Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Wawancara

Percaya Kekuatan Alternatif

22 Mei 2007 - 12:5 WIB

Ia mulanya aktivis Keluarga Besar Universitas Indonesia. Lalu membentuk Liga Nasional untuk Demokrasi (LMND). Setelah lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Reinhard Sirait meraih gelar master dari Institut for Social Studies (ISS) di Belanda. Kini ia tetap setia di jalanan. Berikut perbincangan Margiyono dari VHR dengan Reinhard Sirait.

Bagaimana pandangan Anda mengenai reformasi setelah 9 tahun ini?
Belum sesuai yang diharapkan. Perubahan yang kita harapkan, kan bukan sekedar pergantian rejim, tapi perubahan sistem. Sampai sekarang belum ada perubahan sistem.

Tapi sekarang memakai sistem multipartai dan pemilihan presiden secara langsung? Mengapa tidak memanfaatkan keterbukaan politik untuk berjuang?
Ini salah satu kelemahan gerakan 1998. Maunya ingin meruntuhkan arsitektur politik lama, tapi tak bisa merespon perubahan itu sendiri. Sehingga anak-anak gerakan 1998 tidak masuk atau berperan dalam pemerintahan dan sistem politik yang tersedia. Sehingga spirit 1998 tidak menjadi landasan sistem politik yang ada, sehingga para aktivis kecewa sendiri terhadap lembaga politik yang ada saat ini.

Masalahnya teman-teman 1998 tidak siap dengan konsekuensi politik, sehingga yang terlibat dalam parlemen dan pemerintahan saat ini dapat dihitung dengan jari. Ynag terjadi, justru yang masuk parlemen dan pemerintahan dikritik teman-temannya. Mereka dianggap pragmatis, oportunis, dan mengkhianati spirit 1998.

Tapi ini soal politik. Apakah keputusan mereka tepat atau tidak. Mereka bisa jadi menilai keputusan terlibat di parlemen dan pemerintahan merupakan keputusan yang tepat. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah spirit 1998 dibawa ke dalam posisi politik mereka saat ini.

Jadinya, teman-teman yang mengkritik mereka yang duduk di parlemen atau pemerintah menjadi seperti resi, selalu bicara yang ini benar yang itu salah. Kalau dibilang keputusan mereka tidak sesuai spirit reformasi, mereka seharusnya menjawab juga apa instrumen politik yang bisa digunakan untuk merubah. Sebab, proses politik tetap jalan terus walau mereka kritik. Jadi tidak nyambung.

Para aktivis 1998 saat ini tampak terpecah. Ada yang terus bicara soal konsep yang ideal, ada yang taktis memasuki lembaga-lembaga politik yang tersedia.
Yang bicara konsep terus bicara yang ideal-ideal, menuduh mereka yang terjun ke politik praktis memanfaatkan darah dan keringat teman-temannya. Sementara teman-teman yang terjun ke politik praktis, memasuki lembaga yang tersedia, bilang mereka (yang di luar sistem) tak berbuat apa-apa, hanya bicara konsep. Sehingga sulit sekali mencari titik temu.

Memang benar, mereka yang saat ini duduk di pemerintahan atau DPR harus sadar, semua itu hasil gerakan 1998. Itu berkat darah dan keringat teman-temannya. Kesadaran inilah yang harus jadi guidance mereka yang duduk di DPR atau pemerintahan untuk melakukan tindakan politik.

Tapi menurut saya, mereka yang duduk di DPR atau pemerintahan justru politically correct, tepat secara politik. Justru masalahnya adalah, gerakan yang gagal memberi kanal ke lembaga seperti DPR atau pemerintahan.

Teman-teman yang kini di luar sistem selalu ingin perubahan berjalan seperti kehendak mereka, tapi tidak mau terlibat langsung dalam politik praktis. Ini kan masalah.Jadi, yang satu bicara soal moral, satunya bicara soal taktik.

Mengapa Anda tidak memilih masuk sistem, masuk DPR atau pemerintahan?
Karena saya masih percaya dengan kekuatan alternatif. Hampir semua partai besar saat ini masih menjalankan tradisi Orde Baru, setidak-tidaknya masih didominasi orang-orang Orde Baru. Kalau gabung mereka, bahayanya kita secar atak sadar akan ikut-ikutan mempertahankan tradisi Orde Baru. Sementara ada gerakan di luar sistem yang terus mencoba lepas dari tradisi seperti ini. Dan mereka mendapat respon dari masyarakat.

Sehingga, saya tetap mencoba membangun kekuatan alternatif. Karena saya yakin ada potensi dalam kekuatan alternatif ini. Saya ingin membuktikan bahwa masih ada alternatif yang bisa dibangun.

Cara membuktikannya?
Kami punya kelompok anak-anak aktivis 1998 dan paska 1998, namanya Perhimpunan Rakyat Pekerja. Saya yakin kelompok ini punya masa depan. Kelompok ini plural, berusaha mengakomodir banyak kelompok, dan akan terus merangkul kelompok lain. Kita berusaha mengikis sektarianisme.

Dengan kelompok ini kami akan latihan berpolitik praktis. Mungkin tidak tampil langsung menjadi kontenstan pemilu, bisa jadi sekedar mendukung kekuatan alternatif yang berkompetisi lewat pemilu. ***

 

©2008 VHRmedia.com


1 

Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

PKL Surabaya Tolak Perda Penggunaan Jalan

20 November 2008 - 13:38 WIB

Arsip Berita »

Kisah

Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)

19 November 2008 - 17:54 WIB

 Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.

 

KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua