Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Berita

Tiap Tahun Rp 6 Triliun Dana Otsus Papua Dikorup

Kurniawan Tri Yunanto

VHRmedia.com, Jakarta - Gerakan Masyarakat Adat Papua Anti Korupsi berunjuk rasa di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi mendesak segera menyelidiki para pejabat lokal Papua yang diduga menilap dana Otonomi Khusus Papua. Selama 7 tahun terakhir dana Otonomi Khusus Papua yang dikorupsi pejabat lokal Papua mencapai Rp 6 triliun per tahun.

 

Menurut catatan Gerakan Masyarakat Adat Papua Anti Korupsi, setidaknya 14 bupati, bekas bupati, dan wali kota diduga terlibat korupsi penyaluran dana Otsus Papua. Mereka di antaranya Soleman Daut Betawi (Bupati Yapen Waropen), Onesimus Ramand Y (Bupati Waropen), Yusak Yaluwo B (Bupati Bovendigoel), Philip Wona (bekas Bupati Yapen Waropen), YP Wanane (bekas Bupati Sorong), dan Y Yumame (Wali Kota Sorong).

 

Menurut Dorus Wakum, Koordinator Gerakan Masyarakat Adat Papua Anti Korupsi, para pejabat lokal umumnya terlibat berbagai kasus korupsi. Seperti penggelembungan dana pengadaan barang sampai penyalahgunaan dana Otsus. "Kami meminta KPK segera mengambil alih kasus dugaan korupsi yang melibatkan sejumlah bupati dan wali kota. Tangkap dan periksa mereka yang sudah terindikasi korupsi," kata Dorus di kantor KPK Jakarta, Rabu (9/4).

 

Dia menyayangkan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang cenderung takut mengeluarkan izin pemeriksaan terhadap para pejabat daerah yang terindikasi terlibat pidana korupsi. Menurut dia, penyelidik dan penyidik di Papua selama ini lamban menangani kasus korupsi. "Padahal dana Otsus diberikan selama 25 tahun ke depan. Kalau sampai tahun ke tujuh masih terus dicuri tanpa ada pemerataan pembangunan, mungkin orang seperti kami ini akan tersingkir di tanah sendiri," katanya.

 

Jika dalam beberapa minggu ke depan KPK tidak menindaklanjuti laporan dugaan korupsi itu, Gerakan Masyarakat Adat Papua Anti Korupsi akan menyampaikan hal itu kepada masyarakat internasional. Mereka akan meminta masyarakat internasional mengintervensi hukum dan politik Indonesia agar segera menyelesaikan masalah di Papua.

 

Selain itu, mereka akan menyerukan kepada masyarakat Papua dan seluruh masyarakat Indonesia agar melakukan boikot Pemilu Presiden 2009 jika masalah Papua tidak segera diselesaikan. "Selama ini Presiden janji-janji saja. Kalau tidak bisa juga, lebih baik kami diberi kemerdekaan daripada tertindas. Kalau hukum tidak berpihak pada kami, lebih baik merdeka saja," kata Dorus Wakum. (E1)

©2010 VHRmedia.com


Berita Terkait


3 Komentar

  1. yale gweaknindi
    18 April 2008 pukul 15:39

    PELAYANAN PEMBAGUNAN JAYAWIJAYA DALAM ERA OTONOMI SEMAKIN KURANG JELAS .
    Dana bersumber dari otosu ,DAK dan DAu yang masuk di kabupaten jayawijaya mencapai milyaran rupiah namun kenyataan yang kita lihat tidak ada perubahan yang signifikan ,Walaupun Vulume dananya cukup banyak tapi volume prencanaan dan pengunaan dana sangat kecil kemanakah? miliyaran rupiah yang kurang jelasnya jejak itu..?
    terutama bidang kesehatan baik itu pelayanan dalam manajemen maupun klinik kurang jelas karena semuan dana yang turun untuk meningkatkan mutu pelayanan dan peningkatan sarana dan prasarana bidang kesehatan hanya tenggelam di dinas kesehatan dan indikasi sangat kuat karena adanya mafia korupsi yang berputar di dinas kesehatan kabupaten jayawijaya ,yang setingannya diatur oleh beberapa oranf dinas kesehatan sehingga perluh adanya tinjau kembali sem,ua dana yang turun ke dinas kesehatan kabupaten jayawijaya .
    .dalam pengajuman proposal dari dinas ke pemda jayawijaya jumlahnya cukup banyak namun setelah pengesahan dana semua proyek baik itu dana untuk program maupun fisik kabur dengan mengunakan SPPD palsu yang di buat didinas kenyataannya tidak turun pelayanan ke daerah sesuai dengan proposal proyek yang di ajukan .

    kami harapkan perluh adanya membongkar mafia korupsi di dinas kesehatan yang berakibat masyarakat jayawijaya terutama daerah terpencil sama sekali tidak sentu dan belum pernah merasakan dana otsus itu yang bentuknya seperti apa ..
    penulis sebagai sfat dinas dan sebagai pengelolah satu satu puskesmas pedalaman jayawijaya

  2. iyowawipouga
    12 November 2008 pukul 12:0

    booo................ tokoh adat papua, sebenaarnya yang minta otonomi itu siapa dulu baru kamu bertingak? itukan permintaan orang orang atas bukan masyarakat. jadi anda sebagai toko adat carilah apa yang masyarakat inginkan itu baru benar. bukan mencari bu kan jadi hak milik masyarakat. otonomi itukan haknya orang orang kalangan ats.

    ITU AJA KO REPOTTTTTTTTTTTTTT

  3. Herry
    10 Desember 2009 pukul 10:42

    seetulnys otsus ada sebagai win-win solution pemeritah RI dan masyarakat Papua. keberadaan otsus sebetulya sudah sangat tepat utuk bisa mensejahterakan org papua, mencerdaskan orang papua, sehatkan orang papua yang berambut keriting yang merupakan bagian dari suku-suku di tanah papua, maaf bukan utk kaum pendatang.
    kembali lagi....bejabat kita org papua sebetulnya sebagai pengaut faham darwisme yang menyatakan bhw: sebetulnya manusia itu berasal dari binatang dan memiliki sifat-sifat kebinatangan, siapa yang kuat dialah yang menang (hukum alam)...faham ini tidak mempunyai hati nurani dan etika.
    solusi : perbaiki etika dan moral pejabat melalui jalur agama.
    semoga org Papua tidak punah bagai tikus mati di lumbung padi.

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )


Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:24 WIB

Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru yang segar, sederhana, dan lebih mendalam dengan pemilihan kategori tema. Kunjungi VHRmedia baru di: http://www.vhrmedia.com//


Redaksi

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua