Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Berita

Studi Banding DPR ke Swiss & Lebanon

Rp 500 Juta Bea Debat Lambang Palang Merah

Hervin Saputra

 VHRmedia, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat menganggarkan dana US$ 56.000 atau senilai Rp 504 juta untuk ongkos studi banding Panitia Kerja RUU Palang Merah Indonesia ke Lebanon. Studi banding itu untuk mencari masukan soal kemungkinan memasukkan lambang Bulan Sabit Merah selain lambang Palang Merah.


Suripto yang mengetuai Tim Studi Banding Pansus DPR ke Lebanon mengatakan, anggaran yang disiapkan untuk anggota US$ 4.000 per orang. Dana tersebut seluruhnya bersumber dari anggaran DPR. "Sesuai aturan, kami naik kelas bisnis," katanya.


Tim tersebut akan mengunjungi Lebanon 25-31 Agustus 2008. Mereka yang berangkat adalah Suripto, Mulfachri Harahap, Maiyasyak Johan, Nanie Hardiyantie, Willa Chandrawila Supriadi, M Nurdin, Daday Hudaya, Yudo Paripurno, Ahmad Koerdi Moekri, Patrialis Akbar, Soeharno, Nasir Jamil, serta 2 staf Sekretariat Komisi III Insan Abdirrohman dan Agus Widodo.


Suripto mengatakan segera mengumumkan keberangkatan anggota Pansus DPR ke Lebanon karena muncul dugaan studi banding itu tidak transparan. "Kunjungan ke luar negeri sebaiknya transparan, supaya tidak ada teka-teki," kata Suripto yang juga Wakil Ketua Komisi III, Jumat (22/8).


Sebelumnya Tim Panja RUU PMI yang dipimpin Wakil Ketua Komisi III Azis Syamsuddin melakukan studi banding ke Swiss. Mereka terkesan menutup-nutupi studi banding tersebut dengan mengaku berkunjung ke daerah. Tim tersebut berangkat ke Swiss 4 Agustus lalu untuk membahas lambang Palang Merah Indonesia.


Sebelumnya anggota Pansus berdebat soal penggunaan lambang PMI. Kelompok pertama mengusulkan lambang Bulan Sabit Merah dimasukkan dalam lambang PMI selain Palang Merah, sedangkan kelompok lainnya menolak usulan itu.


Untuk mengumpulkan bahan referensi, Tim Pansus dibagi menjadi 2 kelompok. Tim yang berangkat ke Lebanon mencari informasi bagaimana 2 organisasi kemanusiaan dengan lambang berbeda (Palang Merah dan Bulan Sabit Merah) dapat bekerja sama di negara itu. "Untuk pengayaan (referensi)," kata Suripto. (E1)

 

Foto: wikipedia.org 


©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait


Belum ada yang berkomentar

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)

19 November 2008 - 17:54 WIB

 Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.

 

KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua