| 21 November 2008 |
Cakrawala
Buku 'Aku Tak Mirip Beliau'
Keluarga Korban Menyibak Kelam
29 Agustus 2008 - 13:2 WIB
Jimmy L Simanungkalit
Kasus-kasus korupsi di Indonesia mulai terkuak, antara lain karena kerja keras Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun, bagaimana dengan kasus pelanggaran hak asasi manusia? Sejak pemerintahan Orde Baru, represi terhadap warga negara yang berujung pelanggaran HAM acap terjadi, antara lain kasus Tanjung Priok (1984), kerusuhan Mei (1998), dan penculikan aktivis (1997/1998). Sayang sekali sampai saat ini belum jelas proses hukum terhadap kasus-kasus yang menelan demikian banyak korban tewas, diculik, disiksa, ataupun yang hilang tak diketahui nasibnya hingga sekarang.
''Peristiwa Tanjung Priok adalah lembaran kelam sejarah bangsa!'' kata mendiang Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, dalam pengantar buku Menuju Kedamaian Nan Indah karya Rusly Biki, saudara Amir Biki, korban tewas pada peristiwa itu. Memang peristiwa itu terjadi hampir 24 tahun lalu, namun penderitaan para korban masih terasa sampai sekarang. Dari sekian banyak korban peristiwa Tanjung Priok, mungkin hanya AM Fatwa yang "sukses", bahkan pernah menjadi wakil ketua MPR. Sebagian korban lainnya sempat menjadi anggota DPR atau dosen. Namun kebanyakan korban yang lolos dari peristiwa maut itu hidupnya sangat susah. Mereka menjadi "warga kelas dua" yang kesulitan mendapatkan pekerjaan akibat status yang disandangnya. Agar dapat menyambung hidup, mereka membangun usaha kecil-kecilan, menjadi pedagang kaki lima, tukang las, bahkan pemulung.
Selain korban Peristiwa Tanjung Priok, masih banyak korban yang hak asasinya dilanggar, antara lain Mugiyanto, Nezar Patria, Aan Rusdianto, Petrus Bima Anugrah, Faisol Riza, Raharja Waluya Jati, dan Herman Hendrawan. Pada rezim Orde Baru mereka dianggap "berbahaya" karena mau menggulingkan kekuasaan otoriter Soeharto. Kecurigaan itu berbuntut penculikan, penyekapan, interogasi, dan penyiksaan terhadap para aktivis itu. Setelah mengalami itu semua, ada yang dipulangkan, namun ada juga yang tidak jelas keberadaannya sampai sekarang.
Para korban pelanggaran HAM tidak menderita sendirian. Keluarga mereka ikut merasakan penderitaan karena ketidakadilan. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun menjadi korban. Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia didukung The Body Shop Foundation mencoba menuturkan hal itu melalui buku Aku Tak Mirip Beliau. Buku ini merangkum kehidupan enam keluarga korban kasus Tanjung Priok, kerusuhan Mei, dan penculikan aktivis.
Aku Tak Mirip Beliau diawali kisah Binar Mentari Malahayati, anak pasangan Mugiyanto (korban penculikan aktivis 1997-1998) dan Mutiara Pasaribu. Bocah kelas II SD ini sudah diperkenalkan istilah dan isu seputar HAM. Dengan polos Mentari bercerita tentang kegiatan pengenalan HAM yang pernah diikutinya. "Waktu itu sempat belajar soal HAM. Masak ada yang bilang kalau HAM itu hamburger, padahal HAM itu kan hak asasi manusia," ujarnya.
Kisah kedua tentang Elsa Aulia Rizky, cucu korban kasus Tanjung Priok, yang tidak pernah tahu keberadaan sang kakek. Echa, panggilan bocah ini, tahu tentang HAM dari membaca buku pelajaran sekolah hingga buku bertema HAM. Dia juga mengagumi karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sang ibu yang aktif di Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia memberikan pengaruh besar kepada Echa soal pemahaman HAM. Kisah lainnya adalah kehidupan Yunus yang ayahnya korban peristiwa Tanjung Priok. Ayahnya sakit-sakitan sejak mengalami penyiksaan dan penahanan pada peristiwa berdarah itu. Yunus mencoba mengambil alih tugas ayahnya menopang ekonomi keluarga.
Selanjutnya kisah Bagus Sundoro, 16 tahun, adalah adik Gunawan, korban tewas kerusuhan Mei 1998 di Jogja Plaza, Klender. Kenangan dan kehilangan kakaknya terus membayangi remaja ini. Berikutnya kisah M Ikhwan Nul Husna, anak korban peristiwa Tanjung Priok. Ayah kini bekerja sebagai satpam di kantor IKOHI.
Puncaknya kisah Fitri Nganthi Wani, anak penyair Wiji Thukul dan Dyah Sujirah yang akrab dipanggil Sipon. Wiji Thukul merupakan korban penculikan tahun 1997 yang sangat berani mengkritisi pemerintah otoriter masa itu lewat puisi-puisi perlawanan. Perjalanan hidup Wani bisa dibilang lebih tragis dari lima tokoh yang lain. Sampai saat ini dia tidak tahu nasib dan keberadaan ayahnya. Didikan sang ayah terekam kuat dalam benak Wani, yakni agar berbagi dengan sesama dan tidak boleh mementingkan diri sendiri, karena kita hidup bermasyarakat.
Darah seni Wiji Thukul mengalir pada Wani yang penampilan sehari-harinya jauh dari kesan muram. Wani kini kuliah di jurusan sastra Indonesia dan terampil merangkai kata menjadi puisi penuh makna. Wani menuangkan ketidakadilan yang dialaminya, Ketika Ir. Soekarno berkata, "Saya mencintai keluargaku, namun saya lebih mencintai negeriku. Apabila saya harus memilih, saya lebih mengutamakan kepentingan negeriku." Dan ketika orang lain berkata kepadaku, "Kamu berjiwa nasionalis seperti Soekarno" Maka aku akan menjawab, "Aku sama sekali tak mirip beliau." Walau aku pun juga sangat mencintai negeriku. Namun, apabila aku harus memilih, Aku lebih mengutamakan keluargaku. Karena negaraku tidak peduli nasib keluargaku....."
Hampir semua anak dalam buku ini mempertanyakan ketidakadilan yang menimpa keluarga mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM. "Katanya ada HAM, ada hak asasi manusia, tapi kenapa ada yang nembak-nembakin, termasuk kakek Echa ditembak-tembakin. Katanya ada HAM, kok masih ada yang melanggar hak orang untuk hidup. Pelakunya masih dibebasin sampai sekarang...." tanya Echa. (E6)
Judul Buku: Aku Tak Mirip Beliau
Penulis: Agnes Gurning, et al.
Penerbit: IKOHI
Tahun Terbit: 2008
Tebal: 74 hal.
ISBN: 978-979-1658720
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak20 November 2008 - 16:54 WIB
- PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban20 November 2008 - 14:25 WIB
- Yusril: Saya Tolak Pembagian Laba dengan PT SRD 19 November 2008 - 10:7 WIB
- Logistik Macet, Pemilu 2009 Berpotensi Digelar Tidak Serentak14 November 2008 - 11:57 WIB
- Penggunaan Dana Sisminbakum Liar & Tidak Transparan 14 November 2008 - 11:30 WIB
Kisah Terkait
- Air Gunung Tak Mengalir Sampai Cijeruk (3, Habis)28 Oktober 2008 - 18:33 WIB
- Air Gunung Tak Mengalir Sampai Cijeruk (1)24 Oktober 2008 - 17:3 WIB
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Upayakan PK Perkara PT Timor
21 November 2008 - 11:20 WIB
Operasi Preman Sia-sia, Rendahkan Martabat
21 November 2008 - 10:36 WIB
Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
Bingkai
Agar Nyanyi Tak Lagi Sumbang
3 November 2008 - 17:10 WIB
Cerita soal mewahnya rasa aman. Salah bicara, leher taruhannya.
Belakangan koran dan televisi dipenuhi berita pembunuhan keji. Dari cerita soal jasad pria tak dikenal ditemukan terpotong-potong di bus hingga bekas suami yang gila membunuh istri hanya karena sang istri mengubah status
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







