Voice of Human Rights News Center

English English 07 Januari 2009  

            VHRmedia tidak pernah merekrut reporter, koresponden, ataupun kontributor di mana pun dengan memungut sejumlah uang.                 Bila ada orang yang mengaku dari VHRmedia dan meminta sejumlah uang dengan alasan apa pun, harap melaporkan ke redaksi VHRmedia, telepon 02170981941 atau 081584553631. Terima kasih.                VHRmedia tidak pernah merekrut reporter, koresponden, ataupun kontributor di mana pun dengan memungut sejumlah uang.                 Bila ada orang yang mengaku dari VHRmedia dan meminta sejumlah uang dengan alasan apa pun, harap melaporkan ke redaksi VHRmedia, telepon 02170981941 atau 081584553631. Terima kasih.                VHRmedia tidak pernah merekrut reporter, koresponden, ataupun kontributor di mana pun dengan memungut sejumlah uang.                 Bila ada orang yang mengaku dari VHRmedia dan meminta sejumlah uang dengan alasan apa pun, harap melaporkan ke redaksi VHRmedia, telepon 02170981941 atau 081584553631. Terima kasih.                Bila ada orang yang mengaku dari VHRmedia dan meminta sejumlah uang dengan alasan apa pun, harap melaporkan ke redaksi VHRmedia, telepon 02170981941 atau 081584553631. Terima kasih.                VHRmedia tidak pernah merekrut reporter, koresponden, ataupun kontributor di mana pun dengan memungut sejumlah uang.                 Bila ada orang yang mengaku dari VHRmedia dan meminta sejumlah uang dengan alasan apa pun, harap melaporkan ke redaksi VHRmedia, telepon 02170981941 atau 081584553631. Terima kasih.                VHRmedia tidak pernah merekrut reporter, koresponden, ataupun kontributor di mana pun dengan memungut sejumlah uang.    

 

Artikel

Warga Buyat Kehilangan Tanah Air

Angga Haksoro Ardhi

Pada 20 Juni 2005 warga Desa Buyat Pante yang menghuni pesisir Teluk Buyat tarpaksa pindah dari kampung halaman. Mereka harus mengungsi jauh ke ke Desa Duminanga, sekitar 130 kilometer dari desa asal. Berharap hidup berubah, jauh dari penyakit ganas yang menjangkiti kampung tercinta.

 

Enam puluh enam warga Desa Buyat Pante terpaksa pindah ke Desa Duminanga, Molibagu, Bolaang Mongondow, karena tidak tahan didera penyakit Minamata. Diduga penyakit ini sebagai dampak pembuangan limbah tambang PT Newmont Minahasa Raya ke laut yang merupakan sumber penghidupan mereka. Bagaimana nasib mereka kini setelah dua tahun tinggal di tempat baru?

 

"Dua tahun lalu kami pindah tanpa dibiayai pemerintah. Memulai semuanya dari awal. Menempati barak berukuran tiga kali tiga meter selama satu setengah tahun. Enam bulan lalu pemerintah baru menyediakan rumah-rumah di pinggir pantai," tutur Stirman, salah satu warga Buyat yang pindah ke Duminanga.

 

Tapi rumah merekan sekarang juga belum layak huni. Menurut Anwar, yang juga mengungsi, meski ukurannya lebih besar dari barak tempat tinggal mereka dulu, rumah mereka sekarang lantainya masih tanah. Beberapa rumah bahkan belum ada pintu dan jendela.

 

"Memang sudah berbentuk rumah berukuran empat kali enam meter, tapi belum lengkap. Ada yang dapurnya belum ada. Pintu dan jendelanya juga belum ada," kata Anwar yang mengungsi bersama istri dan tiga orang anaknya.

 

Belum lagi warga kesulitan mendapatkan air bersih dan aliran listrik untuk penerangan. Menurut Anwar untuk mendapatkan air bersih, warga harus memasang pipa sepanjang 2,5 kilometer dari mata air dari gunung. Karena jauhnya sumber air, tidak setiap hari warga dapat menikmati air bersih. Bahkan, aliran air lebih sering mati.

 

Anwar mengatakan, proyek pembangunan rumah dan fasilitas hidup bagi warga pengungsian Buyat Pante di Duminanga sudah berhenti beberapa bulan lalu. Padahal masih ada dua blok perumahan yang belum mendapat fasilitas air bersih. Pembangunan jalan perumahan juga dilakukan asal-asalan.

 

Selain fasilitas tempat tinggal yang tidak memadai, warga pengungsian Buyat juga kehilangan mata pencaharian setelah meninggalkan kampung halaman. Karena tidak disediakan lahan garapan untuk bertani di Duminanga, kini banyak warga eks Buyat yang bekerja sebagai buruh tani. Dari hasil bekerja sebagai buruh tani, para pengungsi itu hanya menerima upah Rp 15 ribu per hari. Sekitar 40% nelayan eks Buyat Pante menjadi buruh tani penanam cabai, jagung, pisang, dan cengkeh.

 

Pasar yang jauh dari lokasi perumahan warga Buyat, jaraknya sekitar 25 kilometer, juga memaksa mereka menjual tangkapan ikan yang tak seberapa pada tengkulak dengan harga yang jauh lebih murah.

 

Meski sulit hidup jauh dari kampung halaman, warga pengungsi Buyat Pante mulai bisa menerima kenyataan, karena berangsur-angsur kesehatan mereka pulih. Kini mereka khawatirkan pada nasib warga Buyat lain yang masih bertahan di Teluk Buyat.


"Kami tahu saat ini saudara-saudara kami di Buyat Kampung masih sakit. Sedih rasanya mendengar mereka menderita penyakit yang pernah kami derita dulu. Di sana orang yang sakit makin parah. Angka kematian juga makin tinggi. Kami bersyukur pindah dari Buyat," ujar Anwar menutup pembicaraan sore itu.

 

* Disarikan dari Berita Jaringan Advokasi Tambang: Dari Buyat ke Jakarta (18 Juli 2007)

©2009 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Bingkai

Tumbal-tumbal Krisis

31 Desember 2008 - 17:12 WIB

Mereka yang tumbang paling awal. Dan bangkit paling akhir.


 Prasetyo tidak pernah menyangka rontoknya pasar saham Wall Street di Amerika Serikat akan menjungkalkan periuk nasi keluarganya. Dia juga tidak pernah percaya anjloknya harga saham bernilai miliaran dolar di tempat nun jauh di

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua