| 20 November 2008 |
Wawancara
Mari Alkatiri: Kami Tak Mau Utang Siapa Pun
13 September 2007 - 16:41 WIB
Pertengahan Juni 2006 Timor Leste menghadapi situasi sulit dan rawan, mirip perang sipil. Kekerasan meluas ke segenap penjuru negeri. Pertikaian politik antara faksi Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente (Fretilin) dan faksi lain hampir meluhlantakkan negeri. Pertikaian elite kala itu membuat Mari Alkatiri mundur dari jabatan perdana menteri. Nyatanya keputusan tersebut tidak membuat negara muda itu bebas dari pertikaian.
Dr Mari Bim Amude Alkatiri memang fenomenal. Pria keturunan Arab Yaman ini satu-satunya muslim yang berhasil menjabat sebagai perdana menteri di negeri yang mayoritas warganya beragama Katolik. Pria kelahiran 26 November 1949 ini mempunyai kemampuan memerintah dan berhasil mengegolkan kebijakan yang cukup berarti bagi warganya dari desakan lembaga dunia semacam Bank Dunia. "Jangan terlalu kagum pada Australia dan Barat yang sering berbicara mengenai resep-resep pembangunan yang sesungguhnya tidak bisa diterapkan di Timor Leste," katanya.
Pria berperawakan sedang ini terkenal jago dalam bidang ekonomi dan negosiator ulung. Dia sukses menangani perjanjian bagi hasil minyak Celah Timor. Alkatiri menjadi konsultan hukum internasional dan konstitusi di parlemen Republik Mozambique pada tahun 1995-1998.
Awal September ini Mari Alkatiri berkunjung di Indonesia atas undangan PP Muhammadiyah. Dia memberikan kuliah umum di Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilization, lembaga yang didirikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin. Dia juga berbicara soal "Membangun Alternatif terhadap Globalisasi Neoliberal" di Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia.
Reporter VHRmedia Yerry Niko mewawancai Mari Alkatiri di Jakarta, Kamis (13/9). Berikut petikannya.
Apa tujuan Anda ke Jakarta kali ini?
Selain memberi memberi makalah di Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilization, saya bertemu kawan-kawan dari partai-partai politik di Indonesia. Saya menyampaikan kondisi politik Timor Leste. Menyampaikan kepada semua orang bahwa kami berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan krisis negeri melalui sarana-sarana politik. Kami berusaha mencegah kekerasan terus berlanjut. Sebab, kami percaya rakyat Timor Leste telah lelah hidup dalam kekerasan. Mereka tidak akan mampu menanggung situasi sebagaimana terjadi tahun lalu.
Tapi kekerasan terus terjadi di Timor Leste. Apa sebabnya?
Hal ini karena tahun lalu kelompok lain memutuskan untuk menggunakan kekerasan untuk berpolitik (berkuasa - Red). Dengan sejarah ini kita mengerti mengapa kini rakyat bereaksi dengan keras. Siapa sebenarnya yang mempertontonkan kepada rakyat bahwa kekerasan merupakan jalan menyelesaikan perseteruan politik? Mereka ini yang melakukan duluan tahun lalu. Kini beberapa dari mereka menjadi anggota parlemen dan pemimpin teras. Ini menjadi contoh buruk. Jadi, semata-mata mempersalahkan pihak lain yang kini bereaksi dengan keras. Rakyat memilih Fretilin dan kini mereka frustrasi. Partai Fretilin menang pemilu tapi mendadak tidak berkuasa.
Pada Juni 2006 beberapa pihak mengerahkan massa di Dili dan tempat lain untuk menurunkan Anda dari jabatan perdana menteri. Apa yang sesungguhnya terjadi saat itu? Siapa yang terlibat?
Itu sebuah konpirasi. Tak ada keraguan soal itu. Ada pelaksana lokal dan juga elemen asing. Setiap konspirasi selalu dilaksanakan secara cermat dan berhati-hati. Jadi, tidak mudah menguraikan dan mengidentifikasi siapa saja yang terlibat ataupun tokoh-tokoh utamanya. Tetapi kenyataannya, Anda bisa mulai menyusun bagian-bagian fakta dan mulai menarik kesimpulan.
Bagaimana peran Mayor Alfredo Reinado? Juga Australia?
Dia hanya sebuah instrumen. Mengenai Australia, mereka tidak netral dalam krisis politik di Timor Leste. Ini kenyataan. Saya orang yang menandatangani kesepakatan agar pasukan Australia sebagai kekuatan perdamaian bisa masuk ke Timor Leste. Namun sejak awal mereka telah berpihak. Awal tahun 2006 orang-orang membakar rumah-rumah dan mereka (pasukan Australia) tidak mencegahnya sampai saat saya mundur.
Kenapa demikian? Karena jika mereka datang untuk membantu kami menyelesaikan krisis, harusnya kekerasan sejak awal mesti dicegah. Mereka bahkan mengintimadasi anggota Fretilin dan menyatakan secara terbuka bersimpati kepada Xanana. Mereka bilang Xanana baik, Mari Alkatiri buruk. Tahun ini pada pemilu presiden mereka juga bilang Ramos Horta baik, Lo Olo (kandidat Fretilin) buruk. Ini terjadi berulang-ulang di seluruh negeri.
Kebijakan Anda terkait utang ke Bank Dunia sangat menarik. Bagaimana posisi Anda dalam masalah ini?
Saya bekerja sama dengan Bank Dunia dan IMF sejak masa transisi sampai tahun 2006. Saya menegaskan kepada mereka tahun 2001, di Timor Leste kami membangun segala sesuatunya dari bawah, dari nol. Karena itu, resep klasik Bank Dunia dan IMF tidak berguna bagi negeri kami. Karena kami tidak sedang mereformasi sesuatu yang belum ada. Kami menunggu bantuan mereka untuk membangun negeri dengan cara yang berbeda. Sebab, Bank Dunia semata-mata sebuah bank. Bank selalu berbisnis. Bisnis mereka adalah pinjaman. Jika suatu negeri tidak mau berutang, mereka mulai berpikir pemerintah tersebut tidak layak karena tidak mau berutang.
Sewaktu saya memerintah, Timor Leste tidak pernah berutang kepada Bank Dunia atau badan peminjaman yang lain. Saya meninggalkan jabatan dengan keadaan tanpa utang, justru surplus. Dari minyak bumi kami sekarang memiliki dana senilai US$ 1,6 miliar. Saat saya mulai menjabat dulu, kas negara hampir kosong dan hanya bergantung pada bantuan dari negara-negara lain untuk mengisi anggaran kami. Tapi sekarang kami punya uang sendiri, meski tetap membutuhkan bantuan dari luar. Bermodal uang saja tidak cukup untuk membangun negeri. Anda butuh bantuan teknis, segala macam bantuan.
Bagaimana kabar Petroleum Fund. Gagasan Anda soal penyaluran dana minyak dari celah Timor?
Ini lembaga kami bangun dan desain lewat bantuan kawan-kawan dari Norwegia dan beroperasi sejak Agustus 2005. Kami mulai mengambil dana dari lembaga ini untuk pembangunan, khususnya bagi pengembangan dan pembangunan berbasis komunitas. Proyek-proyek seperti sanitasi, pendidikan, kesehatan yang baik bagi komunitas masyarakat. Kami juga menyalurkan bantuan untuk proyek-proyek kecil di bidang pertanian. Suku atau desa saat ini mulai membangun. Tahun 2007 kami akan mulai mengarah ke pembangunan infrastruktur.
Bagaimana pandangan Anda mengenai pemerintahan Timor Leste saat ini? Adakah harapan bagi mereka yang saat ini berkuasa?
Saya kenal mereka cukup lama. Sebenarnya, saya tidak mau bersikap sarkastik. Tapi saya tidak melihat mereka punya kapasitas untuk mengelola semua sumber daya negeri dengan cara yang bertanggung jawab.
Masihkah ada celah untuk rekonsiliasi politik atau perdamaian antarfaksi politik yang kini bertikai?
Rekonsiliasi selalu terbuka. Tapi pertama-tama Anda mesti menyelesaikan perbedaaan-perbedaan yang ada. Terutama mencoba untuk membangun pengertian bersama bahwa Timor Leste masih berada di tahap awal pembangunan sebuah negara. Jadi, jangan terlalu kagum pada Australia dan Barat yang sering berbicara mengenai resep-resep pembangunan yang sesungguhnya tidak bisa diterapkan di Timor Leste.
Bagaimana Anda melihat hubungan Timor Leste - Indonesia belakangan ini?
Relasinya sangat baik. Bukan hanya di tingkat formal, namun juga hubungan orang per orang. Ini contoh yang baik. Setelah 24 tahun berkonflik, hubungan antara Timor Leste dan Indonesia menjadi lebih baik dan produktif. Kami memang korban masa lalu. Namun kita semua adalah korban, saat dunia terbagi ke dalam dua blok, Timur dan Barat. Baik warga Indonesia maupun Timor Leste telah menjadi korban. Ini salah satu cara melihat masalah secara benar. Hal yang penting kini bagaimana berkawan dan bersaudara. Kami sekarang melakukannya. Saya ke sini untuk itu. (E4)
Foto: wikipedia.org
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Sikap Pemerintah Hambat Penuntasan HAM 25 Juli 2008 - 17:25 WIB
- Sumiarsih & Sugeng Diisolasi di Rutan Medaeng 16 Juli 2008 - 16:2 WIB
- DPR: Internasional Dapat Tuntut Jenderal 16 Juli 2008 - 15:6 WIB
- Hasil KKP Lindungi Pelaku Pelanggaran HAM 16 Juli 2008 - 13:53 WIB
- Sumiarsih & Sugeng Akan Dieksekusi di Surabaya 16 Juli 2008 - 12:39 WIB
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
Kisah
Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)
19 November 2008 - 17:54 WIB
Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.
KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







