Voice of Human Rights News Center

English English 28 Agustus 2008  

 

Cakrawala

Novel Blakanis

Ketika Kejujuran Menjadi Ancaman

Hervin Saputra

 Kengerian rakyat Indonesia saat ini tidak lagi disebabkan ancaman bom, tindak kekerasan organisasi paramiliter berbasis agama, atau kejutan kenaikan harga bahan bakar minyak. Bukan itu lagi! Ketakutan versi Indonesia kini justru hadir dari gagasan dan laku mulia yang sesungguhnya sudah diajarkan sejak, barangkali, istilah Indonesia belum membayang di benak pendiri bangsa ini. Ya, kita mengenalnya sebagai "kejujuran".

 

Kejujuran, bagi Indonesia kini, merupakan sumber ketakutan yang mampu menyebabkan gempa sosial dan kultural. Bayangkanlah jika secara kolektif rakyat berlaku jujur, maka praktik korupsi yang membiak di jejaring kekuasan dari tingkat elite hingga pegawai rendah di kantor kelurahan akan tampak dengan mata telanjang. Di mana para penipu rakyat itu hendak menyembunyikan muka, jika semuanya sudah terpampang jelas?

 

Inilah kenyataan bagi manusia di negeri yang menganggap dusta birokrat terhadap rakyat sekadar rahasia umum. Dan, merasa korupsi cuma sebuah laku yang diterima sebagai kewajaran oleh kesadaran bersama. Kejujuran untuk membongkar pencurian uang negara akan dinilai sebagai prinsip ganjil. Birokrat yang tak melakukan korupsi dicemooh sebagai pihak yang menentang kebiasaan.

 

Terkuaknya sejumlah kasus korupsi yang dilakukan jaksa dan anggota parlemen akhir-akhir ini menghadirkan ketegangan di benak rakyat. Di satu sisi, kepercayaan terhadap alat negara menurun karena terbongkarnya kejahatan maling uang negara yang dilakukan jaksa dan anggota parlemen, di sisi lain rakyat juga hanya bisa berharap semoga pembongkaran korupsi itu dilandasi kejujuran.

 

Akibat ketegangan itu timbul pertanyaan mendasar, apakah definisi kejujuran di negeri kaya namun carut-marut ini? Bagaimana menempatkan kejujuran ketika tindakan jujur bisa dicurigai sebagai tipu daya?

 

Arswendo Atmowiloto berusaha menghadirkan kegiatan untuk memburu jawaban atas pengertian kejujuran dalam Blakanis. Di dalam novel anyar yang rampung digarap pada Mei 2007 itu Arswendo mengajak pembaca menjalani "filsafat kejujuran".

 

Blakanis mengisahkan sebuah tempat di wilayah terluar Jakarta yang disebut Kampung Blaka. Nama Kampung Blaka terilhami Ki Blaka, penduduk pertama yang menempati sebuah lahan kosong kering kerontang yang ditelantarkan pemiliknya. Blaka dalam bahasa Jawa berarti jujur, apa adanya. Sesuai namanya, Ki Blaka senantiasa bersikap, bertingkah laku, dan berniat jujur, serta melakukan perencanaan dengan kejujuran.

 

Karena memukau banyak orang dengan ke-blaka-annya, Kampung Blaka perlahan ramai dikunjungi orang yang ingin menerapkan kejujuran dalam hidup. Di antara mereka adalah suster (biarawati) berusia separuh baya, mantan polisi, model cantik yang juga istri pengusaha, koruptor, pelacur, mahasiswa tingkat akhir yang tak kenal ibunya, hingga pedagang soto. Mereka selanjutnya disebut dengan Blakanis atau penghuni Kampung Blaka atau pengikut Ki Blaka.

 

Arswendo menempatkan Ki Blaka sebagai tokoh sentral. Lelaki nyentrik berusia menjelang 60 tahun itu digambarkan sebagai sosok yang karena kejujurannya selalu berpikir positif atas keseluruhan peristiwa, baik yang terjadi pada dirinya maupun pada orang-orang di Kampung Blaka.

 

Puncak sikap positif Ki Blaka terjadi saat dia ditangkap aparat penguasa. Tidak tanggung-tanggung, dia dijemput menggunakan helikopter bak penjahat kelas kakap. Belakangan diketahui Ki Blaka tewas bersamaan dengan meledaknya helikopter itu. Sebenarnya Ki Blaka bisa saja melarikan diri, namun karena kejujuran dan pikiran positifnya, dia selalu percaya kejujuran adalah kebenaran yang menyelamatkan meski dalam kondisi segenting apa pun.

 

Adegan penangkapan Ki Blaka menjadi kunci dari keseluruhan plot novel ini. Peristiwa ini dapat dikatakan sebagai klimaks yang ditempatkan di tengah-tengah cerita, bukan di awal atau di akhir. Lewat klimaks ini Arswendo membuka satu per satu makna yang hendak disampaikan dari keseluruhan cerita. Dia mencoba memundurkan waktu untuk melihat apa saja yang terjadi di Kampung Blaka sebelum akhirnya tempat itu sepi karena penghuninya membubarkan diri.

 

Arswendo tidak buru-buru memberikan jawaban mengapa Ki Blaka ditangkap dan apa yang terjadi selanjutnya dengan Kampung Blaka. Dengan membuka pintu makna satu per satu, pembaca diajak mengikuti kisah seraya menikmati dialog-dialog tentang filsafat kejujuran.

 

Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur atau pura-pura bohong. Kalimat sederhana itu salah satu definisi kejujuran dalam gagasan Ki Blaka. Bagi dia, kejujuran tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Bahkan sekadar "menganjurkan" saja tidak mendapat tempat dalam menerapkan kejujuran. Dengan kata lain, kejujuran adalah kesadaran yang hinggap dalam diri sendiri.

 

Saya tidak menganjurkan, tidak kepada semua orang, dan tidak menyuruh berkata jujur. Tapi melakukan kejujuran. Istilahnya hidup blaka. Saya kira itu tidak apa-apa, karena kita juga terbiasa mengajak, memberi tahu orang lain. Misalnya: Hati-hati di jalan... atau: Bawa payung, nanti hujan.... Jadi sebenarnya tak bisa dikatakan menganjurkan atau melarang, atau mendorong, atau apa saja... yang jelas tidak memaksa.

 

Dialog-dialog yang menukik ke hakikat kejujuran itu berseliweran dalam setiap peristiwa. Meski sebagian besar gagasan tentang kejujuran itu bersumber dari Ki Blaka, novel ini tidak menempatkan Ki Blaka sebagai juru kisah. Pembaca justru diajak berkenalan dengan Ki Blaka lewat pengalaman pengikut dan orang-orang yang memperoleh perubahan hidup drastis sejak bersentuhan dengan Kampung Blaka.

 

Novel ini menggunakan pengakuan (testimoni) sejumlah tokoh di dalamnya untuk memerinci profil tokoh utama serta gagasan keseluruhan. Dengan cara ini Ki Blaka, sebagai seorang blaka, tidak dibiarkan memperkenalkan diri lewat mulut sendiri. Sebab, upaya menjelaskan diri sendiri rawan tercemar dengan kehendak melebih-lebihkan diri. Dan ini selalu ditentang oleh Ki Blaka.

 

Dengan cara ini Arswendo membiarkan pembaca menyerap definisi sosok Ki Blaka dari testimoni pengikutnya yang mendefinisikan jati diri Ki Blaka. Arswendo tidak hanya menghadirkan Ki Blaka sebagai seorang jujur yang lugu di hadapan tokoh-tokoh yang menjadi juru bicara kisah, bahkan melugukan Ki Blaka di hadapan pembaca!

 

Meski berpusat pada Ki Blaka, penggunaan teknik testimoni ini menunjukkan keunikan setiap tokoh. Satu tokoh bernama Ai, yang disebutkan sebagai model cantik istri pengusaha, ingin bercinta dengan Ki Blaka, dan Ki Blaka pun dengan jujur menyatakan keinginannya untuk menyetubuhi Ai. Ai juga merupakan pelopor Adus Ai, ritual sebelum menjadi Blakanis dengan mandi bugil di sebuah kali di Kampung Blakan.

 

Tokoh lain, Lola, pelacur berusia 42 tahun, dikisahkan mengalami halusinasi yang mengerikan saat menjalani Adus Ai. Dalam pengalaman magis itu, ribuan semut menggigiti kemaluan Lola hingga perih seraya diingatkan pada masa lalunya sebagai pelacur. Selanjutnya hidup Lola berubah drastis. Ia menikah dengan Wahyu, anak muda yang tidak pernah mengenal ibu kandung. Uniknya, mereka bertemu saat Wahyu meminta Lola menjadi pengganti ibunya untuk pendamping wisuda.

 

Dua kisah itu merupakan contoh perbedaan pengalaman tiap tokohnya. Semua pengalaman itu disatukan melalui Ki Blaka dan Kampung Blaka. Lewat testimoni, Arswendo tetap mempertahankan keunikan tiap-tiap tokoh. Karena itu, urutan waktu antara pengalaman satu tokoh dengan pengalaman tokoh lainnya tidak terlalu dijelaskan.

 

Novel ini bisa disebut sebagai reaksi atas kenyataan zaman yang hadir di hadapan pengarangnya. Korupsi, budaya ketidakjujuran yang saling bertegangan dengan idaman akan kejujuran, adalah realitas Indonesia. Sebagai sebuah karya sastra, Blakanis adalah distorsi atas realitas sedemikian rupa sehingga realitas itu terasa sebagai imajinasi.

 

Ya, di negara berkembang seperti Indonesia, kejujuran massal adalah kerinduan. Kerinduan yang sekaligus dirasakan sebagai sesuatu yang tak mungkin, namun niscaya. Dalam krisis yang hampir berpotensi menimbulkan keputusasaan rakyat, karya ini menyusupkan sebuah suasana ideal: blaka. Yang tertinggal di hati dan benak sehabis membaca novel ini adalah teror keadaan bahwa kepelikan hanya bisa diatasi dengan kejujuran massal, sekaligus kejujuran massal di tengah situasi penuh kebusukan adalah kemustahilan. Meski segala kengerian karena kejujuran adalah momok yang akan dimusnahkan oleh pendusta, Blakanis mencoba meneriakkan semacam optimisme bahwa kejujuran masih bisa diraih.

 

Dalam keadaan yang gelap, Arswendo menutup novelnya dengan mengumpulkan para blakanis di Kampung Blaka sepeninggal Ki Blaka. Di tempat itu, Emak, suster separuh baya yang menjadi pendamping Ki Blaka, didaulat menggantikan Ki Blaka.

 

Dan mereka yang berkumpul semakin banyak, semakin melapis dari berbagai lingkaran luar, terus meluas, meluas, dan tak ada henti-hentinya, tak habis-habisnya. (E4)

 

 

Judul : Blakanis

Pengarang : Arswendo Atmowiloto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juni 2008

Tebal : 283 halaman

 

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Bingkai

Mengoyak Pohon Kekuasaan

26 Agustus 2008 - 17:37 WIB

 Panas jalur menuju Istana. Jalan sendiri atau berkendara.

 

Perang wacana bursa pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009 sudah dimulai. "Hiruk-pikuk" itu berupa perang urat syaraf kandidat tua dan kandidat muda, hingga pencalonan kandidat dari jalur perseorangan.


Geliat pengajuan diri calon presiden

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN

8 Agustus 2008 - 16:24 WIB

Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru

15 Agustus 2008 - 16:58 WIB

Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor

1 Agustus 2008 - 16:1 WIB

Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas

1 Agustus 2008 - 15:33 WIB

Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat

1 Agustus 2008 - 16:33 WIB

Arsip Berita »

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua
Teater Sandekala