| 21 November 2008 |
Berita
Konsultasi Pansus Hak Angket BBM DPR
BPK Diminta Tak Hanya Audit Gas Tangguh
3 September 2008 - 16:33 WIB
Hervin Saputra
VHRmedia, Jakarta - Panitia Khusus Hak Angket Bahan Bakar Minyak Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan Badan Pemeriksa Keuangan tidak hanya mengaudit penjualan gas Tangguh. BPK juga diharapkan memeriksa 54 kontrak lain yang perlu diperjelas cara penghitungannya.
Usulan tersebut dilontarkan Tjatur Sapto Edy, anggota Pansus dari Fraksi Partai Amanat Nasional, pada rapat konsultasi Pansus Hak Angket BBM dengan BPK di gedung DPR, Rabu (3/9). "Saya minta BPK menyampaikan ke publik, jangan hanya Tangguh. Tangguh ini cuma satu," ujarnya.
Menurut dia, pemerintah mengakui 54 dari 72 kontrak berpotensi merugikan negara seperti kontrak gas Tangguh yang dijual ke China. Dia berharap audit BPK yang akan disampaikan ke publik dapat menyelamatkan penerimaan negara ketimbang yang sudah diamankan saat ini.
Tjatur juga menyayangkan adanya unsur politis dalam pemunculan isu gas Tangguh. Dia mengingatkan pemerintah saat ini tidak perlu menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang meneken kontrak gas Tangguh. "Nggak usah saling menyalahkan, tapi sama-sama mendorong penerimaan negara lebih besar," ujarnya.
Ketua BPK Anwar Nasution mengatakan tidak memberikan rekomendasi kepada Pansus Hak Angket BBM mengenai pihak yang akan dipanggil untuk penyelidikan. BPK hanya memberikan rekomendasi agar kontrak tersebut ditinjau ulang. Apalagi, produksi gas Tangguh baru dimulai akhir tahun ini. "Audit BPK melihat bagaimana kontrak kok begini. Kenapa harga jual Tangguh (internasional) lebih murah daripada (harga jual gas) untuk rakyat miskin di negara sendiri?"
Mengenai potensi kerugian negara akibat kontrak gas Tangguh, Anwar Nasution belum bisa memastikan. Menurut dia, perkiraan potensi kerugian negara tergantung harga minyak dunia. Padahal, sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla menduga negara berpotensi rugi Rp 700 triliun akibat penjualan gas Tangguh. "Tergantung Jusuf Kalla mengasumsikan harga minyak. Harga minyak bisa naik bisa turun, kan," katanya. (E4)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
-
20 November 2008
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak -
18 November 2008
Emisi Gas Rumah Kaca Meningkat di Negara Maju -
14 November 2008
Pungli Konversi Minyak Tanah ke Gas di Bantul -
14 November 2008
Logistik Macet, Pemilu 2009 Berpotensi Digelar Tidak Serentak -
14 November 2008
Sidang Batal Dengar Keterangan Hasjim Djojohadikusumo
Belum ada yang berkomentar
Berikan Komentar Anda
Agenda
Berita Terkini
DPRD Surabaya Usul Insentif bagi Penjaga Makam
21 November 2008 - 13:24 WIB
Kejagung Upayakan PK Perkara PT Timor
21 November 2008 - 11:20 WIB
Operasi Preman Sia-sia, Rendahkan Martabat
21 November 2008 - 10:36 WIB
Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Kisah
Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)
19 November 2008 - 17:54 WIB
Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.
KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







