Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Bingkai

Kanal ‘Gaul’ Tanpa Kompromi

26 Agustus 2008 - 17:32 WIB

 Munculnya kaum muda dalam kancah politik terjadi hampir di setiap negara. Di Indonesia kita mengingat sosok Sutan Sjahrir yang menjabat perdana menteri pada usia 36 tahun. Soekarno menjadi presiden pertama di usia 44 tahun dan Moh Hatta sebagai wakilnya baru berusia 43 tahun.


Setelah Amerika Serikat dihebohkan munculnya calon presiden muda, Barack Obama, Indonesia seperti tidak mau kalah dengan munculnya tokoh-tokoh muda yang siap berlaga pada Pemilu 2009.


M Fadjroel Rahman dikenal sebagai pengamat politik, aktivis, bahkan novelis. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini getol mengkritik pemerintah melalui tulisan dan analisisnya. Namun, menurut dia, bukan usia yang membedakan kualitasnya dengan calon presiden lainnya. "Bukan umur, tapi pemikiran dan program yang membedakan," katanya.


Menurut Fadjroel, saat ini terdapat tiga pola pemerintahan yang akan muncul dari hasil pertarungan politik kaum muda dan tua. Pola itu menentukan akselerasi politik pemerintah yang akan mempengaruhi kebijakan terhadap masyarakat. Pola progresif jika kaum muda menduduki jabatan presiden dan wakil presiden. Pola moderat jika pesiden dan wakilnya dari kaum tua, sedangkan anggota kabinetnya para pemuda. Dan pola konservatif jika semua posisi diisi kaum tua. Pola terakhir sudah banyak ditinggalkan karena pemerintahan menjadi lamban dan biasanya antiperubahan.


Dalam pencalonan dirinya, Fadjroel menyiapkan program progresif yang menurut dia bisa menyelesaikan masalah negeri ini. Yakni, nasionalisasi aset; penghapusan dan penolakan utang luar negeri; serta penerapan pajak progresif.


Namun, menurut dia, yang tidak kalah penting adalah pelunasan dua utang sejarah. Yaitu kejahatan korupsi rezim Orde Baru dan pelanggaran HAM berat masa lalu. Dua agenda itu harus dituntaskan demi kredibilitas bangsa.


Lima program utama itu yang akan diusung Fadjroel Rahman sebagai program progresif amunisi maju sebagai calon presiden independen pada Pemilu 2009. Dia menyatakan program utama itu tidak bisa ditawar oleh partai politik mana pun yang akan mengusungnya memenangi pemilu.


Kemungkinan calon presiden perseorangan ikut "perang" pada Pemilu 2009 diragukan banyak pihak. Konstitusi jelas tidak memungkinkan calon perseorangan ikut dalam perebutan kursi orang nomor 1 di Indonesia itu. "Meski banyak pengamat meragukan, yang ingin aku lakukan adalah ‘mengguncang danau'. Dan tugas pengamatlah yang memotret permukaan yang terguncang itu," kata Fadjroel optimistis.


Sebagai jurus, pria yang pernah dipenjara di LP Sukamiskin karena aktivitas politiknya ini menyiapkan beberapa tahapan. Di antaranya, mengajukan judicial review UU 23/2003 tentang Pemilihan Umum. Dalam gugatannya, Fadjroel mengusulkan agar dimasukkan kata "konvensi" dalam UU itu. Jika hal itu disetujui, partai politik wajib mengundang para calon perseorangan untuk bertarung dalam pemilihan presiden.


Pola inilah yang diincar Fadjroel melalui peluang yang dibuka Partai Keadilan Sejahtera. Partai ini berencana menggandeng 100 pemimpin muda untuk bersaing dalam konvensi calon presiden. Meski mengaku akan memanfaatkan tawaran itu, Fadjroel menyatakan tetap mempertahankan program yang berbeda dengan PKS.


"Kalau tidak cocok tidak masalah. Aku akan berpisah baik-baik. Lima program utama itu tetap. Itu fundamental. Karena itulah yang membedakan antara kaum muda dan tua, antara program yang progresif dan yang konservatif. Kalau ada kompromi lagi, akan kehilangan pembeda itu," ujarnya.


Pilihan jalur kampanye yang dicoba Fadjroel juga tergolong unik. Meski sudah jamak dilakukan di luar negeri, memanfaatkan jaringan "gaul" Facebook untuk menjaring suara masih langka dilakukan di Indonesia.


Meski mulanya hanya coba-coba, Fadjroel memanfaatkan kanal jejaring perkawanan itu untuk memetakan kondisi politik sampai solusi pendanaan. Menurut dia, kendala komunikasi dengan calon pemilih dan upaya menggalang dana lumayan terfasilitasi lewat fasilitas komunikasi pergaulan ini.


Facebook yang kini populer di kalangan muda dipilih Fadjroel sebagai jalan masuk ke kalangan profesional. "Empat hari setelah keluar di Facebook, beberapa media langsung mengangkat soal calon independen. Jadi, sebenarnya yang dikejar adalah multiplayer effect ke media massa lain untuk penyebarannya," ujarnya.


Akibat mutiplayer effect tersebut tidak hanya dukungan yang terus bertambah, tapi juga beberapa orang di Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang berminat meminjamkan rumahnya untuk sekretariat "Fadjroel for President 2009". "Kita bilang terima kasih dulu, karena itu harus dimasukkan ke dalam badan hukum Yayasan Fadjroel Rahman. Meski mereka hanya meminjamkan, itu harus masuk untuk akuntabilitasnya. Pengurusan badan hukum dan NPWP itu sekarang sedang berjalan," katanya.


Fadjroel mengaku tidak patah arang jika gagal maju pada Pemilu 2009. Dia akan memperjuangkan calon presiden independen pada Pemilu 2014. "Tradisi itu yang ingin aku bangun. Bahwa ada anggapan aku sudah membangun fondasi untuk 2014, itu benar dan tidak aku mungkiri," katanya. (*)

 

Kurniawan Tri Yunanto 

 

Foto: VHRmedia/ Dian Ali Rachman 

©2010 VHRmedia.com


Belum ada yang berkomentar

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail (tidak dipublikasikan)
Isikan kode dikiri pada input form dikanan, refresh untuk me-reload kode. ( case and sensitif )



Wawancara

Rido Triawan: Gay Bukan Psikopat

25 Juli 2008 - 14:4 WIB

Rido TriawanAkhir-akhir ini masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita mutilasi terhadap Heri Santoso (40). Polisi menyangka Verry Idham Henyasyah alias Ryan (30), seorang gay, sebagai pelakunya. Banyak media massa mengangkat pendapat masyarakat bahwa gay memiliki kecenderungan berlaku psikopat. Pandangan tersebut dibantah Rido

Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:24 WIB

Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru yang segar, sederhana, dan lebih mendalam dengan pemilihan kategori tema. Kunjungi VHRmedia baru di: http://www.vhrmedia.com//


Redaksi

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua