| 03 September 2010 |
Curhat
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Rieke Diah Pitaloka
Lelaki kerempeng itu biasa dipanggil Tukijan. Ia pedagang mi ayam keliling yang saban sore mangkal di depan poskamling, tak jauh dari rumah saya. Mi ayam jualannya agak istimewa. Daging ayamnya gurih, sayur sawinya segar, krupuknya renyah. Takaran kuah, saus, sambal, dan kecap dalam satu mangkuknya benar-benar cocok dengan selera saya. Harganya murah meriah, tapi rasanya, hmm... maknyus. Benar-benar menggugah selera. Bukan saya saja yang menggemari mi ayam itu, banyak pula tetangga yang jadi pelanggan setianya. Saking setia, mereka tak tergiur untuk mencoba jajanan yang sama dari pedagang lain. Pokoknya, sekali Tukijan, tetap Tukijan.
Sembari menunggu pesanan, saya suka iseng bertanya-tanya pada pedagang yang ramah dan murah senyum itu, perihal omzet penjualannya setiap hari, harga daging ayam, dan segala macam tetek-bengek yang berhubungan dengan mi Ayam. Sekali waktu, Tukijan curhat ke saya. Ia bilang, dulu ia hanya kuli panggul di Pasar Kemiri, Depok. Kerja capek, tapi penghasilannya tak seberapa. Lalu ada yang berbaik hati meminjaminya modal untuk membuat gerobak, sekaligus modal untuk jualan mi ayam. Awalnya agak kepayahan, karena belum punya pengalaman, tapi lama-lama Tukijan merasakan juga asam garam berjualan mi ayam.
Sedekit demi sedikit ia berusaha mengembalikan modal, dan akhirnya mampu berdiri sendiri, tanpa harus bergantung pada pemodal. Berkat keuletannya, kini Tukijan sudah punya tiga gerobak dari modal sendiri. Satu gerobak dijajakannya sendiri dan dua gerobak yang lain dijajakan keponakannya yang datang dari kampung. Dari keuntungan berjualan mi ayam, Tukijan sanggup menyekolahkan anak-anaknya hingga SMU, bahkan sesekali bisa pula mengirim wesel untuk orang tuanya di Jawa. Tukijan bersyukur atas apa yang sudah berhasil diperolehnya.
Tapi, akhir-akhir ini gerobak mi ayam milik Tukijan jarang terlihat. Awalnya dua hari sekali ia masih muncul, lalu tiga hari sekali, seminggu sekali, dan akhirnya tak pernah muncul sama sekali. Padahal saya sudah kebelet ingin menikmati mi ayam itu, begitu juga dengan penggemar-penggemar beratnya. Mereka menyimpan tanda tanya yang sama. Ada apa dengan tukang mi ayam itu? Apa dia sedang sakit? Atau mungkin pulang kampung? Anehnya, tidak hanya gerobak mi ayam Tukijan yang tidak mangkal. Tukang bakso dan tukang nasi goreng juga tak kelihatan berkeliling. Kompleks perumahan tempat tinggal saya terasa sepi, tak bising oleh denting sendok dan mangkuk yang saling beradu.
Akhirnya terjawab juga rasa penasaran saya. Kabarnya, Tukijan memang pulang ke Jawa. Semula saya duga kepulangannya hanya untuk sementara, mungkin karena ada urusan keluarga. Tapi kemudian ada yang memberi tahu bahwa Tukijan tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Ia benar-benar gulung tikar.
Betapa tidak? Harga minyak tanah melonjak tinggi, karena ulah kebijakan pemerintah perihal konversi minyak tanah ke elpiji. Harga normal memang berkisar Rp 2.500, tapi karena stok terbatas, pedagang tak segan-segan mengecer dengan harga Rp 4.000 bahkan Rp 5.000 per liter.
Bagi pedagang mi ayam keliling seperti Tukijan, minyak tanah sangat penting. Kompornya mesti terus menyala. Tapi, kalau harga satu liter minyak tanah bisa mencapai angka Rp 4.000, bagaimana cara Tukijan menentukan harga jual semangkuk mi ayam? Tentu tak masuk akal kalau satu mangkuk mi ayam jualan Tukijan harganya Rp 6.500. Alih-alih jajan mi ayam, mending sekalian saja makan di warung padang.
Kalaupun kompor yang biasa dipakai Tukijan diganti dengan kompor gas dan bahan bakarnya diganti elpiji, selain harga elpiji mahal, gerobak mi ayam itu mesti dirombak total agar kompor dan tabung gas tidak terguling dari gerobak saat Tukijan mendorongnya. Lantas, coba bayangkan betapa akan terseok-seok tubuh ceking Tukijan saat mendorong gerobak berisi tabung gas yang beratnya nauzubillah itu!
Saya jadi iseng menghitung-hitung berapa ribu Tukijan-Tukijan lain di "rimba raya" Jakarta yang harus hengkang dari pekerjaan yang selama ini jadi sandaran hidup mereka? Berapa banyak mata air rezeki yang akan tersumbat akibat konversi bahan bakar minyak tanah ke elpiji?
Ah, Tukijan, di mana dikau kini? (*)©2010 VHRmedia.com
14 Komentar
- Kaka
13 September 2007 pukul 18:59Tragis memang kalau sampai ke arah gulung tikar, tp mungkin dengan langkanya si minyak tanah bisa diambil sisi pembelajaran bagi para pengguna minyak tanah tersebut. Saya berpendapat tidak akan menjadi soal jika harga melambung agak lebih tinggi (sesuai dengan sajian) asal si penjual makanan tersebut bisa membuat si pembeli akan selalu membeli dari dirinya, dgn istilah lain belajar untuk meningkatkan standard mutu jualannya dari yg awalnya hanya terkesan asal dan biasa saja.
Siapa tahu dari masalah minyak tanah ini pula, si penjual mie ayam tersebut tidak hanya punya 3 gerobak, tapi mungkin bisa sperti Tukang Bakmi GM? Warung Kopi Starbuck?
Ya itu semoga saja (kan dia ulet bekerja dalam cerita diatas). Tapi sayang juga, dia sudah gulung tikar. - sueb
14 September 2007 pukul 13:55orang kecil jadi korban proyek. orang kecil panik, orang besar berebut proyek pengadaan tabung gas.
- sarja
17 September 2007 pukul 12:40eh gas elpijikan mudah meledak, gak kebayang deh kalo lagi asik2nya berjualan tiba2 grobak tukijan meledak!
- Air
21 September 2007 pukul 16:17Ya namanya juga wong cilik, dimana-mana selalu sah buat dirugi'in sama wong peng'gede.....
Perasaan emang gak pernah ada Peng'GEDE yang mau menyejukkan Wong CILIK. - rara
22 September 2007 pukul 19:40Demi proyek pengadaan tabung ga syang tendernya dimenangi Aburizal Bakrie, mereka tak peduli jeritan wong cilik. Sing penting wis menang tender....
- ayu
2 Oktober 2007 pukul 15:0ya biasa lah orang gedean kan ga mikir gimana nasib yg di rasain kita2... yang penting mereka dapet untung gede dan duit banyak... aneh ya padahal mereka pada pinter2 sekolah S2 ada yg S3.. tapi kalo mikir ga pernah pake otak...
- Grotto
22 November 2007 pukul 13:29Kok kayaknya yang ngomentarin tulisan mbak rieke ini orang-orang kecil semua ya, ya termasuk saya juga. apa enggak ada orang besar yang baca tulisan ini?atau pura-pura enggak tau ya?atau enggak punya waktu untuk memikirkan orang kecil?atau enggak tahu harus ngomong apa?
ealah...saya kok ya jadi berpikir yang macem2 ya?orang besar, jangan mau kalah, keluarin suara juga dong....... - sjahbana
17 Januari 2008 pukul 1:43Dunia ini memang tidak adil. Pemerintah juga tidak adil. Yang kaya semakin kaya, orang kecil malah makin merana. Setiap membaca tulisan mbak Rieke...semakin jelas terlihat ketimpangan sosial yang terjadi di negeri ini...entah sampai kapan kemiskinan (baik ekonomi, hati maupun kemiskinan lain) ini bisa terkikis....
- dhince
28 Februari 2008 pukul 10:16ya gicu dech... kasiann... dech orang kecil.? kasian.... dech gue...? bayangin aja. kita yang orang kecil ini ga minta apa-apa ke pemerintah! tapi tolong dong kita dikasih kesempatan buat hidup ? jangan sampe tukijan gantung diri nech... kan dah banyak contoh yang terjadi: tukang gorengan mati gantung diri ?!!!!
- Ge
27 Maret 2008 pukul 13:32owalaaah...wong cilik pancen susah ! Moga - moga aja Tukijan - Tukijan di kampung lebih bermangfaat buat kampung ! Hidup sudah susah.. tambah susah...dibikin susah tambah susah, nggak dibikin susah..keburu susah !
- endang
8 April 2008 pukul 9:59Inilah susahnya kalau pemimpinya berjiwa pengusaha,yang ada di kepalanya untung 2,trus,masalh rakyat yang kelaparan atau sengsara tidak jadi masalah yang penting bisnisnya tetap jalan
- gramsci
20 Juni 2008 pukul 0:23biar g banyak yang di tukijankan:TUNDUK DI TINDAS ATAU BANGKIT MELAWAN....................!!!masa depan negara ini ada pada kita.....
- Aprilia Susylao
26 Juni 2008 pukul 16:42pemerintah mengatakan mengeluarkan suatu kebijakan untuk kepentingan bersama dan agar negara terselamatkan, tetapi sadarkah apa harus selalu orang kecil yang mengalah demi kepuasan dan kepentingan pemerintah!
- alpen
23 Agustus 2008 pukul 15:9mungkinkah harga minyak turun hanya gara2 gerobak tukijan meledak karena jualan pake gas...g mungkin deh kaya'nya, mending g jualan dari pada cari penyakit...
Berikan Komentar Anda
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Kisah
Tumbal-tumbal Krisis
31 Desember 2008 - 17:12 WIB
Mereka yang tumbang paling awal. Dan bangkit paling akhir.
Prasetyo tidak pernah menyangka rontoknya pasar saham Wall Street di Amerika Serikat akan menjungkalkan periuk nasi keluarganya. Dia juga tidak pernah percaya anjloknya harga saham bernilai miliaran dolar di tempat nun jauh di
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







