| 07 Oktober 2008 |
Cakrawala
Novel K-O-M-A
Absurditas Kehidupan yang Nyata
4 Juli 2008 - 19:22 WIB
Rosmi Julitasari S
Saat bangsa Roma, bangsa yang pertama kali mengembangkan konsep jalan raya, merancang jalan untuk kota, mereka menetapkan ukuran lebar jalan 143,5 cm. Mengapa harus demikian? Ternyata kereta yang mereka gunakan saat berperang ditarik oleh dua kuda dan bila ditempatkan berdampingan kedua kuda akan jadi selebar 143,5 cm.
Dan lebar rel kereta api yang kita lihat saat ini "ditentukan" oleh bangsa Roma. Saat orang-orang mulai berimigrasi ke Amerika Serikat dan mulai membangun jaringan rel kereta di sana, mereka tidak berpikir untuk mengubah lebar rel kereta. Hal itu bahkan berpengaruh pada pembangunan stasiun ruang angkasa. Para insinyur di Amerika berpikir bahwa tanki bahan bakar untuk pesawat luar angkasa seharusnya berukuran lebih lebar dari 143,5 cm. Namun tangki bahan bakar tersebut dibuat di Utah dan harus dikirim ke Pusat Pengendalian Luar Angkasa di Florida menggunakan kereta api, sedangkan terowongan kereta tidak bisa memuat gerbong yang lebih lebar dari itu. Terpaksa mereka menerima ukuran yang dianggap orang Roma paling ideal untuk lebar kendaraan.
Hal itu ternyata berlaku pula bagi perkawinan. Saat dua orang menikah, mereka harus tetap seperti itu sepanjang hidup. Mereka akan berjalan beriringan seperti halnya dua besi yang terhubung menjadi rel kereta api, berusaha menjaga lebar tersebut agar tidak berubah. Bahkan jika suatu waktu salah satu dari keduanya perlu sedikit menjauh atau mendekat, hal itu melanggar aturan. Aturannya jelas: kau harus sensitif, pikirkan masa depan, pikirkan anak-anakmu. Kau tak dapat berubah. Kau harus seperti dua baja rel kereta api yang lebarnya selalu tetap sama sepanjang jalan mulai dari titik keberangkatan hingga titik tujuan. Aturan itu tidak memperbolehkan cinta untuk berubah. Itu terlalu berbahaya.
Paparan Paulo Coelho dalam novel Zahir tentang lebar rel kereta tersebut tampaknya dianut betul oleh Jauhhari, salah satu tokoh dalam novel K-O-M-A karya FX Rudy Gunawan. Baginya, dengan bersanggama dengan pasangannya, Kenangan, berarti peleburan hati, jiwa, dan pikiran. Paham ini menyebabkan Jauhhari frustrasi karena kegagalannya menuangkan keindahan rangkaian bunga yang dibuat Kenangan ke dalam lukisannya.
Frustrasi itu membuat Jauhhari meninggalkan Kenangan dan anak mereka, Kodrat. Jauhhari, seniman yang bergerak di bawah tanah dan menentang pemerintahan otoriter pada masa-masa sebelum reformasi, seperti lenyap ditelan bumi. Tinggallah Kenangan, yang dalam kesenduan membesarkan Kodrat sendirian.
Kenangan dan Kodrat melanjutkan hidup dalam keunikan masing-masing, namun saling melengkapi. Kenangan yang selalu hidup dalam kenelangsaan, merefleksikan kesedihan hidupnya melalui karangan bunga rancangannya. Berbeda dari sang ibu, Kodrat selalu mencerminkan kegembiraan. Keriaan selalu mengiringi kehadirannya, di mana pun ia berada. Juga tercermin pada karangan bunga yang ia hasilkan sejak usia 4 tahun.
Hukum 143,5 cm pun berlaku bagi Kodrat. Sesuatu tidak boleh ada yang berubah, termasuk dosa orang tua, harus juga ditanggung oleh anak. Kodrat, yang tidak tahu apa-apa, harus menghadapi seorang intel yang begitu menaruh dendam pada Jauhhari, sang ayah. Kodrat pun diburu, bahkan sampai jatuh koma di rumah sakit karena upaya pembunuhan yang dilakukan si intel.
Ketulusan, kalau bisa dibilang kepolosan, pikiran Kodrat kemudian menjadi penjalin cerita dalam novel ini. Lompatan alur cerita pun tidak menjadi hal yang mengganggu, karena ditulis dengan begitu kuat, tanpa terasa dipaksakan. Pemilihan kata yang tepat dan efektif juga membuat pembaca mudah untuk bermain-main dengan pikirannya sendiri, meski cerita yang ditulis begitu abstrak.
Membaca K-O-M-A, rasanya seperti membaca pikiran penulisnya, FX Rudy Gunawan. Segalanya begitu ringan diungkapkan, mudah dicerna, namun demikian berat saat dipikirkan dan direnungkan. Segalanya begitu mengada-ada, begitu tinggi mengawang, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dicapai dan diraih. Hanya ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan isi novel ini: absurd! (*)
Judul Buku: [k-o-m-a]: sebuah novel
Penulis: FX Rudy Gunawan
Penerbit: Sp@si dan vhrbook
Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2008
ISBN: 978-979-16852-4-5
©2008 VHRmedia.com
Agenda
Berita Terkini
Jimly: Negarawan Jangan Jadi Politisi
7 Oktober 2008 - 18:29 WIB
Warga Taman BMW Bertahan
7 Oktober 2008 - 17:46 WIB
11 Parpol Tak Penuhi Kuota Caleg Perempuan
7 Oktober 2008 - 16:59 WIB
ASEAN Siapkan Aturan Perlindungan Buruh Migran
7 Oktober 2008 - 16:11 WIB
Komnas HAM: Stop Diskriminasikan Warga Miskin
7 Oktober 2008 - 15:42 WIB
Bingkai
Roekiah Ratu Seksi
6 Oktober 2008 - 17:4 WIB
Suit...suuuiitttt... Gairah meruah. Dibebat makin hebat, disumbat makin kuat. Lepas kepala, ekor jangan direlakan.
Tahun 1938 film Terang Boelan yang dibintangi Roekiah bersama Raden Mochtar meledak di pasaran. Miss Roekiah dan Raden Mochtar menjadi pasangan pemain film pertama yang memperkenalkan
Berita Terpopuler
Penumpang Kereta Bekasi-Jakarta Membeludak
2 Oktober 2008 - 14:29 WIB
Lebaran Pluralis di Kalimalang
1 Oktober 2008 - 11:16 WIB
Arus Mudik Berlanjut Hingga Hari Ini
2 Oktober 2008 - 13:2 WIB
Bom Bunuh Diri Terus Terjadi di Irak
2 Oktober 2008 - 14:47 WIB
Pengesahan RUU MA Hari Ini Batal
6 Oktober 2008 - 12:32 WIB
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







