| 20 November 2008 |
Berita
Insiden Monas
Perempuan Korban FPI Minta Perlindungan
10 September 2008 - 18:14 WIB
Hervin Saputra
VHRmedia, Jakarta - Sejumlah perempuan korban penyerangan Front Pembela Islam terhadap anggota AKKBB di kawasan Monas 1 Juni lalu, meminta perlindungan Kejaksaan Agung. Mereka yang kini menjadi saksi sidang kasus kekerasan tersebut khawatir mendapat teror fisik dan mental.
Permintaan itu disampaikan Muslihah, Sekretaris Jenderal Gerakan Umat Islam Antikekerasan, di gedung DPR Jakarta, Rabu (10/9). Menurut dia, demi menjaga keadilan, Mahkamah Agung wajib mengawasi jalannya sidang kasus kekerasan oleh FPI di Pengadilan Jakarta Pusat. "Khususnya kaum perempuan meminta perlindungan agar tidak mengalami teror mental dan fisik," katanya.
Salah korban penyerangan FPI di Monas, Nyoman Naisanawiputri, mengatakan FPI jelas memukul dirinya dalam insiden tersebut. Mulanya dia mengira anggota FPI tidak sengaja memukulnya, karena berasumsi tidak mungkin anggota ormas itu memukul perempuan.
Nyoman Naisanawiputri yang datang ke Monas untuk memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai perwakilan National Integration Movement kemudian sadar anggota FPI sengaja memukulnya di bagian belakang kepala. "Mereka tidak mengenal perempuan, anak-anak, orang tua, atau orang cacat," ujarnya.
Korban pemukulan lainnya, Istiqomah Hestari, mengaku dipukul anggota FPI di ruang sidang PN Jakarta Pusat saat Habib Rizieq diadili beberapa waktu lalu. Pemukulan bermula ketika anggota FPI memintanya pindah tempat duduk untuk ditempati simpatisan organisasi itu. Karena menolak, kepalanya dipukul dan bajunya ditarik oleh anggota FPI. Istiqomah mencoba menjelaskan dia bukan anggota Ahmadiyah. Dia mengatakan, "Inilah kenapa Islam disebut teroris." Kalimat itu justru membuat anggota FPI semakin berang.
Anggota Komisi III DPR Eva K Sundari yang menemui para pelapor mengatakan, aparat kerap menggunakan standar ganda dalam menanggapi pengaduan perempuan korban kekerasan. Misalnya dengan menolak menggunakan rekaman video bukti kekerasan FPI terhadap perempuan. "Sementara untuk menangkap teroris, mereka menggunakan video," katanya. (E1)
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
-
20 November 2008
Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC -
20 November 2008
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran -
20 November 2008
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban -
20 November 2008
Bush Longgarkan Perlindungan Spesies Langka -
20 November 2008
KPK Minta Pihak Terkait Penyidikan BLBI Lengkapi Data
Belum ada yang berkomentar
Berikan Komentar Anda
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
Kisah
Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)
19 November 2008 - 17:54 WIB
Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.
KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







