| 03 September 2010 |
Curhat
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Rieke Diah Pitaloka
Selasa pagi di ujung Gang Murai. Ibu-ibu rumah tangga sedang sibuk memilih aneka sayuran dan ikan basah yang bergelantungan di atas gerobak milik Lasmi, penjaja belanjaan dapur yang saban hari mangkal di sana. Karena harga sayuran Lasmi terbilang murah dibanding harga jualan tukang-tukang sayur lain, hampir separuh ibu-ibu di lingkungan Gang Murai telah jadi pelanggannya sejak lama. Tapi kali ini tak seperti pagi biasanya. Bu Ariani, perempuan beranak satu yang menyewa rumah petak di Gang Murai, tak muncul pagi itu.
"Tumben, Bu Ariani nggak belanja?" tanya tukang sayur itu.
"Oh iya Ibu-ibu, saya sampai lupa. Tadi malam anaknya Bu Ariani dilarikan ke rumah sakit. Katanya kena diare," jelas Bu Kasturi, juragan kos-kosan yang rumahnya berdekatan dengan rumah kontrakan Bu Ariani.
"Oh, saya baru dengar, Bu! Sekarang gimana keadaannya?" tanya Bu Rahmadi penuh perhatian.
"Duh, kasihan Bu Ariani. Anaknya dirawat di mana, Bu?" sambung Bu Tedjo.
Ini dia pertanyaan yang sejak tadi ditunggu-tunggu Bu Kasturi. Rupanya orang yang disebut-sebut paling kaya di Gang Murai itu tak sekadar berkabar perihal musibah yang tengah menimpa Bu Ariani, tapi sekaligus hendak melunaskan rasa iri dengkinya pada Bu Ariani. Obrolan ringan itu perlahan-lahan meruyak menjadi gunjing khas ibu-ibu.
"Di Rumah Sakit Sentra Medika yang mahalnya selangit itu lho, Bu! Saya heran tuh, rumah aja masih ngontrak, mau sok kaya segala," langsung saja Bu Kasturi menyambut tanya Bu Tedjo.
"Mestinya Bu Ariani bawa anaknya ke rumah sakit negeri aja ya, Bu?"
"Iya. Suami cuma sopir taksi, lagaknya minta ampun. Dia mau bayar pake apa coba?" tukas Bu Kasturi lagi sambil geleng-geleng kepala.
Ibu-ibu lain hanya manggut-manggut mendengar omelannya. Begitulah Bu Kasturi! Orang yang sudah berkelimpahan harta itu jangankan memberikan bantuan guna meringankan beban Bu Ariani yang sedang terkena musibah, tapi justru menyebarkan kedengkian hanya gara-gara tetangganya yang hidup pas-pasan itu mengobati anaknya di rumah sakit swasta. Ibu yang satu ini memang agak lain. Bukan saja iri dengki pada tetangga-tetangga yang bakal menandingi kekayaannya, pada orang yang tertimpa musibah seperti Bu Ariani pun ia cemburu. Ya, cemburu karena Bu Ariani "tak tahu diri" dan tidak "mengukur bayang-bayang seukuran badan". Hidupnya sudah susah, kenapa tidak berobat di rumah sakit milik pemerintah saja? Di rumah sakit mewah, apa dia sanggup bayar? Begitu Bu Kasturi menggerutu.
Sepulang dari rumah sakit, Ariani kembali berbelanja keperluan dapur di ujung Gang Murai. Umpat-gunjing perihal Ariani yang "sombong", "sok kaya" dan "tak tahu diri" masih saja berdengung di telinganya, lebih-lebih dari mulut ember Bu Kasturi. Sekali waktu Ariani ingin menyela gerutuan Bu Kasturi, Bu Tedjo, Bu Rahmadi, dan ibu-ibu lain dengan mengatakan, "Terserah saya, dong. Apa pernah saya berutang pada kalian?" Namun, buru-buru niat itu diurungkannya.
Begitulah Ariani, meski hidup pas-pasan, rumah masih ngontrak, bila anaknya sakit ia tidak mau membawanya ke puskesmas atau ke rumah sakit negeri, tapi ke rumah sakit swasta. Bukan karena Ariani "sombong", "sok kaya", atau "tak tahu diri", melainkan karena ia ingin beroleh layanan kesehatan yang memadai. Mahal sedikit tak apa, tapi diperlakukan secara manusiawi. Berobat ke puskesmas atau ke rumah sakit negeri biayanya memang murah, tapi pasien kerap diperlakukan seperti sampah. Di sebuah rumah sakit pemerintah yang kerap di singkat RSCM, Ariani pernah menyaksikan seorang pasien yang kepalanya bocor karena kecelakaan. Petugas-petugas Instalasi Gawat Darurat bukannya bergegas menangani pasien sekarat itu, malah mendesak dan membentak pihak keluarga agar segera mendaftar dan mengurus administrasi diri lebih dahulu, setelah itu, barulah pasien akan diurus. Tapi saking lama dan berbelit-belitnya urusan adiministrasi itu, pasien sudah keburu mati sebelum sempat diperiksa. Sejak itu Ariani menyebut RSCM sebagai Rumah Sakit Cepat Mati.
Tak berselang lama setelah gunjing perihal keluarga Ariani tersiar di Gang Murai, giliran Bu Kasturi yang harus terbaring di rumah sakit. Ia terserang stroke ringan dan dirawat inap selama beberapa hari. Beda dari Ariani, Bu Kasturi memilih dirawat di rumah sakit negeri. Entah karena pertimbangan apa. Ariani bersama rombongan ibu-ibu dari Gang Murai datang menjenguk Bu Kasturi yang masih terbaring lemas, ditemani beberapa orang anak dan cucu.
"Cepat sembuh ya, Bu!" begitu Ariani menyapa.
"Terima kasih Ibu-ibu sudah datang menjenguk saya."
"Sudah berapa hari di sini, Bu?" tanya Bu Tedjo
"Sudah enam hari. Mau pulang, tapi belum diizinkan dokter."
"Ya sudah Bu, cepat sembuh, biar cepat pulang," imbuh Bu Rahmadi sambil memijit-mijit kaki Bu Kasturi.
"Nggak apa-apa, dirawat satu bulan pun nggak masalah bagi saya."
"Lho, kok gitu? Apa Bu Kasturi pingin lama-lama di rumah sakit?"
"Nggak apa-apa. Saya sudah ngurus kartu Gakin!"
"Sepeser pun saya nggak bakal ngeluarin biaya pengobatan. Semuanya gratis!" sambung Bu Kasturi.
Ibu-ibu Gang Murai terperangah. Ariani tentu maklum, bagaimana cara orang paling kaya di Gang Murai itu memperoleh "surat keterangan miskin" dari kelurahan hingga berhasil mengantongi kartu Gakin.... (*)
©2010 VHRmedia.com
13 Komentar
- Andi K. Yuwono
12 Juli 2007 pukul 14:14Negeri dongeng yang nyata, orang miskin dipaksa menjadi "kaya" dan yang kaya lantas berpura menjadi miskin merebut petak orang yang berhak. Jejal-jejal mulut berbusa di awal, lantas bermetamorfosa menjadi taring-taring yang tajam memangsa kita. Itu wajah para pejabat dan antek anteknya yang masih bercokol.
Dan kita terbuai dengan mimpi itu, sering bahkan bangun terkulai lemas karena orgasme. Sampai kapan dongeng ini akan berlanjut? - Suyono
12 Juli 2007 pukul 15:44Tulisan yang penuh dengan makna. Berburuk sangka dapat mencelakakan diri sendiri. Dan yang kaya selalu mempertahankan kekayaannya dengan berbagai cara. Namun itu adalah contoh kecil di kehidupan kita. Mudah mudahan kita tidak tergolong manusia yang demikian.
- Mega Vristian
12 Juli 2007 pukul 16:56Membaca tulisan Rieke, mengingatkan penyebab awal kawan saya harus menjadi pembantu di Hong Kong. Seperti saya juga. Kemudian saya abadikan peristiwa pilu itu dalam puisi.
--------------
BULAN BERPAYUNG AWAN
Mega Vristian
Saat bulan berpayung awan
Aku terapung di arus waktu
Kulihat bayang wajah emak
Berselimut kabut
Dua telaga kecil bening dicarut marut usia
Muara air mataku ?
Rindu kami menjelma bunga randu
Putih diterbangkan angin
Melayang–layang menjemput angan
Tunggu aku Mak,
Kita tak kan mengulang kisah pedih
Saat keranda menjemput tergesa bapak
Kita tak mampu menahannya,waktu itu
Tunggu Mak kita bisa ke Puskesmas
Aku akan pulang berkendara naga Hong Kong
( Hong Kong)
- syariuddim
13 Juli 2007 pukul 9:42Membaca goresan Mbak Diah... mengingatkan saya pada kejadian 6 tahun lalu, saat tetangga miskin saya harus "disaksikan" kematiannya oleh orang banyak dan sanak saudaranya hanya bisa menangis. Inilah negara kita... negara drakula?????
Ketika mendengar beritanya saya masih dalam perjalanan untuk mengurus kartu miskinnya yang membutuhkan cap birokrasi.... Dan itu yang mendorong saya untuk melakukan advokasi kesehatan sampai sekarang di daerah saya. - iwuk
23 Juli 2007 pukul 18:55Kenapa ya, masih ada hipokrisi macam itu? Menghipokrisi diri sendiri pula! Kartu Gakin diserobot oleh pemilik kos, bukannya rupiah yang nempel di Gakin itu sama dengan tarif pemasukan kos per bulan, per penyewa, per kamar??
Rumah sakit juga gitu deh, jadi bagian industrialisasi kesehatan, promo ke mana-mana, sampe si Ibu Ariani pun rela jadi salesnya. - mareno
8 Agustus 2007 pukul 18:15seingat saya dulu sebelum krismon, tetangga kita , dibilang miskin,dan dia dengar , bisa benjol kepala kita dihajarnya...
sekarang ngaku miskin ngantringantri diloket kantor lurah.....
tenang aja ,ekonomi negara kita membaik....akan hilang fenomena ini...... - SOLIHIN
8 September 2007 pukul 12:32Memang begitu modelnya orang seperti Bu Kasturi, masih banyak Ibu Kasturi yang lainnya yang satu model sama beliau, bagusnya dibuat aja sinetronnya dgn judul \\\"GEMBEL JATUH MISKIN\\\", mungkin banyak sekali nanti penontonnya.
- vjay
13 September 2007 pukul 16:0Masalah miskin dan kaya itu adalah masalah mental. Si Ibu Ariani, mungkin miskin secara finansial tetapi kaya mentalitas. Namun sebaliknya dengan bu kasturi, kekayaannya tidak membuat mentalitasnya menjadi kaya. Tetap saja mental miskin, sampe rela merampok yang bukan haknya.... Nach... masalh bangsa ini bukan kemiskinan, kesulitan dan tetek bengeknya... tapi mentalitas nya.
- adi
23 Maret 2008 pukul 18:20waduh..parah juga sih negeri kita,,,emang saya juga pernah punya pengalaman,ngurus orang kecelakaan,pasien datang bukannya ditanganin malah ditelantarkan,apa mereka ga pernah sakit apa.....coba pelayannya ditinggatkan ok!!!!!!!
- Deny Nugroho
8 Mei 2008 pukul 12:29Marilah kita bantu bangsa ini dengan sadar diri, dan sadar posisi.
Sadar diri : kalau memang merasa sudah berkecukupan ya jangan meminta hak orang yang masih miskin, kasihan negara nanti kalau APBN membengkak dan terpaksa negara harus HUTANG keluar negeri. Kan kita juga nanti yang harus membayar.
Sadar Posisi : Kerjakan tugas dan tanggung jawab kita sebaik-baiknya. ini pesan juga buat "PEGAWAI NEGARA" atau PNS agar melakukan pekerjaan dengan seprofesional mungkin
Mari kita lakukan dulu kepada diri kita, sambil berharap orang lain akan meniru hal baik yang kita lakukan - yusup bakri
14 Mei 2008 pukul 17:51HEBAT................
Ditengah kesibukanya sebagai seorang artis mba "Oneng" masih mempunyai "since of humanity" yang kuat.,,,,,
tapi kalo boleh jujur itulah mental bangsa kita sekarang ini.
kalo ditanya Pengen jadi ORANG KAYA apa ORANG MISKIN???
Pasti jawabnya semua pgn Jadi ORANG KAYA.
tapi ditanya PEngen MEMBERI apa MENERIMA???
pasti jawabnya pgn menerima.
MASIH BANYAK ORANG KAYA BERMENTAL ORANG MISKIN - siswara
21 September 2008 pukul 14:8fenomena yang di ceritakan memang seratus prsen menggambarkan kondis negri ini, dimana setiap orang berusaha memperoleh fasilitas diatas penderitaan orang lain. jangan salahkan siapa-siapa karena para pemimpin negri ini telah memberi contoh yang sangat tepat terhadap rakyatnya. di tengah ekonomi rakyat yang carut marut para pimpinan masih menuntut berbagai fasilitas mulai dari tunjangan sampai mobil mewah dengan alasan memudahkan operasional. saya cuma bisa berharap agar mental para pejabat dapat di perbaiki sehingga dapat memikirkan rakyanya dengan lebih jernih dan benar-benar membawa rakyat ke arah kesejahteraan yang hakiki. sebentar lagi pemilu, jangan cuma bisa umbar janji tapi kenyataan masih jauh di aawang-awang. jangan membuat masyarakat cuma bisa bermimpi, karena masyarakat sudah cukup senang jika masih mampu bermimpi
- rosetulan
2 Maret 2009 pukul 20:47dalam bilangan puluhan tahunpun negara ini masih belum bisa sejahtera, bila para pejabat masih ber-aji mumpung dan serakah serta si kaya mengaku miskin.
Berikan Komentar Anda
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Kisah
Tumbal-tumbal Krisis
31 Desember 2008 - 17:12 WIB
Mereka yang tumbang paling awal. Dan bangkit paling akhir.
Prasetyo tidak pernah menyangka rontoknya pasar saham Wall Street di Amerika Serikat akan menjungkalkan periuk nasi keluarganya. Dia juga tidak pernah percaya anjloknya harga saham bernilai miliaran dolar di tempat nun jauh di
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







