Voice of Human Rights News Center

English English 28 Agustus 2008  

 

Berita

Kasus Suap Anggota DPR

Al Amin Minta Tambahan Uang dari Azirwan

Wahyu Arifin

 VHRmedia.com, Jakarta - Al Amin Nur Nasution, tersangka korupsi alih fungsi hutan lindung di Kabupaten Bintan, terbukti meminta uang kepada Azirwan, Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, sebagai imbalan melancarkan upaya alih fungsi hutan lindung di daerah tersebut.

 

Hal itu terungkap dalam sidang kasus korupsi itu di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (7/7). Jaksa memutar beberapa rekaman percakapan telepon hasil penyadapan KPK yang diajukan sebagai bukti. Dalam rekaman itu terdengar anggota Komisi IV DPR Al Amin meminta imbalan uang karena telah melancarkan upaya alih fungsi hutan lindung di Kabupaten Bintan.

 

Azirwan: Saya ada orang kepercayaan saya yang kemarin ikut saya ke Jakarta, Pak Edi namanya, ntar saya kasih nomornya atau sms ke Pak Amin.

 

Al Amin: Tapi itu berapa?

 

Azirwan: Memang kira-kira berapa, Pak Amin?

 

Al Amin: Itu kan kalo yang di SMS 75 (Rp 75 juta) ya?

 

Azirwan: Ya.

 

Al Amin: Untuk 4 orang itu susah betul itu baginya.

 

Azirwan: Bagi 4 saja begitu 80 (Rp 80 juta)

 

Al Amin: Sudah digenapin saja seratus.

 

Azirwan: Oke deh kalau begitu.

 

Al Amin: Tadi siapa namanya?

 

Azirwan: Edi Pribadi.

 

Al Amin: Ya sudah ntar dia suruh SMS saya aja ya.

 

Selain rekaman percakapan telepon Azirwan dengan Al Amin, terdapat beberapa rekaman percakapan Azirwan dengan Ansar Ahmad (Bupati Bintan), Suganda (calon investor untuk proyek pengalihan lahan hutan), dan Boby yang identitasnya sampai saat ini belum diketahui.

 

Sebelum kasus ini muncul ke permukaan, menurut penyelidikan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bupati Bintan Ansar Ahmad pernah meminta izin Departemen Kehutanan agar membuka lahan hutan lindung untuk pertambangan. Namun proses perizinan tidak berlanjut karena Pemda Bintan lebih tertarik menjadikan lahan tersebut sebagai lokasi persiapan pembangunan gedung Pemda.

 

Pemda Bintan kemudian meminta Komisi IV DPR melancarkan upaya tersebut. Melalui Al Amin Nasution, Sekda Bintan Azirwan mengucurkan sejumlah uang sebagai dana memperlancar alih fungsi hutan lindung tersebut.

 

Azirwan dalam sidang mengakui suara yang terdapat dalam rekaman itu suaranya. Namun menurut dia percakapan tersebut adalah negosiasi pemberian uang kepada anggota Komisi IV yang akan melakukan kunjungan ke India.

 

Sebelum tertangkap KPK Al Amin kerap menghubungi Azirwan untuk menegosiasikan pemberian imbalan karena telah melancarkan upaya pengalihan fungsi lahan hutan lindung di Bintan. Mereka sempat melakukan pertemuan di ruang 1603 gedung DPR, Restoran Shanghai di Hotel Borobudur Jakarta, dan terakhir di Ritz Chartlon Hotel tempat Al Amin ditangkap KPK. (E1)

 

Foto: VHRmedia.com/Wahyu Arifin

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait


2 Komentar

  1. cestalani
    8 Juli 2008 pukul 12:49

    yaa msh wajar-wajar aja. org klu dah ada jabatan kan uang saja tdk cukup, paling cari cewek, klu cewek sdah ada mgkn judi.....terus........... hingga org tersebut ke kejeblos baru ingat.sebenarnya tdk hanya al amin. msh sangat banyak yg lbh pintar dari amin....gampang kok nebaknya...

  2. Sungai Siak
    13 Juli 2008 pukul 15:40

    Weleh weleeeh…nama islam kok kelakuan kayak BABI HUTAN ya ??? main seruduk sana sini yg penting perut menggelembung duit haram, yg penting JAJAN kontol bisa terpenuhi….aduh pusing gue, anggota DPR kok pd bangsat semua, gak di pusat gak di daerah semua podo wae hanya mentingin perut sendiri!!!
    Mulai skg ganti aja nama AL-AMIN jd AL-KAFIRUN atau AL-BABI PANGGANG,…DPR= DOYAN PELACUR RANUM, PPP=PARTAI PEMINTA PEREMPUAN, AL-AMIN=ALamak-Aku Minta Nikmat…
    BANGSAT LU SEMUA ANGGOTA DEWAN !! DI TEMPATKU ANGGOTA DPRD BAIK KETUA MAUPUN WAKIL DAN ANGGOTANYA SAMA SJ TUKANG KERUK DUIT RAKYAT, TUKANG KAWIN, TUKANG NGENTOT,YG PENTING DUIT MASUK PERUT !!! ANJING LU SEMUA !!!

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Kisah

Pojok Indonesia di Hong Kong

26 Agustus 2008 - 14:48 WIB

Buruh migran Indonesia menemukan tempat pelarian. Sekadar jembatan rindu rumah dan kampung halaman.


 TOKO kecil itu persis di depan kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di ruas Kewicks Street, Causeway Bay, Hong Kong. Deretan mi instan dengan trademark Indonesia berjajar memenuhi rak di

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN

8 Agustus 2008 - 16:24 WIB

Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru

15 Agustus 2008 - 16:58 WIB

Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor

1 Agustus 2008 - 16:1 WIB

Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas

1 Agustus 2008 - 15:33 WIB

Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat

1 Agustus 2008 - 16:33 WIB

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua
Teater Sandekala