Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Cakrawala

Alia Bangkit dari Gencetan Superhero

Rosmi Julitasari S

 Pada tahun 1896 Richard Felton Outcault (14 Januari 1863 - 25 September 1928) meluncurkan buku yang kemudian dianggap sebagai buku komik pertama di dunia. Dalam buku The Yellow Kid itu Outcault, yang semula ilustrator untuk Thomas Edison dan pembuat sketsa humor untuk majalah Judge dan Life, membuat inovasi yang belum pernah dilakukan komikus pada zaman itu. Dia membuat semacam balon tempat menuliskan kata-kata yang diucapkan tokoh atau karakter komik dan menarik "ekor"-nya ke bibir si tokoh.


The Yellow Kid kemudian dianggap sebagai titik tolak komik modern di dunia, yang diikuti masa keemasan komik yang dimulai pada tahun 1930-an. Pada masa itu bermunculan karakter komik yang kemudian menjadi legenda sampai sekarang, seperti Flash Gordon (Alex Raymond), Dick Tracy (Chester Gould), Tarzan (ER Borrough), Tintin (Herge), Superman (Siegel and Shuster), hingga Batman (Bob Kane) dan Captain Marvel (CC Beck).


Sejarah komik bisa jadi lebih tua dari sejarah tulisan. Orang Mesir Kuno lebih dulu menggunakan gambar secara berurut untuk menyampaikan informasi ketimbang menggunakan huruf. Definisi ini seperti penjelasan Scott McCloud dalam buku Understanding Comics bahwa komik memanfaatkan ruang dalam media gambar untuk meletakkan gambar demi gambar sehingga membentuk alur cerita yang utuh.


Hingga saat ini komik masih dianggap sebagai bentuk media komunikasi visual yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan informasi secara populer dan mudah dimengerti. Sifatnya yang mudah dimengerti dan menancap dalam pikiran pembaca membuat komik menjadi bentuk pertama dalam kebudayaan Amerika yang secara eksklusif dibuat untuk anak-anak, jauh sebelum musik pop.


Meski demikian, perkembangan komik bukan tanpa hambatan. Pada akhir tahun 1940-an para pemimpin gereja di Amerika membakari komik, sama seperti tindakan Nazi Jerman beberapa tahun sebelumnya. Komik dianggap sebagai bacaan bermutu rendah, sarana pembodohan - terutama bagi anak-anak - dan pemerosotan moral. Anggapan yang masih berlaku sampai sekarang.


Di Indonesia perkembangan komik mencapai masa keemasan di tahun 1960 - 1970. Tentu kita masih ingat komik Petruk dan Gareng, Jaka Sembung, atau Carok. Namun, represi pemerintah Orde Baru mempengaruhi perkembangan komik Indonesia melalui sensor yang begitu ketat. Belum lagi stigma bahwa komik hanya bacaan orang bodoh, membuat banyak orang tua yang melarang anaknya membaca komik.


Akibatnya dahsyat. Produksi komik Indonesia pun terhenti. Tidak ada generasi penerus Kho Wan Gie (Put On, 1930), Naosen As (Putri Hijau, 1939), RA Kosasih (Sri Asih, 1952), Tjip Tupai (Mala Pahlawan Rimba, 1957), Djair Warni (Jaka Sembung, 1968), atau komikus tahun 1980-an seperti Budijanto, Zaldi, Sim, dan Jan Mintaraga. Sebagai gantinya, komik-komik luar negeri, terutama dari Jepang dan Amerika, membanjiri konsumsi komik di Indonesia.


Kebangkitan Cergam

Sebenarnya banyak pembuat komik di tanah air yang berbakat. Namun mereka segera tersedot oleh industri komik Jepang atau Amerika yang menjanjikan penghasilan jauh lebih memadai ketimbang memproduksi komik sendiri.


Berangkat dari keprihatinan tersebut, beberapa komunitas komik di Jakarta seperti Metha Studio, Kelompok Pecinta Gina, Serikat Jagoan-jagoan Komik, Animasi Studio Urek-urek, dan Concept Comics menyelenggarakan "Bangkit Cergam" sebagai ajakan bagi masyarakat untuk kembali melongok komik Indonesia dan menggunakan kata "cergam" (cerita bergambar) ketimbang "komik". Acara ini diselenggarakan pada 16 dan 17 Agustus 2008 di Plaza EX, Jakarta, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.


"Zaman sudah berubah. Sekarang sudah banyak orang tua yang bangga jika anaknya mampu membuat komik. Perubahan pandangan ini bisa kita gunakan untuk menghasilkan generasi baru pencipta komik Indonesia. Dan momentum 17 Agustus ini adalah saat yang tepat," kata Wahyu Sugianto, penggiat komik di Indonesia.


Selain menggelar acara talkshow, pameran, dan adu komik super hero Indonesia, "Bangkit Cergam" juga meluncurkan komik "Alia" terbitan Concept Comics. "Alia merupakan cermin kerinduan masyarakat Indonesia akan datangnya pemimpin baru. Komik ini menceritakan orang-orang yang dipilih untuk mempersiapkan datangnya ratu adil, yang melambangkan pemimpin baru tersebut. Isu ini lebih pas bagi anak muda jika dikemukakan lewat komik," kata Ronald W Darmawan dari Concept Comics.


Seri Alia sudah terbit dua kali dengan judul Dewi dan Ksatria. Seri ini berkisah tentang 6 orang yang ditakdirkan memiliki kesaktian dan terpilih untuk mempersiapkan kedatangan seorang raja yang akan menyelesaikan semua permasalahan negeri, yang disebut Sang Ratu Adil.


Komik ini tampak digarap serius, terlihat dari cerita, pemilihan tata letak, pewarnaan, dan kertas yang dipilih. Sayang, gayanya masih kental dengan nuansa kartun dari Marvel Comic seperti Superman dan Batman.


Acara "Bangkit Cergam" sebetulnya mendapat perhatian khalayak. Banyak pengunjung dan bergerombol di lobi plaza di pusat kota ini. Sayang panitia kurang mengkonsep acara ini dengan baik. Misalnya memindahkan acara talkshow dari hari pertama ke hari kedua, yang membuat banyak pengunjung yang telah menantikan acara tersebut pulang dengan kecewa. (E4)

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Operasi Preman Sia-sia, Rendahkan Martabat

21 November 2008 - 10:36 WIB

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

Arsip Berita »

Bingkai

Agar Nyanyi Tak Lagi Sumbang

3 November 2008 - 17:10 WIB

 Cerita soal mewahnya rasa aman. Salah bicara, leher taruhannya.


Belakangan koran dan televisi dipenuhi berita pembunuhan keji. Dari cerita soal jasad pria tak dikenal ditemukan terpotong-potong di bus hingga bekas suami yang gila membunuh istri hanya karena sang istri mengubah status

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua