Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Berita

FPR Tuntut Hak Kelola Tanah Masyarakat Adat

Subarkah

VHRmedia, Palu - Seratusan petani Front Perjuangan Rakyat berunjuk rasa di kantor Gubernur Sulawesi Tengah dan Balai Taman Nasional Lore Lindu, Kamis (14/8). Mereka mendesak pembebasan petani Desa Sibalaya, Watumaeta, dan Kulawi, Kabupaten Donggala, yang ditahan karena membuka lahan di kawasan taman nasional.


Koordinator aksi, Rizal, mengatakan para petani itu memiliki hak mengelola tanah adat yang kebetulan di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. "Hentikan kekerasan dan kriminalisasi terhadap petani yang memperjuangkan haknya."

Menurut dia, pemerintahan yang tidak berpihak kepada rakyat menyebabkan konflik tanah antara warga dan pemerintah semakin sering terjadi. Apalagi sejak tahun 2004 Badan Pertanahan Nasional menjalankan program Land Administration Project hingga tahun 2009 yang dibiayai World Trade Organization.

Melalui program itu pemerintah Indonesia wajib menjamin keamanan tanah yang akan digunakan untuk investasi. Untuk melancarkan program itu, pemerintah mengajukan perubahan Undang-undang Pokok Agraria 1960 dengan RUU Sumber Daya Agraria yang kini masih dibahas DPR. "UUPA 1960 dianggap menghambat masuknya investasi perkebunan, pertambangan, dan agrobisnis," ujar Rizal.

Selain menuntut pembebasan petani yang memperjuangkan hak pengelolaan tanahnya, FPR juga mendesak peninjauan kembali penentuan tapal batas wilayah taman nasional, pengakuan terhadap masyarakat adat yang hidup dikawasan taman nasional, dan menghentikan distribusi pupuk lewat tengkulak. (E1)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait


Belum ada yang berkomentar

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Kisah

Hilangnya Seorang Kapten (1)

21 November 2008 - 13:41 WIB

 Empat hari lagi Yadin harus berangkat berlayar. Tawaran berlayar ke Singapura dari kakak iparnya tiba-tiba ditolak begitu saja. Demi sebuah keingingan untuk mengambil hasil ujian, tiket pesawat dikembalikan. "Sebentar lagi jadi kapten, Mak. Nanti Mamak aku beliin daster," kata Yadin Muhidin kepada

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua