| 07 Januari 2009 |
Artikel
Warga Buyat Kehilangan Tanah Air
20 Juli 2007 - 18:36 WIB
Angga Haksoro Ardhi
Pada 20 Juni 2005 warga Desa Buyat Pante yang menghuni pesisir Teluk Buyat tarpaksa pindah dari kampung halaman. Mereka harus mengungsi jauh ke ke Desa Duminanga, sekitar 130 kilometer dari desa asal. Berharap hidup berubah, jauh dari penyakit ganas yang menjangkiti kampung tercinta.
Enam puluh enam warga Desa Buyat Pante terpaksa pindah ke Desa Duminanga, Molibagu, Bolaang Mongondow, karena tidak tahan didera penyakit Minamata. Diduga penyakit ini sebagai dampak pembuangan limbah tambang PT Newmont Minahasa Raya ke laut yang merupakan sumber penghidupan mereka. Bagaimana nasib mereka kini setelah dua tahun tinggal di tempat baru?
"Dua tahun lalu kami pindah tanpa dibiayai pemerintah. Memulai semuanya dari awal. Menempati barak berukuran tiga kali tiga meter selama satu setengah tahun. Enam bulan lalu pemerintah baru menyediakan rumah-rumah di pinggir pantai," tutur Stirman, salah satu warga Buyat yang pindah ke Duminanga.
Tapi rumah merekan sekarang juga belum layak huni. Menurut Anwar, yang juga mengungsi, meski ukurannya lebih besar dari barak tempat tinggal mereka dulu, rumah mereka sekarang lantainya masih tanah. Beberapa rumah bahkan belum ada pintu dan jendela.
"Memang sudah berbentuk rumah berukuran empat kali enam meter, tapi belum lengkap. Ada yang dapurnya belum ada. Pintu dan jendelanya juga belum ada," kata Anwar yang mengungsi bersama istri dan tiga orang anaknya.
Belum lagi warga kesulitan mendapatkan air bersih dan aliran listrik untuk penerangan. Menurut Anwar untuk mendapatkan air bersih, warga harus memasang pipa sepanjang 2,5 kilometer dari mata air dari gunung. Karena jauhnya sumber air, tidak setiap hari warga dapat menikmati air bersih. Bahkan, aliran air lebih sering mati.
Anwar mengatakan, proyek pembangunan rumah dan fasilitas hidup bagi warga pengungsian Buyat Pante di Duminanga sudah berhenti beberapa bulan lalu. Padahal masih ada dua blok perumahan yang belum mendapat fasilitas air bersih. Pembangunan jalan perumahan juga dilakukan asal-asalan.
Selain fasilitas tempat tinggal yang tidak memadai, warga pengungsian Buyat juga kehilangan mata pencaharian setelah meninggalkan kampung halaman. Karena tidak disediakan lahan garapan untuk bertani di Duminanga, kini banyak warga eks Buyat yang bekerja sebagai buruh tani. Dari hasil bekerja sebagai buruh tani, para pengungsi itu hanya menerima upah Rp 15 ribu per hari. Sekitar 40% nelayan eks Buyat Pante menjadi buruh tani penanam cabai, jagung, pisang, dan cengkeh.
Pasar yang jauh dari lokasi perumahan warga Buyat, jaraknya sekitar 25 kilometer, juga memaksa mereka menjual tangkapan ikan yang tak seberapa pada tengkulak dengan harga yang jauh lebih murah.
Meski sulit hidup jauh dari kampung halaman, warga pengungsi Buyat Pante mulai bisa menerima kenyataan, karena berangsur-angsur kesehatan mereka pulih. Kini mereka khawatirkan pada nasib warga Buyat lain yang masih bertahan di Teluk Buyat.
"Kami tahu saat ini saudara-saudara kami di Buyat Kampung masih sakit. Sedih rasanya mendengar mereka menderita penyakit yang pernah kami derita dulu. Di sana orang yang sakit makin parah. Angka kematian juga makin tinggi. Kami bersyukur pindah dari Buyat," ujar Anwar menutup pembicaraan sore itu.
* Disarikan dari Berita Jaringan Advokasi Tambang: Dari Buyat ke Jakarta (18 Juli 2007)
©2009 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Pertamina Kembali Telantarkan Eks Karyawan7 Januari 2009 - 10:22 WIB
- PT KAI Siapkan Gerbong Kereta Cadangan24 Desember 2008 - 16:11 WIB
- 371 Narapidana di Jateng Mendapat Remisi Natal24 Desember 2008 - 13:58 WIB
- PT Pusri Putus Kerja Sama 7 Penyalur di Banten16 Desember 2008 - 10:28 WIB
- Polisi Buru Bos PT Antaboga yang Buron 5 Desember 2008 - 15:51 WIB
Kisah Terkait
- Ramadan ala BMI Hong Kong (2, Habis)24 September 2008 - 13:1 WIB
- Mendadak Ngemis (3, Habis)17 September 2008 - 13:38 WIB
- Horor di Teluk Buyat23 Februari 2007 - 13:25 WIB
Agenda
Berita Terkini
Polda Jatim Selamatkan 109 Korban Trafficking
7 Januari 2009 - 15:7 WIB
AS Bangun Konservasi Laut Terbesar di Dunia
7 Januari 2009 - 14:28 WIB
Mahasiswa Demo Kasus Suap DPRD Pandeglang
7 Januari 2009 - 14:10 WIB
Majelis Parlemen Asia Akan Kunjungi Gaza
7 Januari 2009 - 13:46 WIB
YLBHI: Penegakan HAM 2009 Bakal Mandek
7 Januari 2009 - 12:23 WIB
Bingkai
Tumbal-tumbal Krisis
31 Desember 2008 - 17:12 WIB
Mereka yang tumbang paling awal. Dan bangkit paling akhir.
Prasetyo tidak pernah menyangka rontoknya pasar saham Wall Street di Amerika Serikat akan menjungkalkan periuk nasi keluarganya. Dia juga tidak pernah percaya anjloknya harga saham bernilai miliaran dolar di tempat nun jauh di
Berita Terpopuler
Vonis Bebas Muchdi Pr Perburuk Citra Indonesia
2 Januari 2009 - 17:29 WIB
Dukung Palestina Jangan Dibawa ke Isu Agama
5 Januari 2009 - 16:39 WIB
Hakim Arogan, Muchdi Pr Pun Melenggang
1 Januari 2009 - 14:11 WIB
Anggaran Pendidikan Jawa Timur Rawan Dikorupsi
2 Januari 2009 - 16:4 WIB
Putusan Bebas Muchdi, Puncak Keprihatinan
1 Januari 2009 - 13:22 WIB
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







