| 20 November 2008 |
Kisah
‘Berkah’ Kematian Soeharto
31 Januari 2008 - 12:16 WIB
Eddy J Soetopo
Kematian bekas presiden Soeharto mendatangkan banyak keuntungan bagi para penjual jasa. Tukang ojek dadakan dan perajin bunga ketiban rezeki nomplok.
Wajahnya sumringah. Baru saja uang Rp 50.000 masuk kantong untuk menarik ojek sekali jalan. Warso, 29 tahun, tak mempedulikan peluh yang membasahi kaos berlambang partai politik di balik jaket parasit berwarna biru tua yang dikenakannya. Ditenggaknya sisa air kemasan gelas, kemudian bergegas berebut penumpang dengan sesama pengojek dadakan, membuat jalan menuju Astana Giribangun di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, makin semrawut.
Senin siang 28 Januari itu kawasan Astana Giribangun, kompleks pemakaman keluarga Cendana, diterjang panas menyengat. Asap knalpot ratusan mobil dan bus yang terjebak macet di sepanjang jalan menuju tempat pemakaman menambah pengap udara di sekitar area parkir. Saat terik mentari makin menyengat, para penjaja jasa antar-jemput menggunakan sepeda motor itu ketiban rezeki.
Tak banyak orang yang memperhatikan, saat pemakaman Soeharto ternyata disyukuri para tukang ojek karena mereka memperoleh rezeki nomplok. Saat penguburan jenderal besar itu mereka memperoleh penghasilan melebihi hari-hari biasa. Pada hari biasa pendapatan menarik ojek paling banter Rp 15.000 hingga Rp 20.000, pada saat pemakaman penguasa Orde Baru itu, Senin siang, para pengojek mengantongi Rp 200.000. Bahkan, sejumlah menteri tak segan mengeluarkan fulus ratusan ribu rupiah untuk naik ojek menuju Astana Giribangun.
Kabar mengenai menteri naik ojek pun menyebar dari mulut ke mulut pengojek dadakan, menambah gaduh pemakaman sang diktator. Para pengojek itu bukan hanya penduduk di sekitar Astana Giribangun. Mereka ada yang sengaja datang dari Matesih dan Karanganyar untuk ngalap berkah.
Para pengojek musiman itu sesungguhnya bukan berprofesi sebagai tukang ojek. Menurut Samidi, 43 tahun, juru parkir Astana Giribangun, para pengojek dadakan itu kebanyakan petani dan pemuda putus sekolah. "Banyak pengojek yang datang bukan penduduk dusun di sekitar Astana Giribangun," ujar Samidi sembari menunjuk salah satu pengojek, Warso, warga Dusun Sebrang Wetan, Matesih.
Menurut Warso, 29 tahun, jebolan sekolah menengah atas di Matesih, sekitar 25 warga yang memiliki sepeda motor menjadi tukang ojek dadakan saat pemakaman Soeharto. Sehari-hari Warso bekerja sebagai petani penggarap. Pendapatannya sebagai petani pengarap sawah milik Lurah Sebrang Wetan, tidak mencukupi untuk menutup biaya hidup sehari-hari. "Kalau hanya mengandalkan nglerep (petani pengarap) tidak cukup buat makan sehari-hari. Apalagi saya harus membantu menyekolahkan adik-adik, biar nasibnya tidak seperti saya, putus sekolah. Di sela-sela kerja nglerep, saya sempatkan mengojek," ujarnya.
Sebagai pengojek dadakan, Warso tidak menyangka bakal ketiban rezeki saat pemakaman Soeharto. Ia tidak menyangka bakal memperoleh tambahan uang dari mengojek ratusan ribu rupiah dalam sehari. Ketika ditanya soal penghasilan sehari-hari sebagai tukang gojek, Warso menyebutkan angka puluhan ribu rupiah. "Tidak tentu. Kalau dipukul rata bisa 20.000 sampai 30.000-an setiap hari, tapi belum dipotong beli bensin," ujarnya.
Kali ini Warso dan teman-teman sedesanya bisa bernapas lega. Paling kurang pendapatan sewaktu penguburan Soeharto ia mengantongi Rp 500.000. Sebab, kata dia, sewaktu jalanan macet, banyak pejabat yang tidak sabar menunggu untuk naik ke atas bersama rombongan. Mereka memilih berjalan kaki dan naik ojek. Bahkan, ada sejumlah pejabat mencarter tujuh sepeda motor untuk naik ke Astana Giribangun. "Saya kemarin disuruh mencarikan tujuh ojek nganter ke atas. Mereka ngasih 500.000 rupiah jreng sekali jalan," ujar Warso sembari cengar-cengir.
Lain pula cerita Tarmidji, pengojek "beneran". Ditemui di tempat parkir, ia mengaku kesal setengah mati atas kebodohannya tidak narik ojek saat pemakaman Soeharto. Padahal, sehari-hari dia bekerja sebagai tukang ojek yang biasa menyediakan jasa antar-jemput dari lapangan parkir bawah ke kompleks pemakaman. "Saya justru tidak memperoleh uang. Saat pemakaman itu saya malah nonton TV di rumah. Saya pikir kan penjagaan ketat, mana mungkin dapat duit. Eh, nggak tahunya banyak teman pengojek dapat ratusan ribu rupiah," ujarnya memelas.
Penjual jasa lain yang memetik untung dari kematian Soeharto adalah para penjual bunga. Banyak orang beranggapan perajin krans (karangan) bunga duka cita nggege mangsa (mendahului kehendak Tuhan). Sewaktu Soeharto masih nggletak di Rumah Sakit Pusat Pertamina, para perajin bunga telah mengantisipasi kemungkinan bekas penguasa Orde Baru itu tidak lama lagi meninggal. Dalam benak para perajin bunga terbayang ketika Soeharto meninggal mereka akan kebanjiran order. Benar saja. Naluri bisnis dan perhitungan antisipatif para pedagang bunga duka cita itu tidak meleset, Soeharto meninggal dunia pada Minggu siang 27 Januari.
Menurut Dwi Santo, salah satu pembuat karangan bunga di Jalan Slamet Riyadi, Gladak, Solo, sebelum Soeharto dinyatakan dokter kepresidenan meninggal dunia, ia telah memesan bunga dari beberapa tempat di Bandungan dan Sukabumi. Sewaktu Soeharto dirawat di RSPP dan beritanya masih simpang-siur, Dwi Santo sudah mengeluarkan uang jutaan rupiah. "Saya sempat tekor jutaan rupiah. Saya nombokin dulu untuk membeli bahan baku dan nyetok bunga seperti yang dimaui pemesan," katanya.
Dwi Santo berani mendatangkan bunga segar dalam jumlah besar. Ia mengaku salah perhitungan karena siklus hidup bunga segar tidaklah panjang. Apalagi pesanan datang bertubi-tubi tanpa henti melalui telepon di kiosnya. Tidak itu saja, perasaan panik dan harap-harap cemas membayangkan keuntungan dan takut salah membuat seluruh karyawannya pontang-panting bekerja lembur siang-malam.
Sejak bekas presiden terlama berkuasa di Indonesia itu dirawat di RSPP dan dinyatakan kondisinya kritis, pesanan membanjiri kios Dwi Santo yang terletak di jantung kota Solo. "Sudah ada yang pesan dari Jakarta, seharga satu juta rupiah per buah sebanyak 15 krans. Bahkan, sebelum dimakamkan kemarin, serombongan orang memesan krans bunga sebanyak 25 buah seharga 500 ribu rupiah per buah. Tapi tidak saya layani, sebab kami kehabisan stok," ujarnya.
Dwi Santo mengaku usaha pembuatan karangan bunga miliknya yang sudah empat generasi menjadi langganan keluarga Cendana. Saat Siti Hartinah atau Ibu Tien, istri Soeharto, meninggal beberapa tahun lalu, pihaknya juga kebanjiran pesanan krans bunga. "Sewaktu Ibu Tien Soeharto meninggal, seingat saya pesanan krans bunga ke kios ini kurang lebih 750 buah. Waktu itu harga per buahnya tidak sampai jutaan rupiah seperti saat ini. Seluruh kios di sekitar jalan Slamet Riyadi kebagian jatah," tuturnya.
Layaknya upacara prosesi pemakaman yang harus dipersiapkan secara matang dan cepat, persiapan membuat krans bunga pun demikian. Pegawai kios bunga milik Dwi Santo pun diminta bekerja lembur siang malam secara bergantian. "Pegawai yang membantu merangkai krans duka saya bagi dua shift siang-malam. Bagian siang ada yang membuat papan-plangkan krans, ada pula bagian menggunting dan menancapkan tangkai bunga maupun daun," katanya.
Hingga Minggu (27/1) pagi kios Dwi Santo telah menyiapkan 300 papan krans karangan bunga duka cita yang telah dipesan pelanggan. Permintaan tulisan di krans bunga duka cita pun beragam. "Biasanya mereka minta ditulis singkat, tapi minta dibesarkan nama instansi atau nama pemesannya. Ini kan menandakan si pengirim karangan bunga duka cita tidak tulus mencampaikan ucupan belasungkawa," ujarnya.
Selain kios milik Dwi Santo, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi terdapat delapan perajin krans bunga. Menurut perajin karangan bunga yang lain, Gatot Sugianto, persiapan sebelum meninggalnya Soeharto tidak terlalu istimewa. Namun, antisipasi kebanjiran pesanan juga dilakukannya. "Soalnya kita tidak tahu kapan Soeharto akan meninggal dunia. Semua serba tidak pasti. Jadi, sebenernya saya lebih senang dapat pesanan merangkai bunga untuk pesta perkawinan. Soalnya tanggalnya sudah pasti. Uang persekot pun dibayar jreng. Pasti. Lha waktu itu kan belum mati, jadi kalau hanya memesan lewat telepon tidak saya layani. Kalau mledos nggak bayar piye?" ujarnya sembari tertawa. (E4)
Foto-foto: Eddy J Soetopo
©2008 VHRmedia.com
Berita Terkait
- 90 Terpidana Mati Tunggu Eksekusi14 November 2008 - 14:48 WIB
- Stop Wacana Mati Syahid untuk Amrozi Cs11 November 2008 - 10:9 WIB
- Kejagung Hentikan Penyidikan Kasus BPPC7 November 2008 - 14:50 WIB
- Kontras: Tunda Eksekusi Mati Amrozi Dkk5 November 2008 - 15:41 WIB
- Mabes Polri Perintahkan 3 Polda Tingkatkan Pengawasan31 Oktober 2008 - 15:43 WIB
Agenda
Berita Terkini
Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC
20 November 2008 - 18:9 WIB
Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak
20 November 2008 - 16:54 WIB
Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran
20 November 2008 - 15:59 WIB
UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%
20 November 2008 - 15:19 WIB
PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban
20 November 2008 - 14:25 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Amrozi Cs Dieksekusi Pukul 00.15 WIB
9 November 2008 - 3:53 WIB
Tolak SKB 4 Menteri, Demo Buruh Ricuh di Istana
6 November 2008 - 18:48 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (2)
9 November 2008 - 8:24 WIB
Terjawab Sudah Teka-teki Eksekusi Amrozi Cs (1)
9 November 2008 - 8:21 WIB
Pembela Amrozi Cs Ancam Lapor Mahkamah Internasional
7 November 2008 - 18:30 WIB
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







