Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Berita

Insiden Penembakan Hari Pribumi di Papua

Militer Diduga Terlibat Pembunuhan Opinus

Hervin Saputra

 VHRmedia, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menduga militer terlibat dalam pembunuhan Opinus Tabuni, warga Papua korban penembakan dalam peringatan Hari Pribumi Internasional di Wamena, 9 Agustus lalu.


Komisioner Subkomisi Mediasi Komnas HAM Yoseph Adi Prasetyo mengatakan, indikasi keterlibatan militer dalam insiden itu terlihat dari jenis peluru yang digunakan untuk menembak Opinus Tabuni.


Dalam kunjungan ke Papua beberapa waktu lalu Yoseph Adi memperoleh informasi proyektil peluru yang menewaskan Opinus kaliber 9 milimeter. Di kalangan Polri, peluru jenis ini hanya dimiliki personel Detasemen Khusus 88 Antiteror. "Ada dugaan digunakan satuan lain," ujar Yoseph Adi dalam jumpa pers di kantornya, Kamis (25/9).


Polisi mengaku telah memeriksa semua senjata yang digunakan personelnya ketika bertugas saat itu. Namun mereka tidak menemukan senjata dengan jenis peluru 9 milimeter. Berdasarkan jenis peluru, Yoseph Adi menduga pelaku penembakan bukan masyarakat sipil.


Menurut Yoseph Adi, pihaknya menemukan sejumlah kejanggalan dalam kasus penembakan Opinus Tabuni. Berdasarkan keterangan Ketua Dewan Adat Papua Forkorus Yoboisembut, Opinus Tabuni tidak ditembak dalam kerumunan peserta peringatan Hari Bumi. Korban ditembak di Jalan Patimura yang berseberangan dengan lokasi upacara. "Opinus tidak berada di kerumunan."


Ketika acara berlangsung, polisi tidak masuk dalam area upacara karena dijaga kelompok adat. Polisi mulai bergerak masuk setelah melihat pengibaran bendera Bintang Kejora, Merah Putih, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan bendera SOS bertuliskan "Nyawa Orang Papua Terancam". Setelah satu jam negosiasi baru ketahuan Opinus Tabuni tewas ditembak di luar kerumunan.


Selain itu, berdasarkan keterangan Komandan Rayon Militer setempat, saat itu banyak intelijen yang diduga dari Jakarta berada di sekitar lokasi kejadian. "Mereka tidak berkoordinasi dengan Komandan Kodim setempat," ujar Yoseph Adi.  


Komnas HAM mengusulkan Presiden Yudhoyono membentuk tim independen beranggotakan personel lintas satuan untuk memeriksa insiden pembunuhan Opinus Tabuni, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan secara ilimiah seperti olah TKP dan uji balistik. "Bentuk tim independen yang bertanggung jawab terhadap Presiden," kata Yoseph Adi.


Berdasarkan penelitian Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah Papua, peluru yang menewaskan Opinus Tabuni menembus dada kiri di antara tulang iga delapan dan sembilan hingga hancur tidak beraturan di dalam jantung. (E1)

 

Foto: VHRmedia/ Theo Hasegem

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait


Belum ada yang berkomentar

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)

19 November 2008 - 17:54 WIB

 Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.

 

KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua