Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Inspirasi

Kampus, Rumah Bersalin, dan Anak Jalanan

Ronaldo

Tidak biasanya saya menumpang angkutan umum saat jam-jam sibuk. Tapi Senin malam lalu saya menghabiskan sekitar satu jam di angkutan umum menuju sebuah rumah sakit bersalin di kota ini untuk memberi selamat kepada teman lama yang baru dikaruniai anak pertama.


Pukul 20.38. Saya turun sekitar lima meter menjelang halte tempat saya berjanji bertemu dengan teman lain, sebelum bersama-sama menuju rumah sakit bersalin yang saya maksud. Saya batal mencari tempat duduk di halte itu dan berjalan terus melewati halte itu hingga kira-kira 12 meter. Bukan karena halte itu dipenuhi calon penumpang atau gelap karena tidak berlampu, tetapi karena sepasang tunawisma dan satu bayi  yang belum bisa berjalan dan berbicara berbaring di lantai halte yang tak berlampu itu.


Tak satu pun dari mereka sedang tidur saat saya lewat. Si laki-laki, berumur sekitar 30-an akhir, berusaha untuk tidur bertumpu pada sisi badan sebelah kanan. Si perempuan, lebih muda dari si laki-laki, di sebelah kanan telentang dengan kaus ditarik hingga dekat tulang selangka, bra ditarik ke arah perut, kepala si bayi bertumpu pada dada kiri perempuan itu dengan melingkarkan tangan kanannya di leher perempuan itu, sedangkan tangan kirinya ditaruh di ulu hati perempuan itu. Kedua lutut serta jari-jari kakinya menempel di lantai halte yang diberi alas kain gendongan. Mereka berbaring dengan kaki membujur ke arah selokan di belakang halte.


Pemandangan biasa di Jakarta.


Yang menarik perhatian saya adalah bayi itu.


Setiap orang yang lewat di trotoar itu, laki-laki maupun perempuan adalah hiburan buat si bayi. Namun kendaraan tidak menarik perhatiannya.


Si bayi akan melepas puting susu ibunya dari bibirnya untuk mengangkat kepala dan dadanya dengan bertumpu pada badan ibunya, dan menatap mata orang-orang yang lewat, sampai orang yang melintas tidak mampu memutar leher dan bahu mereka tanpa mengganggu jalan mereka. Saya pun mengalaminya beberapa menit sebelumnya.


Beberapa pejalan kaki, khususnya wanita, menimbulkan reaksi yang lebih hebat pada si bayi. Ia mengangkat tangan kanannya seperti berusaha menggapai mereka dengan satu daya tarik paling kuat yang dimiliki bayi itu. Senyum.


Bayi itu perempuan.


Tidak satu pun wanita yang diajak berkomunikasi oleh bayi itu membalas senyum bayi itu. Beberapa di antara mereka mahasiswi yang keluar dari kampus yang terletak 20 meter dari halte itu.


Sepuluh tahun yang lalu, saya tahu bahwa teman-teman kuliah saya yang wanita biasanya menyimpan permen atau cemilan di dalam tas mereka. Empat tahun yang lalu saya tahu teman-teman saya yang wanita ternyata meneruskan kebiasaan itu, setelah mereka bekerja.


Tidak satu pun dari orang yang lalu lalang yang tergerak merogoh tas mereka untuk mencari apa pun yang bisa membalas sapaan si bayi, bila mereka saat itu tidak mampu bicara.


Bangunan dalam kompleks kampus di belakang terletak tidak kurang dari 50 meter dari pagar kampus, memiliki sekitar 15 lantai. Pemiliknya adalah ekonom artikulatif pengisi kolom analisis yang cukup kritis di sebuah media cetak nasional, yang pernah duduk di kabinet Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri.


Saya refleks memaki Tuhan.


Lima belas menit setelah saya menghina Tuhan, saya bersalaman dengan teman lama dalam ruangan VIP di rumah sakit bBersalin yang saya maksud, dan menyapa bayi laki-lakinya yang sedang tidur. Saat itu pukul 21.17.


Sama seperti saat-saat menyebalkan lainnya dalam keseharian saya, seperti misalnya terjebak macet yang sudah menjadi fixed cost bagi orang Jakarta, saya mudah terpancing untuk memprotes semua masalah yang mengganggu saya. Pengamen termuda yang setiap hari mengganggu penumpang bus di Jakarta mungkin berusia sama dengan para escort children di setiap pembukaan pertandingan sepakbola internasional. Sebagian dari mereka mengaku masih sekolah, tapi tidak banyak yang bisa membuktikan itu.


Suatu malam sekitar pukul 00.30. Saya menghitung sekitar 25 anak berusia antara 4 hingga 10 tahun, sebagian dengan alat mengamen, naik ke bus Mayasari Bhakti jurusan Pulogadung - Tanah Abang yang sedang menunggu penumpang di Senen. Satu dari 3 orang perempuan yang naik bersama mereka membayar semua ongkos. Saya mencuri satu pertanyaan dari salah satu di antara mereka, "Pulang ke mana?".  "Klender, Bang," jawabnya. Anak-anak jalanan di atas 10 tahun kelihatannya sudah bisa "dilepas" sendiri-sendiri tanpa gembala.


Kampus itu terletak 20 meter dari halte yang saya ceritakan tadi dan 5 kilometer dari rumah sakit bersalin tempat saya melewatkan beberapa saat bersama teman-teman. Saya selalu bertanya apakah pendidikan dapat memperbaiki kehidupan generasi saat ini dan selanjutnya?


Knowing is not enough, we must apply

Willing is not enough, we must do


Johann Wolfgang Von Goethe (1749 - 1832)

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »



Berita Terkini

Kejagung Upayakan PK Perkara PT Timor

21 November 2008 - 11:20 WIB

Operasi Preman Sia-sia, Rendahkan Martabat

21 November 2008 - 10:36 WIB

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

Arsip Berita »

Bingkai

Agar Nyanyi Tak Lagi Sumbang

3 November 2008 - 17:10 WIB

 Cerita soal mewahnya rasa aman. Salah bicara, leher taruhannya.


Belakangan koran dan televisi dipenuhi berita pembunuhan keji. Dari cerita soal jasad pria tak dikenal ditemukan terpotong-potong di bus hingga bekas suami yang gila membunuh istri hanya karena sang istri mengubah status

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Suara Sebelumnya

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Suarakan pendapat anda »

Foker Papua