul Amerika, belum Inggris, Italia, dan lain-lain, tidak kurang dari US$ 3 triliun atau US$ 400 ribu per tentara (Stiglitz, 2008). Jauh melebihi biaya perang Vietnam yang menghabiskan US$ 100 ribu per tentara.

 

Padahal, banyak cadangan devisa negara lain disimpan dalam bentuk US$. Negara-negara ini, disadari atau tidak, ikut menanggung hutang jelek dan biaya perang Irak dan Afghanistan. Kampanye Bush melawan teror disokong para investor dan negara-negara tersebut, bukan hanya pajak rakyat AS. Indonesia sendiri ikut menanggungnya. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2008 sekitar US$ 51 miliar, turun sekitar US$ 7 miliar dibandingkan September 2008 yang mencapai US$ 57 miliar atau mengalami penurunan paling tajam sepanjang 2008.

 

Layaknya balon, makin lama ditiup, makin keras bunyinya ketika pecah. Pelaku pasar meniupkan berita mengenai betapa bagusnya hutang-hutang yang mereka beli. Pasar bergairah, mengira semua akan baik-baik saja. Bahwa, perekonomian dunia memiliki pondasi yang kokoh. Perkiraan-perkiraan yang optimis dirilis oleh berbagai lembaga keuangan di seluruh dunia. Balon semakin membesar, bom waktu menunggu saat meledak. Padahal The Fed telah mengintip pecahnya balon ini dengan menaikkan secara bertahap tingkat suku bunganya. Sejak Juni 2004, The Fed telah mengkampanyekan rangkaian kenaikan suku bunga 25 basis poin dalam rangka melawan inflasi. Sebelum rangkaian kenaikan itu, suku bunga AS mencapai level terendah dalam 45 tahun terakhir yakni sebesar 1 persen. Dengan rangkaian kenaikan yang telah berlangsung sebanyak 17 kali, suku bunga AS pada pertengahan 2006 mencapai 5,25 persen. Kini, The Fed menurunkan kembali suku bunga pasar sebesar 1,0 persen untuk mengurangi krisis kredit macet di Amerika.

 

Semua usaha itu sia-sia. Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Sepintar-pintarnya menyamarkan hutang jelek, polesannya akan luntur juga. Sejak awal 2000-an pun, pekerjaan-pekerjaan kerah putih di AS banyak di-outsource ke India dan China (Friedman, 2006). Artinya, kelas menengah di AS sedang digerogoti lapangan pekerjaannya. Dapat diduga, mereka kehilangan pekerjaan dan tak memiliki uang untuk membayar hutang hipotek rumah mereka.

 

Perekonomian AS pun limbung. Namun, Bush masih berkeras bahwa pondasi perekonomian AS kokoh. Duar! Balon pun pecah, krisis sub-prime mortgage dimulai, begitu awam mengenalnya. Pecahnya balon perekonomian mengagetkan pelaku-pelaku pasar di AS dan negara-negara Uni Eropa dan Asia. Hutang-hutang tak dapat dibayar, kredit macet. Pasar saham berguguran di seluruh dunia termasuk Indonesia, begitu juga dengan instrumen turunannya. Mereka berhamburan keluar dari pasar saham bersama modal mereka. Di Indonesia kejatuhan IHSG yang pada penutupan Oktober 2008 merupakan nilai yang sama di tahun 2000. Merosotnya IHSG yang mencapai angka 6,96% adalah penurunan tertinggi untuk kawasan Asia. Kecuali Bursa Filipina yang mencapai 12%.

 

Perusahaan-perusahaan memangkas proyeksi keuntungan mereka. Akibat pelemahan ekonomi global, Yahoo menurunkan target pendapatan pada akhir tahun 2008, yakni menjadi US$ 7,18 miliar - US$ 7,38 miliar, turun dari perkiraan semula US$ 7,35 miliar - US$7,85 miliar pada tiga bulan lalu. PHK di depan mata. Perusahaan besar seperti Yahoo mengurangi pekerjanya di seluruh dunia untuk memangkas biaya operasional.

 

Para nasabah meradang. Angka bunuh diri meningkat. Karthik Rajaram, seorang manajer keuangan menembak mati lima anggota keluarganya. Lalu, Rajaram pun menembak dirinya sendiri. Rajaram, pelaku penembakan sudah menganggur selama berbulan-bulan. Dalam surat yang ditulisnya, dia berniat membunuh seluruh keluarganya setelah krisis keuangan di Wall Street membuatnya kehilangan semua simpanannya yang tersisa. Seminggu sebelum peristiwa tersebut terjadi, seorang perempuan lansia berusia 90 tahun di Ohio, juga bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri setelah terancam diusir dari rumah yang sudah dihuninya selama 38 tahun.

 

Laporan-laporan kerugian kuartalan terus terjadi. Akibat krisis hipotek subprime tersebut, AIG mengalami kerugian hingga US$ 24,47 miliar pada kuartal III-2008. Kerugian itu terutama disebabkan adanya hapus buku atas investasi-investasinya. Pemerintah AS pun berusaha menyelamatkan AIG dengan cara menyuntikkan dana sebesar US$ 85 miliar pada awal November 2008. Namun, dana talangan tersebut tak banyak membantu. Pemerintah AS pun menambah lagi dana talangan kedua sebesar US$ 150 Miliar.

 

Tidak hanya di AS, UBS AG, bank terbesar di Zurich, Swiss melaporkan kerugian sebesar 12 miliar franc (US$ 11,4 miliar) di triwulan pertama. Sedangkan, Credit Suisse Group, bank terbesar kedua di Switzerland, dan Deutsche Bank AG, terbesar di Jerman, telah melaporkan rugi tiga bulanan untuk pertama kalinya dalam lima tahun pada triwulan yang berakhir Maret lalu. Credit Suisse mencatatkan rugi 2,15 miliar franc setelah penghapus bukuan  (write down) 5,3 miliar franc, sementara Deutsche Bank rugi 131 juta euro (US$204 juta) setelah writedown 2,7 miliar euro. Puncaknya, Lehmann Brothers, salah satu raksasa bank investasi AS, dinyatakan bangkrut. Lehmann melaporkan kerugian kuartal ketiga sebesar 3,9 miliar US$. Dunia pun masuk masa stagflasi.

 

Sinterklas Pasar

Bahkan hingga titik ini, Bush masih mengatakan bahwa perekonomian AS baik-baik saja. Layaknya Sinterklas pasar, Bush memberi insentif 200 miliar US$ untuk menalangi kredit bermasalah pada awal 2007. Belakangan, setelah banyak perusahaan melaporkan kerugian mereka akibat hutang campuran tadi, dana tersebut dinilai terlalu sedikit. Krisis terlanjur menjalar ke Eropa dan Asia. Kongres AS menyetujui dana talangan (bail-out) 700 milyar US$ pada awal Oktober 2008 lengkap dengan skema penjaminan simpanan dan hutang. Dana senilai US $ 700 miliar tersebut akan digunakan untuk membeli surat utang terkait subprime mortgage-kredit perumahan yang skema pinjamannya telah dimodifikasi sehingga mempermudah kepemilikan rumah.

 

Negara-negara Eropa pun mulai panik. Kepala-kepala negara berkumpul di Paris pada 4 Oktober (KTT Paris), berupaya secara bersama menangani krisis keuangan global ini. Kanselir Jerman Angela Merkel menyetujui dana talangan 675 juta US$ (Associated Press, 2008). Perancis menyuntikkan dana sebesar US$ 14 miliar ke enam bank terbesar di negara tersebut. Kucuran dana itu untuk mendukung penyediaan modal bisnis kredit konsumen. Adapun enam bank yang mendapat suntikan dana dari Pemerintah Prancis adalah Credit Agricole (3 miliar Euro), BNP Paribas (2,55 miliar euro), Societe Generale (1,7 miliar euro), Caisse d'Epargne (1,1 miliarEuro), dan untuk merger Caisse d'Epargne's dengan Banque Populaire sebesar 950 juta euro. Angka pinjaman utang tersebut telah disesuaikan dengan ukuran pinjaman bank bersangkutan.

 

Layaknya memadamkan api, dana talangan diberikan sebagai solusi jangka pendek. Dari mana dana talangan sebanyak itu diperoleh? Agaknya, rakyat AS dan Eropa-lah yang mesti menanggungnya dari pembayaran pajak mereka. Mereka-lah Sinterklas pasar sebenarnya. Sementara itu, bankir-bankir investasi tetap menikmati gaji tahunan di atas 500 juta rupiah per tahun. Sebagai simbol sense of crisis, mereka hanya merelakan bonus tahunannya dipotong. Miris!

  

Pasar Pangan Bebas + Keserakahan = Krisis Pangan

Javier Solana, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dalam pidatonya di Annual Conference of the Institute for the Security Studies of the European Union di Paris, 30 Oktober 2008, mengingatkan juga untuk memprioritaskan masalah krisis pangan dunia. Ia menyatakan bahwa 3 miliar orang di dunia hidup dengan US$ 2, yang berarti mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan. 

 

Pada hari pangan internasional 16 Oktober 2008, Direktur FAO, Jacques Diouf mengingatkan agar negara-negara maju segera merealisasikan janjinya untuk membantu mengatasi krisis pangan dunia. Apalah daya, Bush, Brown, Sarkozy, Merkel dan kepala negara maju lainnya hanya merealisasikan sekitar sepuluh persen dari 22 miliar dollar yang dijanjikan. Perut-perut keroncongan di Afrika nyaring tak terdengar, huru-haranya tak seheboh bank-bank yang kesulitan likuiditas.

 

Nobunkwe, seorang penduduk miskin Somalia, mesti merelakan anak-anak dan isterinya mati kelaparan sementara dirinya pergi berusaha mencari kacang di tengah kecamuk perang saudara. Alih-alih skema penyelamatan keluarga Nobunkwe, skema dana-talangan (bail-out) bagi dunia perbankan di AS dan Eropa alot diperjuangkan untuk disyahkan oleh parlemen negara-negara maju. Di Afghanistan, Goulam Farouk yang berpenghasilan 3000 Afghani atau sekitar Rp 593.167 sebulan harus memutar otak untuk memberi makan delapan anaknya. Anak-anaknya tidak bisa pergi ke sekolah jika Farouk mementingkan perut ketimbang pendidikan.

 

Di Indramayu, Sarta Hidayat berangan-angan dapat menafkahi anak-isterinya dengan nasi putih. Maklum, penghasilan sebagai buruh tani tak seberapa. Miras dipilih sebagai teman sarana berkhayalnya. Agar khayalannya lebih dahsyat, dicampurlah suplemen minuman energi dalam mirasnya. Lalu, campuran minuman itu dinikmati bersama teman-temannya. Alih-alih nikmat berkhayal, Sarta dan 9 orang teman-temannya menemui ajal lalu tewas. Lebih gampang dapat miras daripada beras. Sebab beras susah didapat.  Bukannya tidak ada, tapi mahal harganya. Belum lagi, masyarakat Indonesia timur yang mulai gengsi kalau tak makan beras, makin menaikkan permintaan akan komoditas beras.

 

Jika ditilik sejak 1998-saat IMF memaksa negara-negara berkembang termasuk Indonesia, Brazil, dan Argentina untuk meliberalisasi tata kelola pasar komoditas pangannya-masuklah perilaku keserakahan pasar ke perut orang-orang seperti Nobunkwe, Farouk, dan Sarta. Belum hapus dari ingatan aksi mogok petani di Argentina pada pertengahan Maret lalu. Para petani ini mogok menolak kenaikan pajak ekspor, termasuk ekspor produk pertanian. Mereka memblokade 300 jalan raya dan sudah berlangsung berminggu-minggu menghambat pasokan produk pertanian ke kota-kota. Aksi ini menimbulkan krisis terbesar bagi Fernandez sejak dia berkuasa pada Desember 2007 lalu.

 

Aksi mogok petani, terutama petani kecil, Argentina ini sebagai ungkapan penolakan dekrit presiden 11 Maret lalu yang menaikkan pajak ekspor kedelai dari 35 persen menjadi 45 persen. Fernandez juga menerapkan pungutan baru bagi produk pertanian ekspor lainnya untuk menekan inflasi.

 

Di tanah air, Badan Urusan Logistik (Bulog) dipangkas fungsinya. Komoditas pangan seperti beras, gula, kedelai, jagung, dll. mesti diperdagangkan dengan harga pasar. Impor dibuka seluas-luasnya.

 

Krisis pangan juga disebabkan oleh kebijakan dan praktek yang menyerahkan urusan pangan kepada pasar (Letter of Intent IMF, 1998), serta mekanisme perdagangan pertanian yang ditentukan oleh perdagangan bebas (WTO, Agreement on Agriculture, 1995). Pasar Indonesia dibuka lebar-lebar, bahkan bea masuk hingga 0 persen seperti kedelai (1998, 2008) dan beras (1998). Sementara subsidi untuk petani kita terus berkurang (tanah, irigasi, pupuk, bibit, teknologi dan insentif harga). Di sisi lain, subsidi dari negara-negara dengan produksi pangan berlebih seperti AS dan Uni Eropa-beserta perusahaan-perusahaannya-malah meningkat.

 

Perilaku para pelaku pasar komoditas pangan pun sama saja dengan pelaku pasar di Wall Street. Mereka menentukan harga komoditas berdasarkan kemungkinan spekulasi permintaan-penawaran ditambah keserakahan akan laba yang tak terbatas. Komoditas pangan dijadikan sebagai instrumen investasi, dengan kesimpulan "laba adalah segalanya". Tak peduli daya beli yang merosot akibat inflasi, pelaku pasar komoditas pangan bebas menetapkan harga futures komoditas pangan untuk pengiriman mendatang.

 

Atur sistem pasar modal dan pasar pangan

Saat Barrack Obama terpilih menjadi presiden AS, dia tidak cuma harus memikirkan para pekerja kerah biru dan kerah putihnya yang kehilangan rumah dan pekerjaannya, tapi juga harus menyelamatkan kepentingan ekonomi dunia yang lebih besar. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka inisiatif pasar baru di Afrika. Untuk ini, negara-negara Afrika perlu pulih dari persoalan perang, kelaparan, dan korupsi. Padahal, AS dan Uni Eropa hanya perlu membantu sejumlah 0,7% saja dari PDB mereka untuk memulihkan negara-negara Afrika dari kelaparan (Oxfam, 2008). Apabila Afrika pulih, tentu akan membuka pasar baru bagi sistem perekonomian dunia.

 

Kebijakan dana talangan US$700 miliar dan US$250 miliar belum akan mampu menyelesaikan krisis keuangan global. Pasar-pasar di AS dan Eropa sendiri merespon negatif terhadap kebijakan ini. Sebab, mereka mengetahui bahwa akar permasalahannya bukan dana talangan, tapi perilaku keserakahan pasar itu sendiri. AS dan Uni Eropa perlu mengatur perilaku pasar yang serakah dan bebas. Perilaku para manajer dana lindung-nilai (hedge fund) dan pedagang komoditas pangan yang mengelola dana raksasa perlu diatur (Soros, 2008).

 

Melihat krisis kali ini, Inggris dan Perancis pernah mengajukan agar sistem perekonomian dunia ditata kembali. Semenjak kesepakatan sistem perekonomian dunia di Bretton Woods, yang kemudian melahirkan Bank Dunia dan IMF, dilanggar oleh AS, praktis perilaku pasar menjadi tak terkendali. Namun, Bush menyatakan tak perlu. Tak heran, begawan-begawan Wall Street adalah penyumbang terbesar dana kampanyenya. Entah bagaimana Obama bersikap, mengingat dana kampanyenya didapat dari "receh" banyak simpatisan. Tampaknya perut lapar keluarga Nobunkwe, Farouk, dan Sarta mesti menunggu huru-hara krisis keuangan global. Sambil menunggu perusahaan dan bank di AS dan Eropa tetap hidup, nyawa-nyawa di negara dunia ketiga melayang.(E6)

 

©2010 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Bingkai

Tumbal-tumbal Krisis

31 Desember 2008 - 17:12 WIB

Mereka yang tumbang paling awal. Dan bangkit paling akhir.


 Prasetyo tidak pernah menyangka rontoknya pasar saham Wall Street di Amerika Serikat akan menjungkalkan periuk nasi keluarganya. Dia juga tidak pernah percaya anjloknya harga saham bernilai miliaran dolar di tempat nun jauh di

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua