| 21 November 2008 |
Wawancara
Rido Triawan: Gay Bukan Psikopat
25 Juli 2008 - 14:4 WIB
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita mutilasi terhadap Heri Santoso (40). Polisi menyangka Verry Idham Henyasyah alias Ryan (30), seorang gay, sebagai pelakunya. Banyak media massa mengangkat pendapat masyarakat bahwa gay memiliki kecenderungan berlaku psikopat. Pandangan tersebut dibantah Rido Triawan, aktivis Arus Pelangi, sebuah organisasi kaum lesbian, gay, dan transeksual (LGBT). Berikut wawancara Margiyono dari VHRmedia dengan Rido Triawan.
Terkait kasus mutilasi yang dilakukan seorang gay akhir-akhir ini, masyarakat menganggap bahwa gay cenderung psikopat. Apa pendapat Bung Rido?
Saya rasa pendapat masyarakat itu sangat subjektif. Hingga saat ini tidak ada satupun bukti ilmiah yang menunjukan bahwa individu LGBT lebih jahat dari individu heteroseksual dan tidak ada satu bukti ilmiahpun yang menunjukan bahwa individu LGBT cenderung psikopat.
Menurut Bung Ridho, apa yang membuat pandangan subyektif seperti itu berkembang di masyarakat?
Yang membuat pandangan subjektif itu berkembang adalah stigma yang dihasilkan oleh doktrin-doktrin agama konservatif. Tidak adanya pola pendidikan yang plural di dalam masyarakat menambah keruh situasinya. Kemudian politik massa yang berkembang di Indonesia juga mempengaruhi pandangan seperti itu. Sehingga kelompok mayoritas seringkali menganggap kelompok minoritas seperti LGBT ini sebagai kelompok masyarakat yang sakit, tidak normal, kutukan tuhan, dan menyimpang. Wacana tentang kenormalan sebuah kelompok masyarakat selalu dibangun, ditentukan, dan dipaksakan oleh kelompok mayoritas, bukan dibangun atas dasar kesepahaman di antara kelompok mayoritas dan minoritas.
Bagaimana peran media dalam membentuk opini masyarakat semacam ini?
Media sangat berperan dalam membentuk pandangan masyarakat. Terkadang ada beberapa media yang tidak proporsional dan sangat subjektif dalam memberitakan sesuatu. Dalam kasus ini, saya lihat ada beberapa media yang hanya menampilkan pendapat-pendapat miring dari para psikolog yang tidak mempunyai bukti ilmiah, tanpa menampilkan pendapat-pendapat yang berlainan dari pendapat miring itu. Sehingga pemberitaan-pemberitaan semacam itu akan menambah stigma terhadap kelompok LGBT dan akan menambah keyakinan masyarakat bahwa kelompok LGBT memang kelompok yang cenderung psikopat. Pemberitaan seperti ini tentunya sangat membahayakan bagi keberadaan kelompok LGBT dan akan menghampat upaya-upaya penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok LGBT di Indonesia. Seyogyanya pemberitaan yang dipublikasikan oleh media massa berimbang dan objektif. Sehingga pemberitaan semacam itu tidak akan menambah stigma dan tentunya dapat mengajak masyarakat untuk berpikir logis.
Seorang psikolog mengatakan bahwa seorang gay cenderung pencemburu, sehingga mudah gelap mata dan cenderung keji. Apa pendapat Anda?
Itu tidak benar. Karena memang tidak ada satu pun bukti ilmiah yang dapat menunjukan bahwa individu gay cenderung cemburu, posesif, dan gelap mata dibandingkan dengan individu heteroseksual. Semua manusia bisa seperti itu. Tidak ada kaitannya dengan orientasi seksualnya. Sehingga saya meminta kepada para psikolog untuk membuktikan dulu secara ilmiah semua pendapat miring mereka terhadap kelompok LGBT sebelum mempublikasikan pendapat-pendapat itu. Kemudian kepada media massa saya juga berharap ketika pendapat-pendapat para psikolog yang tidak memiliki landasan bukti ilmiah, maka seyogyanya pendapat mereka tidak dipublikasikan. Karena hal itu hanya akan menambah stigma terhadap kelompok LGBT.
Jadi apa memang tidak ada kaitannya antara tindakan Ryan (pelaku mutilasi) dengan orientasi seksualnya?
Sama sekali tidak ada. Semua manusia, baik itu heteroseksual, biseksual, ataupun homoseksual dapat melakukan kejahatan, seperti tindak mutilasi. Sehingga tidak ada kaitan antara kejahatan yang dilakukan oleh seseorang dengan orientasi seksualnya.
Foto: Arus Pelangi
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Pengurus Pondok Pesantren di Semarang Diadili 12 September 2008 - 11:11 WIB
- Kejagung Akan Periksa Artalyta Suryani 8 September 2008 - 15:39 WIB
- Artalyta Suryani Divonis 5 Tahun Penjara 29 Juli 2008 - 19:51 WIB
- Orientasi Seks Bukan Penyebab Mutilasi 24 Juli 2008 - 14:25 WIB
- Jaksa Minta Hakim Tolak Pembelaan Artalyta 18 Juli 2008 - 18:9 WIB
Kisah Terkait
- Dua Waria Menguak Takdir 21 September 2007 - 17:22 WIB
- Keluarga Ienes, Keluarga Waria 29 Mei 2007 - 13:5 WIB
- Romansa di Tai Po 24 Maret 2007 - 23:50 WIB
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
Kisah
Jalan-Jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)
19 November 2008 - 17:54 WIB
Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.
KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







