Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Ramadan ala BMI Hong Kong (2, Habis)

Rie Rie

 BMI yang berpuasa merasa kesepian. Banyak godaan. Rindu suasana kampung.


TAK mudah menjalankan ibadah puasa di Hong Kong, terlebih dengan status sebagai pekerja rumah tangga. Septemper ini cuaca Hong Kong tergolong panas, suhu udara mencapai 30-35 derajat Celsius.


Di luar, toko-toko dan kedai makan buka seperti biasa, tanpa penutup, bahkan toko Indonesia sekalipun. Tidak ada juga spanduk ataupun tulisan tentang anjuran untuk menghormati orang puasa seperti yang ada di Indonesia. Semuanya masih tetap sama.


Bahkan tempat dugem pun semakin memberikan tawaran yang menggiurkan dengan diskon minuman ataupun gratis  biaya masuk bagi pekerja migran. Yang tersaji di depan hidung mereka makanan lezat yang gampang membuat puasa mereka batal.


Bagi para BMI yang berniat menjalankan ibadah puasa, hari libur menjadi godaan terberat. Mereka umumnya mendapatkan jatah libur hari Sabtu atau Minggu.


Orang yang dari rumah berniat mengaji ke Masjid Wanchai bisa saja tiba-tiba berbelok ke diskotek Laguna atau lari ke Tsim Sha Tuoi, tempat cowok berhidung mancung seperti Amithabh Bachchan berkumpul.


Apalagi lagi para BMI yang berorientasi seksual sejenis. Mereka berlibur sekali dalam sepekan untuk berjumpa dengan sang "pacar". Pasangan BMI sejenis tetap berangkulan, bermesraan, berpelukan, bahkan berciuman di depan umum, meski di bulan Ramadan.


Singkatnya, dengan begitu banyak godaan dan tugas berat sebagai pekerja rumah tangga membuat mayoritas BMI muslim di Hong Kong memilih tak menjalankan ibadah puasa.


Meskipun demikian, selama Ramadan di pojok-pojok Victoria Park, tempat kongkow BMI, dengan mudah dapat dijumpai perempuan berkerudung yang salat, membaca Al Quran, mendengarkan ceramah,  atau diskusi agama.


Dan, baik mereka yang berpuasa maupun tidak, rata-rata BMI mengalami kerinduan berlipat pada keluarga dan kampung halaman setiap kali Ramadan datang.


Siti mengaku menangis di malam pertama sahur. Ia teringat suami dan anaknya di rumah. "Rasanya kok nelangsa banget, sahur sendirian di negeri orang. Pengin banget puasa di kampung saja. Tapi mau gimana lagi?" ungkapnya.


Nurhidayah juga sedih tidak bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama keluarga selama tujuh kali lebaran, terhitung sejak di Singapura untuk pekerjaan yang sama sebagai pekerja rumah tangga. (E2) Foto oleh Francisca Ria Susanti.


Penulis adalah pekerja rumah tangga di Hong Kong, (http://babungeblog.blogspot.com)

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua