| 07 Oktober 2008 |
Berita
Kasus Suap Korupsi BLBI
Artalyta Merasa Jadi Korban Jaksa Urip
1 Juli 2008 - 11:28 WIB
Wahyu Arifin
VHRmedia.com, Jakarta - Artalyta Suryani, terdakwa pemberi suap terhadap jaksa Kejaksaan Agung, menyesal memberikan uang kepada jaksa Urip Tri Gunawan. Makelar perkara itu merasa menjadi korban kebohongan Urip Tri Gunawan.
Hal itu terungkap dalam sidang kasus suap Artalyta Suryani di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (30/6). Dalam sidang itu majelis hakim yang dipimpin Mansyurdin Chaniago memperdengarkan rekaman pembicaraan telepon Artalyta dengan perempuan bernama Fem.
Dalam rekaman pembicaraan itu Artalyta sempat menyebutkan PT Nusa Mineral Utama yang kasusnya diputus bebas Mahkamah Agung. Ketika ditanya oleh hakim apakah Artalyta berprofesi sebagai makelar perkara, orang dekat Sjamsul Nursalim (tersangka korupsi BLBI) ini terlihat kesal. "Saya bukan pengurus perkara. PT Nusa Mineral Utama itu milik saya. Tidak ada kaitannya dengan masalah ini," katanya.
Hakim anggota Andi Bakhtiar terus mencecar dengan pertanyaan soal profesi Artalyta sebagai makelar perkara. "Saudari cukup bilang ya atau tidak.Tadi saya tanya pekerjaan Saudari selain ibu rumah tangga apa? Saudari tidak menjawab pengusaha. Dan saya tanya lagi Saudari pengurus perkara? Bukan. Cukup jawab ya atau tidak," ujar Andi.
Andi Bahktiar kemudian memperdengarkan rekaman perbincangan telepon Artalyta dengan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Dalam perbincangan itu terdengar Artalyta mengaku baru saja mengurus kasus BLBI. "Teman saya kan banyak, Yang Mulia. Mungkin saja kebetulan dia (Ketua PN Jakbar) menelepon saya dan saya jawab seadanya," jawab Artalyta.
Otto Cornelis Kaligis, pengacara Artalyta, berpendapat proses pengadilan sudah tidak jelas. Dia melihat banyak indikasi kepentingan dalam kasus ini. "Masak, hanya berdasarkan rekaman pembicaraan di telepon seseorang bisa divonis bersalah? Sial sekali orang yang mengangkat telepon dan berbicara dengan seseorang yang terkena kasus, tanpa tahu masalahnya," ujarnya. (E1)
Foto: VHRmedia.com/ Wahyu Arifin
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
-
7 Oktober 2008
Jimly: Negarawan Jangan Jadi Politisi -
2 Oktober 2008
Bom Bunuh Diri Terus Terjadi di Irak -
26 September 2008
Saksi Sidang Berhak Bebas dari Ancaman -
25 September 2008
Jaksa: Pencabutan BAP Budi Santoso Tidak Sah -
25 September 2008
Imam Hambali dan Devid Eko Ajukan PK
Belum ada yang berkomentar
Berikan Komentar Anda
Agenda
Berita Terkini
Jimly: Negarawan Jangan Jadi Politisi
7 Oktober 2008 - 18:29 WIB
Warga Taman BMW Bertahan
7 Oktober 2008 - 17:46 WIB
11 Parpol Tak Penuhi Kuota Caleg Perempuan
7 Oktober 2008 - 16:59 WIB
ASEAN Siapkan Aturan Perlindungan Buruh Migran
7 Oktober 2008 - 16:11 WIB
Komnas HAM: Stop Diskriminasikan Warga Miskin
7 Oktober 2008 - 15:42 WIB
Kisah
Ramadan ala BMI Hong Kong (2, Habis)
24 September 2008 - 13:1 WIB
BMI yang berpuasa merasa kesepian. Banyak godaan. Rindu suasana kampung.
TAK mudah menjalankan ibadah puasa di Hong Kong, terlebih dengan status sebagai pekerja rumah tangga. Septemper ini cuaca Hong Kong tergolong panas, suhu udara mencapai 30-35 derajat Celsius.
Di luar, toko-toko
Berita Terpopuler
Penumpang Kereta Bekasi-Jakarta Membeludak
2 Oktober 2008 - 14:29 WIB
Lebaran Pluralis di Kalimalang
1 Oktober 2008 - 11:16 WIB
Arus Mudik Berlanjut Hingga Hari Ini
2 Oktober 2008 - 13:2 WIB
Bom Bunuh Diri Terus Terjadi di Irak
2 Oktober 2008 - 14:47 WIB
Pengesahan RUU MA Hari Ini Batal
6 Oktober 2008 - 12:32 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







