| 28 Agustus 2008 |
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Rieke Diah Pitaloka
Konon orang-orang Gunungkidul melihat pulung gantung beberapa hari sebelum bencana gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta. Sebentuk sasmita alam dalam wujud bola cahaya sebesar batok kepala berwarna biru kemerahan melayang-layang di angkasa. Sejak lama orang-orang Gunungkidul percaya pulung gantung sebagai pertanda musibah maha-dahsyat bakal tiba. Percaya atau tidak, banyak yang mati gantung diri setelah menyaksikan firasat gaib itu. Sejumlah penelitian perihal kecenderungan bunuh diri di Gunungkidul kerap dihubungkaitkan dengan mitos pulung gantung. Mereka memilih mati lebih dulu, sebelum petaka itu datang, toh nanti juga bakal mati.
Begitulah jalan aman yang ditempuh ayah Tini seperti dikisahkan novel Harga Seorang Wanita (2006) yang saya baca beberapa bulan lalu. Suatu malam, ayah Tini melihat pulung gantung meluncur dari langit dan jatuh di atap rumahnya. Esok pagi orang-orang Desa Wiloso menemukan mayat lelaki itu menggantung di dahan pohon jati, tak jauh dari rumahnya. Tak lama berselang, bala yang mereka takutkan sunggguh-sungguh tiba: Desa Wiloso terancam kelaparan. Panen gagal, wabah busung lapar berjangkit, kemarau berkepanjangan, sawah ladang retak-rengkah, sapi dan kambing kurus kering karena rumput sukar didapat. Orang-orang terpaksa makan tiwul. Tapi, bagi Simbok, itu bukan salah pulung gantung, bukan pula salah alam Gunungkidul yang tak ramah, melainkan sudah pepesthen, kepastian yang tak bisa dielakkan. Miskin, lapar, makan tiwul, dan bunuh diri adalah takdir. Menjanda setelah kematian suami juga takdir.
Di saat para pengarang kita sibuk membungkus cerita dengan aneka kemasan yang mengkilat, kinclong, sedap dipandang mata (tapi abai isi), pengarang buku itu justru mencibirkan segala macam permainan bentuk yang mengasyikkan itu. Ia justru menukik di kedalaman sumur kemelaratan di dusun-dusun Gunungkidul. Tengoklah peruntungan Simbok! Tersebab miskin, suaminya nekat gantung diri (meski dengan dalih pulung gantung). Karena miskin, Simbok jadi gundik pamong desa (Wirono), jadi babu dan pemuas berahi Bendoro. Wajah ayunya jadi bopeng, remuk tak berbentuk. Disiram air panas oleh Raden Sunartijah (istri Bendoro) saat tertangkap basah sedang mengeroki Bendoro.
Namun, pulung gantung tak pernah enyah dari hidup Simbok. Lagi-lagi bola cahaya biru kemerahan itu meluncur dari langit, jatuh di atap usang rumah gedeknya. Kali ini firasat perihal bala yang bakal menimpa Tini, anak perempuan satu-satunya. Simbok gelisah sejak Tini mohon izin untuk bekerja di Yogya. Dalam terawang batin Simbok, pesakitan Tini tinggal menunggu hari. Cepat atau lambat kembang desa Wiloso itu bakal ditimpa nestapa sebagaimana disasmitakan pulung gantung. Pelan-pelan terkuak juga rasa penasaran Simbok perihal Tini yang tiba-tiba ingin meninggalkan Gunungkidul. Benar! Ternyata niat merantau bukan kemauan Tini. Perempuan beranak satu itu tergadai pada Parman, juragan panti pijat di kawasan Gedongkuning. Ini ulah Jono, suami Tini. Jono harus menebus sepetak ladang yang tergadai. Bila tidak lekas ditebus, ladang akan berpindah tangan. Parman tak keberatan meminjamkan uang 10 juta rupiah, dengan syarat Tini harus bekerja di Griya Pijat Nikmat selama 5 tahun. Apa boleh buat, bagi Tini, ketergadaian tubuh dan dirinya itu mungkin sudah suratan, sebagaimana takdir Jono yang harus rela istrinya jadi sundal.
Sejak itu Tini bukan gadis desa yang lugu dan pemalu lagi. Ia berubah jadi perempuan pemberani. Tak gamang lagi bila berhadapan dengan laki-laki. Tini makin telaten memijat, makin piawai memuaskan hasrat menggebubung para lelaki hidung belang. Pelajaran pertama Tini di panti pijat itu adalah merelakan tubuhnya diperkosa Parman. Perempuan paling ayu di Desa Wiloso itu sama sekali tidak memberikan perlawanan saat tangan kasar Parman menerkam pinggang langsingnya.Untuk apa? Lambat laun tetap saja akan diperkosa. Jadi, dibiarkannya Parman melunaskan dendam masa lalu. Sebelum dipersunting Jono, Parman pernah datang ke Wiloso. Ia hendak memperistri Tini, tapi perempuan itu dalam genggaman Jono.
Berapakah takaran "harga" perempuan yang ditawarkan novel itu? Menimbang kebejatan Wirono, Bendoro, Jono, Parman, atau Andi yang meski berkenan menyelamatkan Tini (tapi menolak komitmen pernikahan), "jangan-jangan" tidak ada takaran harga bagi perempuan. Harga Simbok dan Tini hanya tergantung bagaimana para lelaki memperlakukannya. Seamsal barang rongsokan, tergantung bagaimana pengguna mengukur manfaatnya. Tak ada takaran harga pasti. Agaknya, di sinilah pentingnya realitas keterpurukan Simbok, Tini, dan Murti (anak perempuan Tini dari perkawinannya dengan Jono) yang digambarkan pengarang dengan cara bertutur bersahaja. Nestapa Tini seperti mendaur ulang luka lama Simbok. Bedanya, Tini bukan perempuan yang nrimo. Baginya, ketertindasan itu bukan karena pulung gantung (Tini bahkan tak percaya mitos konyol itu), bukan pula karena suratan takdir, melainkan karena ulah laki-laki. Maka, ia harus melawan, meski akhirnya tetap kalah (dikalahkan?). Puncak kemurkaan Tini terjadi pada sebuah malam jahanam saat ia menikamkan belati ke perut Jono, persis saat suaminya itu sedang berhimpitan dengan Suti, ronggeng dari Karangnongko. Alih-alih menebus gadaian pada Parman, Jono malah berniat menikah lagi dengan Suti. Digondolnya tabungan Tini selama bekerja hampir 5 tahun sebagai pemijat plus. Alhasil, Jono mati bersimbah darah di tangan istrinya sendiri, Tini meringkuk di penjara. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Tak lama kemudian Simbok bunuh diri setelah melihat pulung gantung untuk ke sekian kalinya.
Nama pengarang buku itu sesungguhnya Ngarto Februana, tapi yang tertera di sampulnya hanya Februana (seakan-akan nama perempuan). Seolah-olah kata Ngarto terlalu ndeso dan kolot. Padahal realitas yang hendak digambar Ngarto memang ndeso, melarat, dan kampungan, bukan dunia teenlit, metropop yang banyak digandrungi akhir-akhir ini. Barangkali tema-tema seputar kemiskinan, kemelaratan, dan ketertindasan memang sedang "miring" harganya. Jadi, perlu dikemas sedemikian rupa agar laris di pasaran.... (*)
©2008 VHRmedia.com
20 Komentar
- Idrus Akmal
11 Desember 2007 pukul 14:53menarik sekali....oneng makin bagus mengolah comotan persoalan dari rawa-rawa hidup masyarakat yg makin (di)melarat(kan)...salut juga dg persuasi tulisannya yg cukup akrab-mendalam...saya menunggu tulisan berikutnya!
- Ngarto Februana
14 Desember 2007 pukul 14:27Mbak Rieke, terima kasih atas ulasan Anda tentang novel saya. Ulasan Anda cukup cermat. Soal nama Februana di sampul buku, itu usulan penerbit. Kata penerbitnya nama Ngarto nggak menjual. Jadi, cuma dicantumkan Februana. Anak saya yang masih kelas III SD sempat protes, "Kok, nama Bapak cuma Februana? Memang nama Ngarto itu gak bagus ya?"
Pulung gantung, seperti ditulis oleh Darmaningtyas, sampai saat ini pun masih dipercaya oleh masyarakat Gunung Kidul. Saya juga mendengar cerita-cerita sebelum gempa meluluhlantakkan Yogya bagian selatan, bahwa ada pulung gantung meluncur di atas langit Gunung Kidul. Sebuah isyarat alam tentang akan datangnya bencana.
Ahmad Tohari, dalam novelnya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, juga menggambarkan fenomena alam berupa lintang kemukus dini hari sebagai firasat yang diberikan alam akan datangnya malapetaka.
Sekali lagi, terima kasih atas tanggapan Anda.Salam
Ngarto Februana
- Antonio Florentino
1 Februari 2008 pukul 9:59KERENNNNNNN....KERENNNNNN...Ulasan yang sangat filosis humaniora dari seorang filsuf muda Rieke Pitaloka menghantar aku pada suatu permenungan INILAH HIDUP: Hanya sebuah sandiwara yang skenarionya sudah dipatenkan, dan kita manusia hanya tinggal melakoni.
Thanks Rieke.... Anda hebat! Anda berhasil mengupas setiap detil kisah menjadi suatu 'pantomim hidup' yang kadang tidak disadari oleh kita pelakon. Dan Mas Ngarto, PROFICIAT! buat Anda yang telah berani menelanjangi dunia sastra modern dengan sekelumit cerita Ndeso. Hebat!!! - TIYEM SAYS
18 Februari 2008 pukul 13:23PENDIDIKAN UNTUK PEREMPUAN DAN PEMERINTAHAN YANG BERPIHAK PADA KEPENTINGAN PEREMPUAN.
saya rasa cuma itu solusinya
- thomas satriya
19 Februari 2008 pukul 13:42terima kasih buat mbak Rieke.maaf saya belum membaca buku mas ngarso, tapi saya sedang mengerjakan tugas KSF timur dan ingin juga mengulas tentang fenomena pulung gantung ini, mungkin saya bisa mencari tahu lebih banyak tentang fenomena tersebut dalam buku ini selain dalam buku mbak Darmaningtyas . trimakasih.
- guru SD dari desa
11 Maret 2008 pukul 17:41Saluut... 2 jempol buat anda.
Semoga saja jika anda jadi menteri atau wkl rakyat, jalan pikiran anda tetap sama.
Biasanya sebelum jadi "orang" keceng ngomongnya, begitu jadi "orang" adem-adem saja.
trima kasih. Semoga. - IRT
13 Maret 2008 pukul 16:48wah...ternyata mbak Rieka memang HEBAT tenan benar2 ulasan yang sangat humanis. Jarang-jarang ada artis yang punya sense of humanis dan sepintar mbak Rieka yang bicara tdk hanya bicara tapi bicara dengan hati dan pikiran.
- syefriani darnis
24 Maret 2008 pukul 13:57Ceritanya membumi se- membumi nama pengarangnya :)
TOP ditengah cerita roman yang penuh dengan keborjuisan dan hedonis.
Cocok untuk rakyat yang anti mapan tapi kontra kemiskinan ! - diana SASTRA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
20 April 2008 pukul 10:40kok nggak nulis novel lagi nich kak ngarto,saya lebih suka panggil ngarto dech lebih akrab!aku diana mahasiswi dari universitas negeri makassar, tepatnya saya jurusan sasta indonesia, semester akhir ya masa untuk mencapai gelar kesarjanaan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya,kajian skripsi yang saya angkat dari novel kak ngarto yang berjudul harga seorang wanita,betul yang dikatakan mbak Rieke bagaimana yah menakar harga wanita?judul skripsi saya kak, pengaruh kekuasaan laki-laki terhadap kehidupan tokoh utama wanitanya, saya begitu banyak menyaksikan ketimpangan yang dialami oleh tini,seolah-olah stereotype perempuan bahwa takdirnya harus manut,nggak boleh melawan ntar jadi istri durhaka. masuk neraka deh!saya mohon doanya kak supaya skripsi ini dapat di terima dengan baik,dan menjadi refleksi kita bersama khususnya pada perempuan, saya tunggu yah novel berikutnya,tapi kalau boleh ngasih saran yang perempuan dan laki-lakinya jadi equal partner!hehe
- Ngarto Februana
23 April 2008 pukul 6:17Diana, terima kasih ya atas ketertarikan Diana mengkaji novel "Harga Seorang Wanita" untuk skripsimu. Aku doakan skripsimu diterima dan dapat nilai bagus. Mahasiswiku juga ada yang mengangkat novel ini untuk skripsinya (selain wartawan, aku juga dosen di Universitas Negeri Jakarta/UNJ). Mahasiswi Fikom Unpad juga mengkaji novel ini untuk skripsinya.
Aku lagi nulis novel, tapi belum juga rampung, karena banyak pekerjaan baik di Tempo maupun di UNJ. Lagi-lagi novelku ini--judulnya masih aku rahasiakan--bercerita tentang nasib kaum perempuan yang terpinggirkan di tanah konflik Aceh. - fajar purwanto
2 Mei 2008 pukul 13:50keeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! abizzzzzzzzzzzzzz!!!!!!!!
- codol M.Sc
2 Mei 2008 pukul 23:57biasa aja............!!!
- dhell
4 Mei 2008 pukul 23:36aku cuman ikutan nimbrung aj...pengen juga bisa nulis/melimpahkan pikiran kayak gini..gimana caranya ya?...
- Edward
3 Juni 2008 pukul 5:30Oneng, ulsanmu ini benar-benar keren. Kau berhasil 'menggodaku' untuk segera membeli dan membaca novel ini. Tak percuma aku menjadi idolamu, bukan karena kau seorang perempuan, akan tetapi karena setiap tulisanmu dan 'gerak-gerikmu' dapat memprovokasi aku untuk lebih melek lagi tentang issue gender dan humanisme.
Oh ya, nama Ngarto sebenarnya terdengar eksotis, seeksotis nama Oneng. Bukankah demikian?
- ratu atut chosiyah ijazah palsu universitas borobudur fak ekonomi
15 Juni 2008 pukul 1:16Ratu Atut CHosiyah Gubernur Tertolol Indonesia, 01/06/08 12:56 PM:
TERPOPULER MINGGU INI
tutup
Senin, 12 Maret 2007 20:06
Gugatan Terhadap Ratu Atut Mulai Disidangkan
Kapanlagi.com – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta, Senin, mulai menyidangkan gugatan Marissa Haque terhadap Keputusan Presiden yang mengangkat Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur Banten terpilih.
Sidang perdana itu digelar untuk memeriksa kelengkapan berkas perkara yang diajukan oleh pemohon.
Kuasa hukum Marissa, Bonaran Situmeang, dalam gugatannya menyatakan Keppres No.74/P/2006 tentang pengangkatan Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur Banten terpilih harus dinyatakan cacat hukum karena Ratu Atut melakukan pelanggaran saat pelaksanaan Pilkada.
Dasar dikeluarkannya Keppres itu, menurut Bonaran, karena adanya keputusan KPUD No 25/KP-KPUD/2006 tertanggal 6 Desember 2006 tentang pengesahan Ratu Atut sebagai Gubernur Banten terpilih.
Padahal, lanjut dia, Ratu Atut saat mengikuti Pilkada melakukan pelanggaran, dengan tidak mengindahkan pasal 38 ayat 1 huruf p PP No 6 Tahun 2005, yang mengatur bahwa setiap pejabat yang mencalonkan diri sebagai peserta Pilkada harus terlebih dahulu mengundurkan diri.
“Dengan adanya pelanggaran itu, maka KPUD juga melanggar hukum karena tetap mengeluarkan keputusan yang mengesahkan Ratu Atut. Karena KPUD melanggar hukum, maka konsekuensinya Keppres itu cacat hukum,” tutur Bonaran.
Selain menyalahi PP No 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah dan wakil daerah, ia menambahkan, Ratu Atut juga melanggar pasal 58 UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang secara tegas menyatakan peserta Pilkada harus bukan pejabat daerah yang sedang menjabat.
Pada sidang perdana itu, selain memeriksa kelengkapan berkas, majelis hakim juga memberi saran-saran perbaikan permohonan kepada pemohon.
Sidang dilanjutkan pada Senin, 26 Maret 2007, untuk menyerahkan perbaikan permohonan.
Sebelum mengajukan gugatan Keppres pengangkatan Ratu Atut ke PTUN, Marissa telah menempuh upaya hukum menggugat KPUD Banten di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Banten.
Namun, pada Februari 2006 gugatan mantan calon wakil Gubernur Banten itu ditolak oleh PN Serang dengan alasan kewenangan mengadili sengketa pilkada berada di Mahkamah Agung (MA).
PN Serang juga beralasan, karena KPUD merupakan lembaga yang bertanggungjawab kepada negara, maka keberatan atas produk hukum yang dikeluarkan oleh komisi itu harus dilayangkan ke PTUN. (*/rsd)
- Aprilia Susylo Andyna
25 Juni 2008 pukul 17:26Tidak akan pernah ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana keindahan suatu karya sastra yang di buat oleh kak ngarto,karya yang di sajikan benar2sesuai dengan kehidupan yang mungkin kini kita kurang menyadari posisi perempuan saat ini semakin banyak yang tidak melihat suatu kehormatan hanya karena tuntutan ekonomi.
- rasidy
28 Juni 2008 pukul 14:19untuk mbak oneng teliti banget anda walau saya tidak pernah baca karya2 sastra yang pean sebutkan, hanya dari rincian sj anda membikin saya jd salut buat anda
- ghosye
7 Juli 2008 pukul 11:20Ngarto-nya yang bagus, pandai mempermainkan perasaan pembaca, klo oneng sih biasa saja. Buat Penulis komentar no 15, maksudnya?
- Genio
10 Juli 2008 pukul 17:11Ah...ceritanya biasa2 saja kayak di film2 India. Tapi yang menarik itu kok masih ada orang percaya bhw pulung gantung pertanda akan terjadi bencana dan pakai bunuh diri segala. Perlu diberi pencerahan bhw itu hanya peristiwa alam biasa, dan kalaupun terjadi seperti apa yang ditakutkan, yah harus berani menghadapinya. Anggaplah semacam early warning dari alam kpd manusia, so siapkan segala kemampuan utk hadapi segala kemungkinan....mari belajar dari Jepang dalam menghadapi bencana alam.
- oki
7 Agustus 2008 pukul 2:25bener-bener keren nih
kapan ya aku bisa nulis kayak itu ? lanyak gak dimuat disini !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Berikan Komentar Anda
Agenda
Berita Terkini
Polda Jatim Akan Usut Kasus Salah Tangkap
28 Agustus 2008 - 15:15 WIB
Dinkes Jombang agar Optimalkan Program KRR
28 Agustus 2008 - 13:31 WIB
IMF Diduga Intervensi, Segera Revisi UU Migas
28 Agustus 2008 - 13:17 WIB
Bekas Ketua DPRD Sleman Diadili Awal September
28 Agustus 2008 - 12:15 WIB
Perpanjangan Jabatan Kapolri Hambat Regenerasi
28 Agustus 2008 - 11:9 WIB
Kisah
Mengoyak Pohon Kekuasaan
26 Agustus 2008 - 17:37 WIB
Panas jalur menuju Istana. Jalan sendiri atau berkendara.
Perang wacana bursa pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009 sudah dimulai. "Hiruk-pikuk" itu berupa perang urat syaraf kandidat tua dan kandidat muda, hingga pencalonan kandidat dari jalur perseorangan.
Geliat pengajuan diri calon presiden
Berita Terpopuler
Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN
8 Agustus 2008 - 16:24 WIB
Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru
15 Agustus 2008 - 16:58 WIB
Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor
1 Agustus 2008 - 16:1 WIB
Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas
1 Agustus 2008 - 15:33 WIB
Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat
1 Agustus 2008 - 16:33 WIB
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB








