Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Wawancara

Nur Hidayati: Awas, Suhu Bumi Naik

18 September 2007 - 11:29 WIB

Perempuan ini cukup lama berkecimpung di bidang pelestarian lingkungan hidup. Setelah menyelesaikan S1 di Institut Teknologi Bandung Jurusan Teknik Lingkungan, Nur Hidayati langsung mempraktikkan ilmunya sebagai Project Officer Polusi Industri Badan Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. Lima tahun dia menduduki posisi tersebut.

Pada tahun 2003 Nur Hidayati "naik kelas" menjabat sebagai Kepala Divisi Kampanye dan Pendidikan Publik Eksekutif Nasional Walhi. Pada tahun 2005 perempuan berkaca mata ini memutuskan hijrah ke lembaga pelestarian lingkungan lain, Sawit Watch, sebagai Campaign Advisor. Akhirnya pada 2006 dia ditunjuk sebagai Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

Beragam jabatan itu menunjukkan kemampuan dan dedikasi Nur Hidayati tidak main-main dalam hal pelestarian lingkungan. Apalagi spesifikasi yang dipilihnya iklim dan energi, isu yang sedang hangat ketika imbas pemanasan global mulai meresahkan masyarakat dunia.

Di sela kesibukannya, Nur Hidayati meluangkan waktu untuk membagi pengetahuan soal pemanasan global dan efeknya bagi Indonesia. Berikut petikan wawancara reporter VHRmedia.com, Tri Wibowo Santoso, dengan perempuan kelahiran 14 Agustus 1973 ini.

 

Mengapa pemanasan global terjadi?

Pemanasan global terjadi karena efek rumah kaca. Di bumi kita ini memang terjadi, karena rumah kaca mengandung gas-gas karbondioksida atau Co2. Tapi, asal muasal penyebabnya sejak revolusi industri, tepatnya pertengahan abad ke-19. Pemakaian energi fosil meningkat sangat tajam dan kemudian mengemisikan gas-gas rumah kaca. Karena intensitasnya semakin bertambah dan mengumpul di atmosfer bumi, akhirnya menyebabkan sinar matahari yang masuk ke bumi tidak bisa lagi dipantulkan keluar dan akhirnya terjadi pengumpulan panas di atmosfer.

 

Berapa peningkatan temperatur suhu bumi sampai saat ini?

Panas bumi dari revolusi industri hingga saat ini mengalami kenaikan rata-rata 0,6° Celsius. Tapi ada juga di beberapa daerah yang naiknya hingga 3°.

 

Negara mana yang paling banyak menyumbang gas karbon?

Negara-negara maju yang kehidupan ekonominya ditunjang oleh industri, seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Juga Australia. Negara-negara itu yang berkontribusi besar pada terjadinya global warming sekarang ini.

 

Apakah Indonesia juga?

Indonesia baru-baru ini iya. Memang data terakhir itu memasukkan Indonesia di posisi nomor tiga penyumbang karbon atau Co2 di seluruh dunia. Tapi itu sebagian besar akibat kebakaran hutan dan konversi lahan. Sementara untuk pemakain energi fosil, Indonesia masih relatif kecil bila dibandingkan dengan negara-negara maju. Tetapi secara akumulasi atau secara total, Indonesia di posisi ketiga sekarang ini.

 

Apa dampak paling nyata bagi masyarakat Indonesia?

Indonesia ini unik, karena letaknya di khatulistiwa. Jadi, ada yang berada di utara khatulistiwa dan daerah yang berada di selatan khatulistiwa. Menurut beberapa ahli iklim, efeknya agak beda. Kalau di utara khatulistiwa cenderung lebih basah. Dalam arti curah hujan masih banyak, walaupun secara keseluruhan statusnya kering. Di selatan khatulistiwa kekeringannya lebih intensif. Dengan kata lain terjadi kemarau yang panjang dengan periode musim hujan menjadi lebih pendek. Tapi ketika turun hujan, intensitasnya tinggi. Misalnya terjadi pada Februari lalu. Tapi setelah itu kan curah hujan sudah mulai jarang.

 

Apa bahayanya?

Bahayanya, ketahanan pangan Indonesia akan terancam. Hal itu dikarenakan ketidakteraturan pola musim yang berakibat tidak jelasnya program penanaman padi. Pertanian di Indonesia sampai saat ini kan masih tergantung pada musim. Hingga sekarang banyak petani yang gagal tanam dan otomatis gagal panen.

 

Apakah hal tersebut juga berdampak terhadap mata pencaharian nelayan?

Efek perubahan iklim ini juga terjadi peningkatan intensitas badai tropis. Di beberapa tempat di Pantai Selatan terjadi badai tropis dan itu ditengarai merupakan fenomena perubahan iklim yang tidak jelas. Pada akhirnya mengurangi waktu nelayan untuk melaut. Selain itu juga terjadi penenggelaman pulau. Menurut penelitian Departemen Kelautan dan Perikanan, hingga kini ada 200 dari 17.000 pulau di Indonesia yang sudah hilang.

 

Korelasi antara pemanasan global dan perubahan iklim?

Akumulasi gas rumah kaca menyebabkan kenaikan suhu bumi. Itu yang disebut global warming. Nah, global warming inilah yang kemudian menyebabkan terjadi perubahan cuaca. Kalau hal itu terjadi secara terus-menerus namanya perubahan iklim. Perubahan iklim ini sangat dipengaruhi pola arus. Di Indonesia angin muson barat dan angin muson timur sangat dipengaruhi temperatur dan tekanan udara, karena angin mengalir dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. Nah, kenaikan temperatur atau global warming menyebabkan salah satu es di Kutub Utara mencair dan kemudian terjadi peningkatan debit air laut. Ini yang kemudian mempengaruhi pola-pola arus laut.

 

Langkah apa yang harus dilakukan pemerintah?

Sebenarnya bukan hanya pemerintah Indonesia yang harus mengantisipasi dampak global warming. Hal ini harus dilakukakan semua negara di seluruh dunia, terutama negara-negara industri maju. Karena negara industri maju itulah yang berkontribusi terhadap terjadinya pemanasan global. Kalau pemerintah Indonesia, harus bertanggung jawab atas terjadinya peningkatan emisi asap pembakaran hutan.

 

Kalau antisipasi itu dijalankan, apakah ada jaminan dampak global warming dapat dikurangi?

Memang kalaupun sekarang terjadi perubahan yang sangat drastis, misalnya pengurangan energi fosil dan pembakaran hutan, dampak global warming masih dapat dirasakan. Hal itu dikarenakan akumulasi gas rumah kaca yang muncul sejak zaman revolusi industri. Tapi kalau kita membiarkan industrialisasi terus berjalan, maka diprediksikan pada 10 tahun ke depan akan menyebabkan planet chaos atau suhu bumi diperkirakan naik rata-rata 2°. Kalau hal itu sampai terjadi, akan menyebabkan perubahan iklim di seluruh dunia yang sulit distabilkan.

 

Bukankah beberapa negara sepakat menjalankan program peduli lingkungan untuk mengantisipasi dampak global warming, seperti Kyoto Protocol? Apakah isi perjanjian itu sudah dijalankan secara efektif?

Memang tahun 1997 beberapa negara maju dan negara berkembang menyepakati Kyoto Protocol. Misalnya, Kyoto Protocol menyebutkan negara-negara industri maju dikelompokkan dalam negara lampiran satu, dan mereka berkewajiban menurunkan emisinya sampai tahun 2012. Sejauh ini hanya dua negara yang tidak bersedia menandatangani Kyoto Protocol, yakni Amerika Serikat dan Australia. Padahal, kedua negara tersebut kontributor terbesar gas rumah kaca atau karbon, jumlahnya sekitar 25 sampai 30 persen dari total emisi. Sementara Australia merupakan negara yang paling banyak memberikan kontribusi karbon per kapita terbesar, rata-rata setiap warga negaranya mengonsumsi energinya terbesar. Bahkan, kedua negara itu dalam pertemuan APEC di Sidney berusaha mengagalkan komitmen-komitmen yang dibuat dalam Kyoto Protocol.

 

Apa upaya Greenpeace untuk menekan kedua negara tersebut?

Kami berusaha mengintervensi negara-negara itu dalam proses-proses perundingan. Tapi harus ada kekompakan dari negara-negara berkembang juga. Karena kalau negara berkembang sampai terbujuk Amerika Serikat dan Australia untuk tidak mematuhi Kyoto Protocol, akan menyebabkan tidak berjalannya pencegahan global warming. (*)

Foto: Dok pribadi Nur Hidayati

©2008 VHRmedia.com


1 

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)

19 November 2008 - 17:54 WIB

 Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.

 

KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua