| 28 Agustus 2008 |
Inspirasi
Kaum Muda
27 Juni 2008 - 10:9 WIB
Puthut EA
Sungguh menarik untuk terus menyimak udaran gagasan tentang politik dan pemuda dari para pemikir negeri ini. Wacana ini menguat, mungkin karena ada momentum 10 tahun reformasi, dan anggapan atas ultah 100 tahun Nusantara. Tetapi mungkin juga karena atmosfer Pemilu 2009 mulai menghangat.
Namun sayang, perbincangan tentang politik akhir-akhir ini diringkus dan dipersempit maknanya. Politik seakan-akan hanyalah dunia partai politik, pemilu, pemilihan ekskutif dan jabatan politis lain. Dengan demikian, politik adalah ‘dunia di atas angin', legal, formal. Wacana politik mengerucut pada perdebatan parlementarian, perebutan kekuasaan eksekutif dan strategi pemenangan pemilu. Politik dalam pengertian tersebut bergerak di arus yang involutif, itu-itu saja, tidak ke mana-mana.
Tanpa bermaksud menegasikan pentingnya partai politik sebagai alat demokrasi elementer di dalam tata tertib demokrasi modern, kita semua seperti digiring hanya untuk memahami bahwa politik sebatas dunia di atas angin. Oleh karenanya, perbincangan politik dan pemuda selalu mengarah kepada kepemimpinan legal, terjebak di dalam gelembung dan buihnya, bukan substansi dan kedalaman politik. Lalu politik hanya sebatas dilihat dari bagaimana kaderisasi pemuda di dalam tubuh partai politik dan berapa banyak pemuda yang duduk di kabinet.
Jatuhnya pemikiran ke aras yang sangat eksklusif seperti itu memang bisa dijelaskan dari tinjauan sejarah. Semua ini tidak jauh-jauh dari pohon politik Orde Baru, yang membuat buah-buahan tidak jatuh jauh dari pohon induknya. Politik massa mengambang membuka sedikit keran politik di tingkat itu. Selebihnya, pada level yang lebih penting seperti pendidikan dan pengorganisasian masyarakat, serta penguatan lembaga politik adalah sesuatu yang saru, dan mungkin dianggap najis. Politik yang seperti itu bukan saja telah kehilangan agenda sosialnya, tetapi juga tidak pernah tumbuh dari lahan kerja sektoral dan teritorial. Politik dalam konteks itu tak membumi, tak berkaki.
Dan yang lebih parah lagi, pelajaran pertama demokrasi di tingkat pemilihan presiden langsung dalam era reformasi semakin menjauhkan laku politik dari substansinya. Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono yang berasal dari partai kecil menonjolkan variabel politik lain, yakni pencitraan dan media massa. Dengan mengajukan pertanyaan yang sederhana, misalnya jika tidak ada televisi, apakah SBY akan memenangi pemilihan presiden, maka kita menjadi semakin sadar bahwa pendidikan dan pengorganisasian masyarakat, serta penguatan kelembagaan politik, bisa dikemplang ke pojok yang terjauh. Media massa tidak dipahami sebagai alat untuk pendidikan politik, sosialisasi dan pematangan gagasan, pilar pengawas dan pengawal proses demokrasi, serta halaman yang kontributif terhadap pembangunan karakter bangsa. Kebebasan pers, sebagai konsekuensi logis atas perubahan politik, dielap satu sisinya saja: menginclongkan pencitraan. Orientasi aktor-aktor politik adalah panggung selebritas, kepiawaian mengolah isu politik, dan kemampuan membuat berita serta sensasi.
Sementara itu, imajinasi politik yang elitis pun terus merangsek di alam bawah sadar kaum muda Indonesia. Dengan begitu, cukup bisa dimengerti kalau politikus muda Indonesia dewasa ini tidak tumbuh dari persoalan riil rakyat dan kebangsaan, melainkan digladi dari fora diskusi, lobi-lobi politik, dan panggung selebritas. Mereka melirwakan arus kedalaman politik, dan bermain-main di riaknya saja.
Maka tidak heran, banyak politikus muda Indonesia yang seakan-akan berjalan tanpa visi dan karakter yang jelas. Visi hanya bisa dinyalakan dengan bahan permenungan atas problem-problem kebangsaan, dan karakter hanya bisa ditempa dalam kerja-kerja politik yang nyata. Semua itu tumbuh di dalam proses pergulatan senyatanya, menyatu dan berkubang dalam pemecahan-pemecahan masalah bersama masyarakat. Kita bisa membayangkan visi dan karakter apa yang tumbuh dari fora diskusi, lobi-lobi politik tingkat tinggi, dan gemuruh selebritas? Mungkin ada baiknya kita renungkan lagi pasemon Jawa: Saking banter keploke, nganti ora krungu suwarane dhewe (Gemuruh tepuk tangan hanya membuat seseorang tidak bisa mendengar suara batinnya sendiri).
Hal di atas anggaplah satu sisi, dan berikut adalah sisi yang lain. Beberapa bulan yang lalu, saat rehat di sela-sela proses bengkel kerja, seorang direktur sebuah LSM mengungkapkan kerisauannya. Ia melihat bagaimana anak-anak muda yang masuk dan bergabung dengan berbagai LSM dan organisasi rakyat, hanya sebagian kecil yang dianggap punya kualifikasi. Mereka yang punya kualifikasi bagus, terserap habis di tiga bidang: industri, birokrasi, dan partai politik. Tiga bidang itu disebut dengan urut, sesuai dengan besaran kapasitas serapan masing-masing.
Dari amatan tersebut, kita segera bisa mengerti, betapa yang kemudian masuk di jalur politik nonpartisan pun hanya sedikit. Tentu hasil tapisan itu, bukan berarti kemudian menunjukkan bahwa yang bekerja baik di LSM maupun ormas punya kualitas yang lebih jelek dibandingkan yang masuk di ketiga bidang tersebut. Tetapi segera kita maklumi, seberapa besar energi yang bisa terus diharapkan bisa menggerakkan dan mendinamiskan dunia politik dari wilayah pinggiran tersebut.
Belum lagi ketika si direktur mengeluh, mereka yang masuk di dunia LSM dan organisasi rakyat tidak seluruhnya mempunyai rekaman jejak di dalam dunia politik. Lembaga-lembaga sosial itu dipahami sebagaimana memahami titian karier di dalam dunia industri. Memang, mereka lebih lanyah berbahasa Inggris, kemampuan verbal dan gestur mereka lebih kompatibel di fora presentasi, dan mental mereka nisbi tidak gumunan ketika harus melanglang buana. Namun, membicarakan agenda sosial bersama mereka, memproses paradigma sosial di kepala mereka, sesulit membakar kayu yang basah.
Nah, mari kita berhitung dengan cara yang sederhana. Jika pada tingkat partai politik yang terjadi seperti yang telah saya paparkan di atas, dan kemudian pada sisi yang lain yakni pada tingkat lembaga-lembaga sosial juga tidak jauh berbeda, maka bisa kita bayangkan jenis pemuda macam apa yang sebetulnya sedang sama-sama meniti ‘karier'.
Anggaplah misalnya, cepat atau lambat, karena faktor usia, pada akhirnya jabatan-jabatan politik akan jatuh ke tangan mereka, maka bisa dipastikan ke depan tidak akan ada perubahan-perubahan yang menjanjikan. Sebab apa? Kita tahu dari mana mereka berangkat, dan jalan mana yang mereka tempuh.
Ketika hal tersebut saya lontarkan ke salah satu teman yang saya anggap bijaksana, teman saya memberi jawaban bahwa ada dua hal yang harus saya benahi dalam melihat kenyataan dengan hitungan sederhana itu. Pertama, di semua aras kehidupan, tidak ada yang monolitik. Pastilah tidak semua pemuda yang berada di area-area yang telah saya sebut hanya diisi oleh melulu orang-orang seperti itu. Kedua, kata teman saya, pandangan saya juga terjebak dalam analisis elitis. Maksudnya, mengapa yang saya lihat hanya di dua hal tersebut, mengapa tidak di area yang lain? Sebagai contoh, ia menyodorkan daftar nama pemuda yang jauh dari ingar-bingar dan terus bekerja dalam ketekunan bersama kelompok-kelompok masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah yang ada.
"Setidaknya," ucap teman saya, "kamu bisa lebih optimistis memandang kehidupan. Sebab sikap pesimistis, bukan watak kaum muda."
Mendengar ucapannya, saya terdiam cukup lama. Dongkol dan ngeri juga mendengar ancaman vonisnya, tetapi sekaligus membenarkan omongannya. (*)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Pemuda Terancam Jadi Buruh Seumur Hidup20 Agustus 2008 - 18:7 WIB
- Rakyat Bosan Pemimpin Stagnan31 Juli 2008 - 17:2 WIB
- Pemuda Asia Pasifik Sikapi Pemanasan Global28 Juli 2008 - 22:1 WIB
- Generasi Muda, Pemicu Sekaligus Solusi Konflik25 Juli 2008 - 17:3 WIB
- Pemimpin Muda Bukan Solusi Mutlak25 Juli 2008 - 14:28 WIB
Agenda
Berita Terkini
Polda Jatim Akan Usut Kasus Salah Tangkap
28 Agustus 2008 - 15:15 WIB
Dinkes Jombang agar Optimalkan Program KRR
28 Agustus 2008 - 13:31 WIB
IMF Diduga Intervensi, Segera Revisi UU Migas
28 Agustus 2008 - 13:17 WIB
Bekas Ketua DPRD Sleman Diadili Awal September
28 Agustus 2008 - 12:15 WIB
Perpanjangan Jabatan Kapolri Hambat Regenerasi
28 Agustus 2008 - 11:9 WIB
Bingkai
Mengoyak Pohon Kekuasaan
26 Agustus 2008 - 17:37 WIB
Panas jalur menuju Istana. Jalan sendiri atau berkendara.
Perang wacana bursa pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009 sudah dimulai. "Hiruk-pikuk" itu berupa perang urat syaraf kandidat tua dan kandidat muda, hingga pencalonan kandidat dari jalur perseorangan.
Geliat pengajuan diri calon presiden
Berita Terpopuler
Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN
8 Agustus 2008 - 16:24 WIB
Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru
15 Agustus 2008 - 16:58 WIB
Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor
1 Agustus 2008 - 16:1 WIB
Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas
1 Agustus 2008 - 15:33 WIB
Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat
1 Agustus 2008 - 16:33 WIB
Suara Sebelumnya
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB








