| 28 Agustus 2008 |
Bingkai
Melepas Kambing Hitam di Gerbang Senayan
22 Juli 2008 - 13:45 WIB
Bruk! Pagar depan gedung DPR ambruk. Panasnya suhu politik di dalam gedung Dewan, memicu massa di luar mengamuk. "Aroma" uang menguar dari asap mobil berpelat merah yang dibakar. Mahasiswa terlibat?
Polisi dituding memburu sejumlah aktivis pemimpin demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak. Gaya pengendalian stabilitas keamanan era Soeharto diadopsi pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono? Atau sekadar klik segelintir oposan politik untuk menggulingkan pemerintahan?
Setelah menahan Ferry Yuliantono, Sekretaris Jenderal Komite Bangkit Indonesia, polisi memperluas pemeriksaan terhadap sejumlah aktivis yang diduga memimpin demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Ferry dituduh mendalangi demonstrasi menolak kenaikan BBM yang disertai kekerasan di depan gedung DPR dan kampus Universitas Katolik Atmajaya, 24 Juni lalu.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Abu Bakar Nataprawira mengatakan, Ferry Yuliantono dijerat pasal penghasutan dan penyebaran perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap pemerintah Indonesia. "Dari sini jelas sekali peran yang bersangkutan, sehingga penyidik dari Direktorat I Bareskrim menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka."
Penyidikan terhadap Ferry atas beberapa laporan dari polisi, laporan yang diberikan oleh Direktorat I Badan Reserse dan Kriminal, masuk dalam kategori "Tipe A" karena pelapornya adalah polisi sendiri.
Sekretariat KBI di Jalan Tebet Dalam, Jakarta Selatan, digeledah. Polisi menyita 2 unit komputer, slip transaksi ATM, sejumlah dokumen penting, dan beberapa VCD yang berkaitan dengan Ferry. "Bukti ini sedang didalami oleh penyidik dan belum bisa dijelaskan sekarang," ujar Abu Bakar.
Bahkan kemudian pemeriksaan polisi juga mulai "nyerempet" pada beberapa organisasi yang pernah bergabung dalam demonstrasi menolak kanaikan harga BBM bersama KBI. Front Rakyat Menggugat yang ternyata tinggal satu atap dengan KBI menjadi salah satu target penyidikan.
Ketua FRM Wahab Talaohu membantah organisasinya onderbouw KBI. Meski dalam beberapa demo menolak kenaikan BBM kedua organisasi ini terlihat "akrab", Wahab membantah FRM dijadikan alat tunggangan Ferry. "Saya tidak terlibat dalam aksi anarkis dan saya tidak pernah menerima perintah untuk melakukan demo rusuh," ujarnya.
Juru bicara KBI Adhie Masardie juga membantah Ferry Yuliantono terlibat menggerakkan demo di depan DPR dan kampus Unika Atma Jaya. Menurut dia, penangkapan Ferry hanya imbas dari perbedaan pendapat yang bersangkutan dengan pemerintah soal kenaikan harga BBM. "Terbukti penangkapan Ferry berasal dari perbedaan pendapat antara pemerintah dan KBI yang menentang kenaikan harga BBM yang menyengsarakan rakyat. Ini hanya untuk menyelamatkan APBN," ujarnya.
Menurut Adhie, imbas penangkapan sejumlah aktivis yang dituduh terlibat demo dengan kekerasan di depan DPR dan kampus Atmajaya saat ini banyak aktivis yang berbeda pendapat dengan pemerintah ketakutan. Dia mengaku kehilangan kontak dengan teman sesama aktivis.
"Peristiwa kemarin itu kami melihat sebagai peristiwa ‘Malari Kecil'. Kalau dulu oleh Soeharto digunakan untuk menangkap lawan politiknya, sekarang digunakan untuk menangkap kelompok yang berbeda pendapat dengan pemerintah. Kalau ini dijalankan, merupakan embrio dari pemerintah yang fasis," kata Adhie Masardie.
Isu bahwa demo di depan DPR dan kampus Unika Atma Jaya 24 Juni lalu digerakkan sejumlah pihak semakin santer ketika Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar menyebut anggota DPR terlibat. Meski tidak menyebutkan nama, Syamsir menuding anggota Dewan terlibat menggerakkan demo tersebut.
Apalagi demo di depan DPR dan kampus Atma Jaya saat itu bersamaan dengan rapat paripurna pengesahan pengajuan hak angket kenaikan harga BBM. Benarkah demonstrasi di luar pagar gedung Dewan dikendalikan oleh sejumlah anggota DPR dari dalam gedung?
Hal itu dibantah Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Priyo Budi Santoso. Menurut dia, mahasiswa masih memiliki kesadaran untuk tidak diintervensi. Namun dia juga menilai wajar jika demonstrasi politik didanai sejumlah pihak. "Mahasiswa itu biasanya punya titik nurani yang tidak bisa didanai. Tapi kalau cuma mendanai politik, itu biasa."
Priyo Budi bahkan menantang Syamsir Siregar untuk menyebutkan anggota Dewan yang dituding mendanai demonstrasi. "Lebih baik Ketua BIN langsung men-declare saja anggota Dewan yang diduga mendanai itu. Supaya kami tidak merasa tidak enak hati," katanya.
Memang sulit membuktikan bahwa gerakan mahasiswa tidak didanai seseorang atau kelompok tertentu. Pertanyaan itu sama sulitnya ketika harus menjawab apakah gerakan mahasiswa tidak didanai.
Di belakang heroiknya gerakan reformasi 1998 yang diusung mahasiswa juga sempat terdengar selentingan tak sedap bahwa gerakan jas almamater ini dibekingi orang berpengaruh. Meski akhirnya kabar itu menguap dibakar euforia jatuhnya rezim Soeharto, kabar itu tentu juga tidak dapat diabaikan begitu saja.
Mantan aktivis '98 Fadjroel Rahman menyebutnya sebagai latar perjuangan reformasi. Bunga-bunga pergerakan, jika
tabu untuk dibicarakan, tentu juga tidak dengan mudah dapat diabaikan. "Di 1998 kasus ini tidak terlalu menonjol. Kita dapat mengklaim bahwa itu gerakan mahasiswa 98, karena permainan itu hanya menjadi latar belakang. Tetapi kalau yang sekarang ini, mereka itu betul-betul menjadi pemain utamanya," katanya.
Menurut Fadjroel, mahasiswa hanya menjadi kambing hitam peristiwa demonstrasi dengan kekerasan di depan gedung DPR dan kampus Unika Atma Jaya. Dia menilai terjadi konspirasi tingkat tinggi atau konspirasi elite yang melatarbelakangi kasus tersebut.
"Jadi, untuk membongkar kerusuhan 24 Juni, tidak bisa dilimpahkan ke mahasiswa. Paling tidak harus ditimpakan kepada 2 orang, yaitu Ferry Yuliantono dan Kepala BIN Syamsir Siregar. Mereka berdua ini yang harus dibongkar, kenapa sampai ada hubungan seperti itu dan tidak ada antisipasi maksimal," ujar Fadjroel.
Penyelidikan polisi belum selesai. Ferry Yuliantono mungkin saja dibebaskan dari tuduhan. Namun banyak pihak sangsi kasus ini dapat dibongkar sampai ke akarnya. Seperti isu kenaikan harga bahan bakar minyak yang menjadi sumbernya, peristiwa kekerasan di depan gedung DPR dan kampus Universitas Katolik Atma Jaya tampaknya mudah "terbakar", tapi juga sekaligus mudah "menguap" dan dilupakan. (*)
Penulis: Angga Haksoro; Reporter: Kurniawan Tri Yunanto, Hervin Saputra, Ferry Yunizar
Foto: VHRmedia.com/ Dian Ali Rahman
©2008 VHRmedia.com
Belum ada yang berkomentar
Berikan Komentar Anda
Wawancara
Rido Triawan: Gay Bukan Psikopat
25 Juli 2008 - 14:4 WIB
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita mutilasi terhadap Heri Santoso (40). Polisi menyangka Verry Idham Henyasyah alias Ryan (30), seorang gay, sebagai pelakunya. Banyak media massa mengangkat pendapat masyarakat bahwa gay memiliki kecenderungan berlaku psikopat. Pandangan tersebut dibantah Rido
Berita Terkait
- Rombongan Presiden Dihadang 9 Demonstran 26 Agustus 2008 - 15:12 WIB
- Dikecam, Kenaikan Harga Gas Jelang Lebaran 25 Agustus 2008 - 14:32 WIB
- Tim Kecil Angket BBM Usul Panggil Presiden 8 Agustus 2008 - 11:36 WIB
- Gugatan Kenaikan Harga BBM Tidak Diterima 5 Agustus 2008 - 14:32 WIB
- Pansus BBM Harus Lindungi Saksi 5 Agustus 2008 - 11:44 WIB
Kisah Terkait
- Mereka Juga Terlilit BBM (2) 10 Juni 2008 - 11:39 WIB
- Mereka Juga Terlilit BBM (1) 9 Juni 2008 - 14:6 WIB
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (3, habis) 29 Mei 2008 - 11:10 WIB
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (2) 28 Mei 2008 - 15:23 WIB
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (1) 27 Mei 2008 - 14:5 WIB
Artikel Terkait
- Penyelewengan Polisi dalam Demokrasi 17 Desember 2007 - 11:28 WIB
- Tiga Jurus Kendalikan Minyak Goreng 13 Juni 2007 - 16:21 WIB
Agenda
Berita Terkini
Polisi agar Tindak Pelaku Sweeping Ramadan
28 Agustus 2008 - 16:44 WIB
Polda Jatim Akan Usut Kasus Salah Tangkap
28 Agustus 2008 - 15:15 WIB
Dinkes Jombang agar Optimalkan Program KRR
28 Agustus 2008 - 13:31 WIB
IMF Diduga Intervensi, Segera Revisi UU Migas
28 Agustus 2008 - 13:17 WIB
Bekas Ketua DPRD Sleman Diadili Awal September
28 Agustus 2008 - 12:15 WIB
Kisah
Pojok Indonesia di Hong Kong
26 Agustus 2008 - 14:48 WIB
Buruh migran Indonesia menemukan tempat pelarian. Sekadar jembatan rindu rumah dan kampung halaman.
TOKO kecil itu persis di depan kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di ruas Kewicks Street, Causeway Bay, Hong Kong. Deretan mi instan dengan trademark Indonesia berjajar memenuhi rak di
Berita Terpopuler
Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN
8 Agustus 2008 - 16:24 WIB
Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru
15 Agustus 2008 - 16:58 WIB
Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor
1 Agustus 2008 - 16:1 WIB
Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas
1 Agustus 2008 - 15:33 WIB
Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat
1 Agustus 2008 - 16:33 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB








