| 03 September 2010 |
Cakrawala
Film "Maaf, Saya Menghamili Istri Anda"
Panggung Sandiwara Tanpa Logika
20 Juni 2007 - 17:49 WIB
Rosmi Julitasari S
![]() |
Judul lagu grup musik lawas Godbless itu rasanya pas untuk menggambarkan film ini. Panggung sandiwara inilah yang dilakoni tokoh Dibyo yang memiliki banyak identitas, mulai dari bintang film terkenal, guru akting, hingga orang Batak bernama John (padahal dia orang Jawa).
Lakon yang ia perankan untuk mengatasi kesulitan hidup malah menjerumuskannya ke berbagai masalah. Dibyo menghamili Mira, istri Lamhot Simamora. Saat berusaha menjadi gentleman, mengatakan baik-baik apa yang telah terjadi, Dibyo malah terjebak bentrokan antargang Batak dan Timor yang melibatkan Simamora. Masalah Dibyo bertambah karena dipaksa menikahi Butet, adik Lamhot, "hanya" karena ketahuan tidur bareng.
Monty Tiwa, sang penulis cerita film ini, rupanya hendak mengangkat berbagai permasalahan di masyarakat melalui tokoh yang diperankan Ringgo Agus Rahman. Dibyo yang pengangguran amat terobsesi menjadi bintang peran terkenal. Nasib baik yang tak pernah berpihak membuatnya terus menganggur dan hanya sempat menjadi pemain figuran. Selebihnya, tak ada uang, bahkan untuk membayar sewa kamar. Permasalahan terus digulirkan. Konflik horizontal antarsuku yang berdasar pada ekonomi (perebutan lahan parkir) menggeser permasalahan utama di film ini.
Jenis Film: Drama/Comedy Rudi Soedjarwo |
Kegetiran yang menimbulkan tawa adalah kesan yang disampaikan film produksi Sinemart Pictures ini. Untuk sekadar hiburan, tanpa perlu mencerna apa-apa, bolehlah. Namun, konflik yang dibangun, nyatanya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Mira, seorang anak rektor universitas terkenal, eksekutif muda pula, bisa menikah dengan Lamhot Simamora, yang preman pengangguran?
Sang penulis rupanya tidak melakukan riset mendalam saat menggambarkan adat suku Batak. Hubungan antarmarga yang digambarkan begitu feodal, berlainan dengan kenyataan hubungan berdasarkan partuturon (silsilah keluarga). Sikap Butet (adik Lamhot) yang mengancam pedagang sayur hanya karena harga telur pun terlalu berlebihan. Sulit dicerna akal sehat, bahkan oleh perempuan Batak mana pun.
Akting yang hambar, kurangnya pengembangan karakter oleh para pemain, adegan kekerasan yang berlebihan, dan seting tempat yang tidak pas terasa sekali di film ini. Monty Tiwa perlu melakukan pembenahan sana-sini untuk filmnya yang akan datang. Dan Monty Tiwa bisa jadi menghadapi kegetiran yang sama dengan Dibyo: protes keras dari marga Simamora.
Dan panggung sandiwara pun terus bergulir...
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Kontras ‘Gandeng’ JiFFest Perjuangkan HAM Melalui Budaya dan Etik5 Desember 2008 - 10:30 WIB
- Komunitas Seni Solo Kecam Penolakan Film 'Lastri'17 November 2008 - 19:9 WIB
- FPI Rusuh di Mahkamah Konstitusi1 Mei 2008 - 12:10 WIB
- MK Tolak Uji Materi UU Perfilman 1 Mei 2008 - 11:52 WIB
- Dubes Belanda Temui Perwakilan Ormas Islam7 April 2008 - 17:15 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Bingkai
Tumbal-tumbal Krisis
31 Desember 2008 - 17:12 WIB
Mereka yang tumbang paling awal. Dan bangkit paling akhir.
Prasetyo tidak pernah menyangka rontoknya pasar saham Wall Street di Amerika Serikat akan menjungkalkan periuk nasi keluarganya. Dia juga tidak pernah percaya anjloknya harga saham bernilai miliaran dolar di tempat nun jauh di
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB








