Voice of Human Rights News Center

English English 28 Agustus 2008  

 

Cakrawala

Pentas Teater Tanah Air

Pesan Damai Anak Dunia

Kurniawan Tri Yunanto

yang tak berdaya kita tolong

tidak boleh pilih kasih

damai harus tanpa warna...

 

 Syair lagu itu mewarnai hampir sepanjang pertunjukan Spectacle Peace oleh Teater Tanah Air di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 13-15 Juni 2008. Teater anak ini mencoba mengingatkan perlunya perdamaian. Kekerasaan dan kepalsuan di dunia harus segera diakhiri. Pesan itu disampaikan oleh anak-anak, yang notabene rawan kekerasan. Melalui teater ini melalui permainan dan bahasa anak yang penuh dengan kepolosan dan kejujuran.

 

Pentas selama hampir dua jam itu dibuka adegan anak-anak raksasa bermain di rimba raya. Secara fisik, anak-anak raksasa itu memang menakutkan. Rambut gimbal dan hidung besar menambah seram tampang mereka. Sama sekali tidak ada tampang imut atau lucu. Namun, di balik keseramannya, sifat dasar bocah masih melekat di hati mereka.

 

"He... ha... he... oo... he.. .ha... he... ooo. Kita lahir di dalam hutan. Pohon-pohon dan binatang adalah teman. Sambil berlari dan kejar-kejaran. Tidak seperti makhluk yang suka bertengkar. Pilih-pilih orang, tidak suka berkawan." Nyanyian itu bergema diikuti keceriaan.

 

Dunia anak memang menyenangkan. Sekumpulan anak raksasa itu asyik bermain di balik kepedihan dan kegelapan hutan rimba. Sebuah kegelapan yang tidak mengenal belas kasihan. Siapa yang kuat dialah yang menang. Segala kekuatan negatif itu seakan tidak dihiraukan. Ketakutan seakan tertutup keluguan dan kepolosan. Tidak ada kekuatan yang mendominasi. Tidak ada kecurigaan yang mengarah perpecahan. Dan tidak ada niat saling menyakiti. Semua itu terbantahkan oleh kedamaian di balik canda dan kepolosan para bocah.

 

Suatu hari muncul pemburu binatang purba yang beringas dan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya. Si pemburu berpikir, dengan mengumpulkan materi, segalanya akan terpenuhi. Padahal, pencapaian keinginan dengan segala cara sering menghadirkan malapetaka. "Dengan telur ini aku akan menjadi kaya," kata si pemburu setelah menemukan telur binatang purba. Dia lupa telur adalah cikal bakal kehidupan. Kelangsungan hidup berjuta-juta binatang berawal dari telur. Rencana jahat itu diketahui kawanan anak raksasa.

 

Dalam waktu yang sama sekelompok anak dari lima benua yang sedang berkemah menemukan telur yang telah dicuri si pemburu. Mereka berusaha menyelamatkan telur kehidupan. Namun, anak benua curiga begitu melihat anak raksasa. Anak-anak gimbal dianggap akan mencuri telur binatang purba itu. Ketika terjadi perebutan, si pemburu jahat muncul. Pertengkaran tak terhindarkan. Situasi itu dimanfaatkan si pemburu untuk mengadu domba anak raksasa dan anak benua.

 

Kejujuran dan Kepolosan

 Telur kehidupan kembali dikuasai pemburu. Anak benua dan anak raksasa baru tersadar mereka ditipu. Keajaban terjadi. Ketika akan dijual, telur berukuran besar itu menetaskan kehidupan baru. Bayi binatang purba yang baru saja melihat dunia dan anak benua telah dikuasai pemburu. Kawanan anak raksasa melihat dari kejauhan. Mereka berusaha membantu. "Ayo bantu teman kita. Siapa saja yang mau menolong, silahkan naik ke panggung," teriak salah satu anak raksasa.

 

Ajakan itu disambut antusias penonton yang sebagian besar anak-anak. Puluhan anak berhamburan naik ke atas panggung. Bayi binatang purba dan anak benua akhirnya diselamatkan anak raksasa bersama anak-anak lainnya. Mereka menyanyi bersama. "Kami anak seluruh bangsa, pewaris... mari kita jaga persaudaraan... walau kami kecil, tapi pasti... jalan kami pelan, tapi lurus, damai... .damai.. .damai"


Jose Rizal Manua mengemas pertunjukan ini melalui pendekatan bermain. Pendiri Teater Tanah Air sejak 1988 ini merasa dekat dengan dunia anak dan tidak merasa kesulitan menggelar berbagai pementasan anak. Menurut dia, kejujuran dan kepolosan anak harus terus ditumbuhkan. Dengan cara itu, perdamaian yang sesungguhnya akan tercipta. Namun, upaya itu justru terganggu kondisi yang tidak dimengerti oleh anak.

 

"Melalui pementasan ini kami coba mengingatkan bahwa perdamaian yang disuarakan oleh anak-anak lebih murni dan jujur daripada yang dikatakan orang dewasa. Kita harus terus mengingatkan. Apalagi kondisi bangsa kita yang seperti ini cukup memprihatinkan. Mari kita bangun dengan saling menghargai," ujarnya.

 

Hal senada disuarakan Adinda, salah satu pemeran anak lima benua. Menurut dia, keinginan saling membantu dan saling menghargai tidak sepenuhnya sadari dan dilakukan beberapa negara di dunia. Umumnya kepedulian muncul hanya ketika musibah melanda. "Secara keseluruhan belum ada perdamaian. Masih ada pertengkaran antarnegara. Aku melihat masih sedikit rasa saling menolong dan saling menghargai antarnegara," katanya.

 

Siswa kelas II SMP ini berharap rasa saling tolong menolong dan cinta damai terus terjaga. Dia ingin menularkan virus perdamaian melalui teater dan menyebar di hati manusia di seluruh dunia. "Semoga semua orang tidak akan takut membela kebenaran. Harus berani karena benar," kata Dinda.

 

Niken, pemeran telur binatang purba, senang mendapatkan kesempatan menyuarakan perdamaian. "Senang sekali bisa menyuarakan perdamaian. Semua orang kan pernah marahan. Kalau bisa jangan ada lagi. Perdamaian itu kerja sama, tolong-menolong dan berteman dengan siapa pun," tutur siswa sekolah dasar ini.

 

Rawan Kekerasan

 Kondisi anak di Indonesia dan belahan dunia lainnya masih rawan kekerasan. Di Indonesia setiap tahun 700 ribu hingga 1 juta perempuan dan anak menjadi korban perdagang manusia. Praktik itu umumnya terjadi di kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Padang, Surabaya, Bali, dan Makassar. Di daerah pariwisata, kasus eksploitasi seksual komersial anak juga sering terjadi.

 

Negara harus mendorong gerakan nasional stop kekerasan terhadap anak agar anak lebih mempunyai akses mendapatkan hak baik dalam keluarga, lembaga pendidikan, maupun di masyarakat. "Kalau itu gerakan itu dicanangkan, kondisi anak akan lebih baik. Karena kedamaian itu dimulai dari anak-anak. Tapi kalau anak-anak terus mengalami kekerasan, perdamaian ini tidak akan terwujud," kata Seto Mulyadi, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak.

 

Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto menyatakan sangat mendukung pentas Spectacle Peace. Pesan damai itu dengan spontan dan kreatif diserukan oleh anak yang kerap kali mengalami kekerasan baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan yang lebih luas. "Sebaiknya kita, para orang dewasa, belajar rendah hati seperti anak-anak. Kejujuran mereka dan keberanian mereka mengungkapkan kebenaran harus diteladani orang dewasa yang kadang penuh sandiwara," ujarnya.

 

Dalam rangkaian Hari Anak Nasional, anak-anak Teater Tanah Air akan mengikuti 10th World Festival of Children Theatre di di Rusia. November nanti mereka juga akan memainkan lakon Spectacle Peace di markas PBB di Jenewa. Setelah itu mereka manggung di Prancis dan Belanda. Semuanya menyuarakan perdamaian. (E4)

Foto-foto VHRmedia/Kurniawan Tri Yunanto

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »



Berita Terkini

Bingkai

Mengoyak Pohon Kekuasaan

26 Agustus 2008 - 17:37 WIB

 Panas jalur menuju Istana. Jalan sendiri atau berkendara.

 

Perang wacana bursa pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009 sudah dimulai. "Hiruk-pikuk" itu berupa perang urat syaraf kandidat tua dan kandidat muda, hingga pencalonan kandidat dari jalur perseorangan.


Geliat pengajuan diri calon presiden

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN

8 Agustus 2008 - 16:24 WIB

Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru

15 Agustus 2008 - 16:58 WIB

Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor

1 Agustus 2008 - 16:1 WIB

Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas

1 Agustus 2008 - 15:33 WIB

Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat

1 Agustus 2008 - 16:33 WIB

Arsip Berita »

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua
Teater Sandekala