Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Berita

Data Pemilih Amburadul

Stop Salahkan Data Penduduk Penyebab Golput

Hervin Saputra

VHRmedia, Jakarta - Buruknya sistem pendataan calon pemilih pada Pemilu 2009 akan menyebabkan banyak pemilih kehilangan hak suara. Akibatnya, legitimasi kandidat terpilih lemah di masyarakat karena jumlah golongan putih (golput) melonjak.

Anggota Komisi Pemilihan Umum I Gede Putu Arta berpendapat, lonjakan jumlah golput dalam berbagai pemilihan lebih disebabkan kesalahan sistem pemilu dibandingkan faktor kesadaran politik. "Kesuksesan Pemilu itu karena data yang valid," kata I Gede Putu Arta di Jakarta, Kamis (7/8).

Kesalahan sistem pendataan pemilih terjadi karena pelaksanaannya dipaksakan sejalan dengan program pemerintah melakukan pemutakhiran data penduduk. Data kependudukan yang akan selesai tahun 2010 itu tidak sesuai dengan daftar pemilih tetap yang harus selesai pertengahan Oktober nanti. Apalagi, KPU akan mengumumkan daftar pemilih sementara pada 8-21 Agustus 2008. "Ini yang tidak nyambung," ujarnya.

Selain itu, buruknya pendataan pemilih karena tidak ada sistem yang menjamin petugas tingkat daerah mendata sesuai prosedur, seperti mendatangi calon pemilih dari rumah ke rumah. Petugas dapat saja mengambil jalan pintas menyalin data penduduk dari desa setempat. "Itu yang menyebabkan nama orang yang sudah meninggal muncul dalam daftar pemilih," katanya.

Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat Jeirry Sumampow mengakui kesalahan data pemilih menjadi penyebab tingginya jumlah golput. Dia meminta KPU serius memperbaiki struktur data dengan mendengar masukan dari masyarakat. "Persentase golput karena orang malas memilih itu jumlahnya kecil," katanya.


Jeirry menyayangkan sikap KPU yang menjadikan sistem anggaran dan sistem pendataan penduduk sebagai penyebab ketidakakuratan data. Dia mengingatkan, KPU sudah pernah mengantisipasi masalah itu. Dia meminta anggota KPU mundur jika tidak dapat menyelesaikannya. "Ini jangan terus dikeluhkan," ujarnya.


Menurut catatan JPPR, indikasi melonjaknya jumlah golput pada Pemilu 2009 dapat dilihat melalui beberapa pilkada selama 2005-2007. Terdapat 14 pilkada gubernur dengan jumlah golput tinggi, terutama di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Jawa Tengah. Partisipasi pemilih di 3 provinsi itu di bawah 60% dari keseluruhan daftar pemilih tetap.

Pada 39 dari 165 penyelenggaraan pilkada bupati/wali kota, jumlah golput jauh lebih tinggi dari perolehan suara kandidat terpilih. Jumlah golput tertinggi terjadi pada Pilkada Batam. Dari 514.326 daftar pemilih tetap, golput mencapai 281.911 suara, sedangkan kandidat terpilih hanya meraih 93.616 suara. (E1)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait


Belum ada yang berkomentar

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)

19 November 2008 - 17:54 WIB

 Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.

 

KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua