Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Berita

Insiden Monas

Perempuan Korban FPI Minta Perlindungan

Hervin Saputra

VHRmedia, Jakarta - Sejumlah perempuan korban penyerangan Front Pembela Islam terhadap anggota AKKBB di kawasan Monas 1 Juni lalu, meminta perlindungan Kejaksaan Agung. Mereka yang kini menjadi saksi sidang kasus kekerasan tersebut khawatir mendapat teror fisik dan mental.


Permintaan itu disampaikan Muslihah, Sekretaris Jenderal Gerakan Umat Islam Antikekerasan, di gedung DPR Jakarta, Rabu (10/9). Menurut dia, demi menjaga keadilan, Mahkamah Agung wajib mengawasi jalannya sidang kasus kekerasan oleh FPI di Pengadilan Jakarta Pusat. "Khususnya kaum perempuan meminta perlindungan agar tidak mengalami teror mental dan fisik," katanya.


Salah korban penyerangan FPI di Monas, Nyoman Naisanawiputri, mengatakan FPI jelas memukul dirinya dalam insiden tersebut. Mulanya dia mengira anggota FPI tidak sengaja memukulnya, karena berasumsi tidak mungkin anggota ormas itu memukul perempuan.


Nyoman Naisanawiputri yang datang ke Monas untuk memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai perwakilan National Integration Movement kemudian sadar anggota FPI sengaja memukulnya di bagian belakang kepala. "Mereka tidak mengenal perempuan, anak-anak, orang tua, atau orang cacat," ujarnya. 


Korban pemukulan lainnya, Istiqomah Hestari, mengaku dipukul anggota FPI di ruang sidang PN Jakarta Pusat saat Habib Rizieq diadili beberapa waktu lalu. Pemukulan  bermula ketika anggota FPI memintanya pindah tempat duduk untuk ditempati simpatisan organisasi itu. Karena menolak, kepalanya dipukul dan bajunya ditarik oleh anggota FPI. Istiqomah mencoba menjelaskan dia bukan anggota Ahmadiyah. Dia  mengatakan, "Inilah kenapa Islam disebut teroris." Kalimat itu justru membuat anggota FPI semakin berang.


Anggota Komisi III DPR Eva K Sundari yang menemui para pelapor mengatakan, aparat kerap menggunakan standar ganda dalam menanggapi pengaduan perempuan korban kekerasan. Misalnya dengan menolak menggunakan rekaman video bukti kekerasan FPI terhadap perempuan. "Sementara untuk menangkap teroris, mereka menggunakan video," katanya. (E1)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait


Belum ada yang berkomentar

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)

19 November 2008 - 17:54 WIB

 Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.

 

KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua