Voice of Human Rights News Center

English English 28 Agustus 2008  

 

Cakrawala

80 Tahun Joesoef Ishak

Langkah Sunyi Pengawal Demokrasi

Kurniawan Tri Yunanto

 Joesoef Ishak tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pers dan buku di Indonesia. Pria rendah hati ini mengawali karier sebagai wartawan yang berpikiran maju, bahkan radikal, khususnya mengenai ide nasionalisme Soekarno. Pada masa kemerdekaan Joesoef bekerja pada surat kabar Berita Indonesia di bawah pimpinan Suaridi Tahsin.

 

Beberapa koleganya menilai Joesoef sebagai orang yang selalu melihat keseimbangan. Ketika negara mematikan yang kiri, itu seperti halnya orang yang terkena stroke. Bagi dia, kiri dan kanan adalah keseimbangan, baik sebagai manusia maupun bangsa. Keutuhan itu yang bisa didampingi, tidak dipertentangkan, namun justru dimanusiakan.

 

Namun tidak sedikit pula temannya yang mengingatkan dia agar tidak terlalu kritis. "Pengalaman saya, mereka lupa bahwa yang turun ke jalan ini adalah yang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu apa-apa yang kami alami. Ini reformasi yang jalan di tempat. Bangun dan bangkitlah semangat nasionalisme," kata Joesoef pada perayaan ulang tahun ke-80 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (13/7).

 

Hal tersebut mengingatkan dia tentang awal mula ditangkap rezim Soeharto. Setelah kudeta 1965 dimanfaatkan untuk meraih kursi presiden, Soeharto naik ke panggung kekuasaan melalui pembunuhan berdarah paling besar dalam sejarah Indonesia. Para pengikut Soekarno dan sejumlah intelektual dianggap sebagai ancaman dan menjadi sasaran pembungkaman, termasuk Joesoef.


Joesoef saat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Kariernya sebagai wartawan pun habis setelah ditahan tanpa proses hukum dari tahun 1967 hingga tahun 1977 di Rumah Tahanan Salemba.

 

Membangun Hasta Mitra

Hasta Mitra didirikan setelah Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari Pulau Buru. Dalam akta pendirian disebutkan didirikan untuk menerbitkan karya eks tahanan politik serta karya-karya bermutu yang penerbit lain tidak berani menerbitkannya. Rumah Joesoef di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, pun disulap menjadi kantor Hasta Mitra. Dari rumah itu kemudian buku-buku Pram diterbitkan.

 

April 1980 Joesoef, Pramoedya, dan Hasyim Rahman berhasil mendirikan Hasta Mitra. Buku terbitan pertama adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca karya Pramoedya. Di luar dugaan, buku tentang epik nasionalisme Indonesia ini terjual 10.000 eksemplar hanya dalam dua minggu.

 

Pada 29 Mei 1981 buku tetralogi Pulau Buru itu dilarang oleh pemerintah, namun tetap beredar di bawah tanah dari tangan ke tangan. Joesoef pun kembali ditahan. Verdi, anaknya, juga dikeluarkan dari universitas. Tanpa mengindahkan segala rintangan keuangan dan politik, Hasta Mitra melanjutkan penerbitan karya-karya Pramoedya.

Pembredelan yang selalu mengancam buku-buku terbitannya tidak membuat Hasta Mitra menyerah. "Secara ekonomi kami memang babak-belur. Buku belum banyak terjual, larangan keburu terbit. Selalu demikian, sehingga modal yang kami miliki tak pernah balik," kata Joesoef.

 

Bahkan buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu hanya 10 hari "menghirup udara bebas" dan segera masuk daftar pembredelan Kejaksaan Agung. Buku yang berusia paling lama adalah Bumi Manusia. Buku pertama yang diterbitkan Hasta Mitra ini langsung best seller dengan penjualan 50.000 sampai 60.000. Namun 6 bulan kemudian dilarang beredar.

 

Meski buku-buku terbitannya dibredel berkali-kali, Joesoef tidak pernah punya niat untuk melayangkan gugatan. Bagi dia, hal yang paling mendasar adalah Hasta Mitra berhasil menyumbangkan ide dan berpartisipasi dalam penegakan HAM di Indonesia. Apalagi para pendiri penerbit ini sadar hak asasi itu bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh dengan sendirinya. "Dia harus direbut dan ditegakkan dengan perjuangan," katanya.

 

Setelah Soeharto diturunkan dari tahta pada 1998, Hasta Mitra kembali menerbitkan karya-karya Pramoedya dengan peluncuran secara besar-besaran. Ketika Hasyim Rachman meninggal (1999), Joesoef melanjutkan keberlangsungan Hasta Mitra atas namanya sendiri. Semua penerbitan yang keluar dari Hasta Mitra selalu mencoba mempertahankan mutu. Pada tahun 2000 Hasta Mitra menerbitkan buku pertama saksi mata kudeta 1965. Pada 2003 juga menerbitkan CIA Documents: The Effort to Overthrow Soekarno.

 

Penegakan Demokrasi

"Apakah Joesoef akan menerbitkan buku-buku lagi karena pers sudah bebas?" Joesoef menegaskan bahwa pertanyaan itu keliru. "Karena Soeharto sudah jatuh, lalu kita menerbitkan buku? Ini bukan jawaban dalam penegakan demokrasi di Indonesia. Untuk kemerdekaan, untuk memperjuangkan demokrasi, tidak menunggu diberikan oleh penguasa. Kita harus berjuang, melawan penguasa represif, penguasa kejam," ujarnya.


Ucapan itu dibuktikan melalui penerbitan buku-buku tanpa kekhawatiran dibredel. Bebas menulis, juga bebas menerbitkan karya. Media juga bertambah, sehingga sering dikatakan demokrasi sudah ada di Indonesia. Pers asing sering mengatakan hal yang sama dengan menunjukkan bukti media mulai bermunculan.

 

Joesoef tetap yakin bahwa yang memerdekakan pers dan yang membuat kekebasan pers lahir adalah karena rakyat merebutnya. Bukan karena adanya undang-undang perlindungan pers. Dia percaya militer akan takut membredel kalau rakyat melawan. Menurut dia, demokrasi bukan diberikan oleh pemerintah, melainkan direbut oleh rakyat.

 

Namun, dia prihatin karena melihat sejak kejatuhan Soeharto sampai sekarang demokrasi tetap jalan di tempat. "Rezim otoriter yang berkuasa selama 30 tahun tentu saja meninggalkan sampah yang sangat banyak. Sampah busuk, baunya luar biasa. Tetapi kita tidak pernah membersihkannya. Kita mencoba mendirikan demokrasi di tengah tumpukan sampah itu, tanpa membersihkan landasannya. Bagaimana demokrasi bisa dibangun?" katanya.

 

Pandangan itu disepakati jurnalis Bersihar Lubis. Dia menilai perkembangan pers saat ini mundur. Tidak hanya tulisan di media, bahkan surat pembaca yang dimuat pun bisa digugat dengan alasan pencemaran nama baik. Kebebasan pers banyak disalahtafsirkan penegak hukum. Kebablasan itu bukan cerminan pers reformasi.

 

Menurut Bersihar, yang bertanggung jawab atas kebebasan pers adalah eksekutif dan legeslatif, karena mereka yang membuat undang-undangnya. "Media harus mengawal jika para pembuat undang-undang bergeser. Hal itu pernah dilakukan Joesoef Ishak melalui terbitan Hasta Mitra. Membaca masa depan harus membaca hari ini. Membaca hari ini harus membaca sebelumnya," katanya.

 

Perayaan ulang tahun ke-80 Joesoef Ishak juga ditandai penerbitan Liber Amicorum. Buku ini menuturkan perjalanan Joesoef sebagai wartawan dan penerbit serta tanggapan para koleganya. Sebagai penerbit Joesoef membuktikan berhasil tetap setia dalam usaha menegakkan demokrasi. (E4)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

    Tidak ada data 5 Kisah terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Bingkai

Mengoyak Pohon Kekuasaan

26 Agustus 2008 - 17:37 WIB

 Panas jalur menuju Istana. Jalan sendiri atau berkendara.

 

Perang wacana bursa pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009 sudah dimulai. "Hiruk-pikuk" itu berupa perang urat syaraf kandidat tua dan kandidat muda, hingga pencalonan kandidat dari jalur perseorangan.


Geliat pengajuan diri calon presiden

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN

8 Agustus 2008 - 16:24 WIB

Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru

15 Agustus 2008 - 16:58 WIB

Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor

1 Agustus 2008 - 16:1 WIB

Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas

1 Agustus 2008 - 15:33 WIB

Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat

1 Agustus 2008 - 16:33 WIB

Arsip Berita »

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua
Teater Sandekala