Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Curhat

Bukan Salah Kartinem...

Rieke Diah Pitaloka

Muka Kartinem pucat pasi. Sepucat tissue basah yang biasa digunakannya untuk mengelap selangkangan Aditya, bila bayi tujuh bulan itu buang air besar. Pagi itu Nyonya Siska (mama Aditya) membentak-bentak Kartinem, baby sitter yang telah merawat dan mengasuh bayinya sejak usia satu minggu. Aditya kini sedang terbaring di ruang ICU sebuah rumah sakit. Bayi itu terserang diare hebat. Kata dokter, ia perlu perawatan khusus, karena mengalami dehidrasi berat. Bila tidak, akibatnya fatal. Aditya bisa kejang-kejang. Saraf-saraf tubuhnya bisa lumpuh total.

 

Nyonya Siska panik. Uring-uringan. Marah-marah. Ngomel-ngomel. Menuduh Kartinem sebagai penyebab diare Aditya.

 

"Sudah berkali-kali saya ingatkan, botol susu harus steril!" hardik Nyonya Siska.

"Sudah saya sterilkan, Bu," sela Kartinem, gugup.

"Jangan membantah! Sudah jelas kamu yang salah. Nggak becus!" omel Nyonya Siska lagi, matanya melotot.

 

Meski masih muda belia, Kartinem sudah malang melintang di dunia asuh-mengasuh bayi selama delapan tahun. Saking lamanya, ia sampai lupa nama-nama bayi yang pernah dirawatnya. Kartinem cekatan dan telaten. Ia sangat paham tabiat bayi. Ia mengenal bayi seperti ia mengenal telapak tangannya sendiri. Bayi serewel apa pun, selalu nyaman dan diam dalam dekapannya. Karena itu, Kartinem terbilang pengasuh bayi berpengalaman. Rasanya tak mungkin ia lupa mensterilkan botol susu Aditya. Mustahil pula ia yang menyebabkan Aditya terserang diare. Tapi, apa boleh buat! Baby sitter tetaplah baby sitter. Pengasuh tetap saja pengasuh. Mungkin, bagi Nyonya Siska, baby sitter sama seperti Ninuk dan Kunti, dua orang pembantu di rumahnya. Pagi itu juga Kartinem harus angkat kaki dari rumah Nyonya Siska. Kesalahannya tak terampuni. Kartinem dipecat, hanya karena dugaan yang belum tentu benar. Majikan Kartinem tak mau ambil risiko. Bila Kartinem dipertahankan, bisa saja si kecil Aditya terserang penyakit yang lebih parah lagi. Kartinem pun bergegas membuntal pakaian, meninggalkan rumah itu.

 

Untunglah beberapa hari kemudian Aditya sembuh. Ia sudah melewati masa kritis. Bayi itu kembali lincah dan gesit seperti semula. Kata dokter, diare Aditya bukan karena botol susu yang tidak steril, melainkan karena susu formula yang dikonsumsi Aditya kelebihan kandungan lactosa. Dokter menyarankan susu Aditya diganti dengan susu formula yang rendah kadar lactosa. Selesai satu masalah, timbul masalah baru. Nyonya Siska kerepotan merawat Aditya. Bayi itu rewel terus-terusan sejak kepergian Kartinem. Semula Nyonya Siska dan suaminya agak sungkan menghubungi yayasan penyalur baby sitter tempat Kartinem kini berada. Tapi, kalau mereka mencari baby sitter lain, penyesuaiannya pasti butuh waktu. Aditya bisa lebih rewel lagi. Dengan berat hati, Nyonya Siska tetap meminta Kartinem kembali ke rumahnya.

 

"Maaf Bu, Kartinem sudah pulang ke Magelang!" begitu jawaban pihak yayasan ketika ditelepon Nyonya Siska

"Kapan dia balik ke Jakarta? Kami sangat butuh!" tegas Nyonya Siska.

"Kami kurang tahu. Tapi, kami masih punya beberapa orang baby sitter kalau Ibu mau."

"Tidak. Kami akan tunggu Kartinem!"

 

Sementara itu, di sebuah desa kecil di daerah Muntilan (Magelang), seorang gadis muda tampak sedang bimbang. Padahal, bila sudah kembali ke Jakarta, tidak akan sulit ia mendapatkan majikan baru. Cuma, ia khawatir kalau ketemu majikan seperti Nyonya Siska, yang main bentak semaunya, main pecat seenaknya. Dulu, Kartinem memilih ikut pendidikan baby sitter karena ia tidak mau jadi pembantu. Bagi Kartinem, pengasuh bayi punya keahlian khusus, tidak bisa diperlakukan sama dengan pembantu. Tapi, amarah Nyonya Siska masih saja terbayang di benaknya. Kartinem takut bila majikan barunya nanti juga memperlakukan dirinya seperti pembantu. Ia enggan kembali ke Jakarta. Padahal, banyak nyonya kaya menunggu Kartinem, termasuk Nyonya Siska yang terus -menerus merasa bersalah setelah mengusir pengasuh bayi terbaik yang pernah ia miliki....

©2010 VHRmedia.com


20 Komentar

  1. Sari
    13 Juni 2007 pukul 16:27

    Menjadi orang kecil memang tidak enak. Selalu ditindas. Saya tidak habis pikir terhadap orang kaya yang selalu seenaknya menuruti emosi mereka, tanpa pernah berpikir kalau orang-orang yang bekerja pada mereka adalah manusia juga. Andai saja Kartinem banyak uang, ia tidak akan pernah memilih untuk jadi pembantu.

  2. netty
    29 Juni 2007 pukul 8:31

    Wajar kalau ibu si anak merasa itu kesalahan baby sitter, karena keseharian anak lebih banyak bersama ibunya. Walaupun diarenya disebabkan susu formula, harusnya sudah terpantau oleh baby sitter sebelum diarenya bertambah parah, dan kewajibannya memberi tahu kepada majikannya bahwa anak ini setelah minum susu tersebut diare. Dan sebaiknya pemberian susu dihentikan... karena tidak mungkin awal-awal pemberian susu langsung mengakibatkan diare hebat. Tapi saya juga kurang setuju dengan sikap ibu itu yangg arogan, dengan langsung membentak dan memecatnya tanpa minta penjelasan dari dokter penyebab diare tersebut. Dulu anak saya keselek susu waktu usia 3 bulan. Baby sitter nggak ngaku setelah dokter mengatakan bayi ini sudah pasti keselek susu karena di paru-parunya banyak susu. Malahan baby sitter diomelin dokter, kenapa nggak ngomong dari tadi, jadi tindakan medis bisa langsung pada tujuan. Akibat kejadian itu anak saya masuk ICU seminggu, dan hampir saja meninggal dunia karena napasnya sempat berhenti. Jadi, kita sebagai majikan serba salah juga, baby sitter itu tidak saya pecat atau marahin akibat kasus ini, tapi sebulan kerja dia minta ijin mau ke yayasan karena ada saudara nunggu disana untuk ambil gaji dia dan berjanji akan kembali malamnya, ternyata malam tidak kembali juga tidak mengabari, akhirnya saya telp kok tidak balik? dia bilang besok pagi, sebab sudah kemalaman... padahal besok saya harus bekerja, suami saya marah, dan menyuruh saya ambil baby sitter yang baru saja, karena dari sini bisa dilihat sang baby sitter tidak ada rasa tangggung jawabnya terhadap anak asuhnya

  3. Irwan Effendi
    4 Agustus 2007 pukul 9:36

    ya, ini memang masalah professionalisme, bukan masalah orang kaya atau orang kecil.

  4. nuris
    5 Agustus 2007 pukul 9:20

    saya juga seorang baby sitter lho,saya pernah mengalami kejadian spt kartinem.....bayi yg saya asuh dulu mencret2 dan alhamdulilah krn saya tahu wkt pendidkan beberapa penyebab diare bayi apa saja,maka saya buru2 mengadu kpd majikan saya tntng dugaan susu yg kadar lactosa nya terlalu tinggi dan akhirnya di ganti dg susu LLM,alhamdulilah cerita saya tdk se tragis di cerita ini.....mungkin seorang baby sitter perlu menggali wawasan yg banyak tentang pengurusan bayi,tapi kadang para majikan menganggap remeh dan menganggap rendah dg profesi ini padahal tdk mudah lho mengurus bayi di perlukan ke sabaran dan ketelitian......saya harap para majikan sadar diri lah...jangan sewenang2.....toh di mata tuhan kemuliaan bukan berdasarkan harta tapi akhlaq yg baik....serta iman dan taqwa

  5. Rohim Budiman
    6 September 2007 pukul 21:28

    makanya. punya pembantu ya ajarin dulu.

  6. Ardi
    8 Oktober 2007 pukul 13:1

    namanya manusia psti ada yg \"mis\", klo bisa lebih sabar lg kan happy ending

  7. Ardi
    8 Oktober 2007 pukul 13:3

    namanya manusia psti ada yg \"mis\", klo bisa lebih sabar lg kan happy ending

  8. nova
    26 Oktober 2007 pukul 23:9

    kalo si ibu gak punya kesibukan ato tidak berkarir diliuar rumah, memang sebaiknya bayi dirawat sendiri dan diminumi susu produksi sendiri alias ASI sampai sebosannya bayi (biasanya sih antara 1-2 tahun).
    tapi, jikapun terpaksa menggunakan jasa pengasuh ato baby sitter, selain memang perlu dikasih tahu tentang kebiasaan majikan ato keinginan majikan dalam pengurusan bayinya, yang paling penting saya pikir adalah membangun hubungan persaudaraan ketimbang hubungan antara atasan dan bawahan. karena objek pengasuhan disini adalah bayi,makhluk hidup dimana yang diperlukan bukan cuma makan,minum dan tidur yang cukup.tapi juga perasaan nyaman,aman dan disayang.
    majikan bisa salah...babysitter juga bisa salah....tapi bayi?

  9. indhie
    27 November 2007 pukul 13:51

    pernah punya pengalaman yang mirip juga .. ungtunglah si mbak (baby sitter) cukup tanggap .. langsung ngabarin begitu anak saya ngalamin diare ... langsung dibawa ke dokter hari itu juga .. ternyata dia gak tahan ama laktosa yang ada di susu formula ..(maklum hari pertama kerja dan hari pertama dia konsumsi susu formula) akhirnya susu diganti .... n sampe kini gak da masalah ... si mbak pun masih bekerja pada kami ... hingga kini

  10. adi tHea
    30 November 2007 pukul 14:46

    emang kalau jadi orang yang ga punya sering menjadi korban, tapi ga semua orang kaya juga suka menindas.

  11. Duljoni
    8 Januari 2008 pukul 0:46

    Saya saat ini memiliki seorang baby sitter yang cekatan dan telaten dan saya sangat bersyukur sekali mendapatkannya. Sebelumnya, saya pernah mengalami bagaimana sulitnya mencari seorang baby sitter, ketika harus merambah sebuah desa pelosok yang bahkan listrik juga blom ada. Disana rata - rata para gadis bekerja sebagai pramuwisma atau baby sitter.Ketika dapet, baru 1 malem udah minta pulang dan minta uang saku. Kesalahan saya waktu itu ngga cari info ttg desa tsb yg ternyata menurut bbrp temen emang banyak gadis2 muda yang melakukan modus operasi serupa ( pura - pura ngga betah, 1-3 hari minta pulang plus uang saku ).
    Menurut saya, disamping profesionalitas, kita juga harus memperlakukan mereka sebagai bagian dari keluarga sendiri karena sebenarnya kita mempercayakan satu tahap fase perkembangan anak kita kepada mereka.

  12. cynthia
    9 Mei 2008 pukul 15:43

    walaupun baby siter bersalah atau tidak .setidaknya majikan harus punya hati nurani ,kemanusiaan.karna tanpa pembantu /baby siter.kita kadang kewalahan .karna manusia ,baik presiden pun punya kesalahan,ulama,pendeta.yang terpenting saling memaafkan.karna Tuhan pun mengampuni dosa orang yg bersalah.

  13. melissa ch
    19 Mei 2008 pukul 23:8

    hub.antara babysister & majikan harus dibina dg baik.saat ini saya memiliki 1 babysister yg cekatan.dia mengasuh putra saya dr 1.5-saat ini.saya byk bertanya kpd dia ttg byk hal mengenai asuh bayi.dan jawaban yg dia berikan menurut saya bgs ,sesuai dg yg saya baca di buku2.maklum si kmbr adalah anak pertama saya.jd saya kewalahan ketika mrk lahir.untung saya mendptkan babysister yg telaten & cekatan u/ putra saya.tp tdk dg putri saya, dia tlh gonta ganti 5x babysister sejak lahir sampai skrg usia 9.5 bln.untung ada babysister yg asuh putra saya, yg bantu saya selama proses gonta ganti ini.saya anggap dia sbg bagian keluarga.

  14. melissa ch
    19 Mei 2008 pukul 23:9

    hub.antara babysister & majikan harus dibina dg baik.saat ini saya memiliki 1 babysister yg cekatan.dia mengasuh putra saya dr 1.5-saat ini.saya byk bertanya kpd dia ttg byk hal mengenai asuh bayi.dan jawaban yg dia berikan menurut saya bgs ,sesuai dg yg saya baca di buku2.maklum si kmbr adalah anak pertama saya.jd saya kewalahan ketika mrk lahir.untung saya mendptkan babysister yg telaten & cekatan u/ putra saya.tp tdk dg putri saya, dia tlh gonta ganti 5x babysister sejak lahir sampai skrg usia 9.5 bln.untung ada babysister yg asuh putra saya, yg bantu saya selama proses gonta ganti ini.saya anggap dia sbg bagian keluarga.

  15. marcell
    20 Mei 2008 pukul 6:56

    Kasihan si babysiter si majikan sok mentang2 jangan gitu dong ,saya punya 4 anak semua diasuh babysiter tetapi buarpun ada babysiter kita sebagai orang tuanya juga tidak boleh lepas tanggung jawab soal mengasuh ,,,,soal salah susu formula seharusnya orang tua si baby harus cepat tanggap kalau babynya mencret2 dan soal susu tidak cocok ini bukan kesalahan babysiter.
    Ini 100% kesalahan orang tua si baby ,rasain lu kalau gak ada babysiter gimana susahnya merawat baby apalagi yang cerewet
    saya sudah ngalami ber-kali2 kalau babysiter mudik hari raya.
    Makanya jadi majikan jangan sok ,jadilah majikan yang baik dan
    bijaksana (orang bijak pasti baik tapi orang baik belum tentu bijak)
    Jadi majikan berpikirlah jauh kedepan ,dia nggak akan jadi babysiter kalau kaya seperti sang majikan .

  16. gramsci
    19 Juni 2008 pukul 2:25


    konkreet:antara majikan dan baby siter harus membangun hubungan 2 arah yang sifatnya komunikatif,jangan membangun berdasarkan status sosial karna akan melahirkan eksploitasi,sistem instruksi,yang akan berakibat pada kondisi bayi dalam hal ini negatif(sakit).dan jangan ketika ada kesalahan selalu mengumpet di balik benteng manusiawi.

  17. ambar
    31 Juli 2008 pukul 13:39

    baby sitter juga manusia.
    kita harus menjunjung sikap saling menghargai satu sama lain.
    jangan pernah merasa kita lebih dihadapan orang lain, pada prisipnya kita adalah sama2 makhluk Allah.


  18. arien
    14 September 2008 pukul 9:20

    harusnya jangan langsung maen pecat.tapi d tanyain dulu baik2.akhirnya nyesel sendiri deh karena g ada yang bantu.dan merugikan kartinem karena takut mau kerja,takut ketemu ma si nyonya n terus disalahkan atas sakit diare anaknya.akhirnya pengangguran nambah deh.

  19. henslib
    13 November 2008 pukul 15:17

    hehehe....seru sekali ya opini2 nya...
    xixix,,,xixix...xixix...

  20. Zz
    29 September 2008 pukul 7:4

    Nasib.......

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Tumbal-tumbal Krisis

31 Desember 2008 - 17:12 WIB

Mereka yang tumbang paling awal. Dan bangkit paling akhir.


 Prasetyo tidak pernah menyangka rontoknya pasar saham Wall Street di Amerika Serikat akan menjungkalkan periuk nasi keluarganya. Dia juga tidak pernah percaya anjloknya harga saham bernilai miliaran dolar di tempat nun jauh di

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua