Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Kisah

Bawa Aku Pulang!

Liza Desylanhi

Anak-anak bangsal 01 menunggu antrean untuk diadopsi. Mereka rindu keluarga.

Bangunan bercat krem dipadu warna pelangi di Cipayung, Jakarta Timur, itu tampak menonjol dari bangunan lainnya. Bangunan seluas 100 meter persegi itu adalah Panti Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa 01. Di dalamnya hidup 69 anak. Mereka terdiri dari bayi baru lahir hingga bocah usia lima tahun. Memasuki tempat ini, kita akan disambut semerbak aroma minyak bayi.

Suatu siang di pertengahan Januari 2007 para penghuni panti itu baru saja menikmati santap siang. Setelah kenyang, mereka tidur pulas. Tiap anak mendapat jatah kasur kecil. Sebagian mendengkur pulas. Mungkin dibuai mimpi indah.

Lantai dua bangunan itu dipenuhi kotak bayi. Siang itu bayi-bayi di panti tidak tidur. Terdengar celoteh dan tangisan. Dua perawat yang bertugas kewalahan melayani 36 bayi.

Bangunan di atas tanah seluas 3.300 meter persegi itu didirikan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta pada tahun 1986. Tempat itu memang untuk menampung bayi-bayi yang ditinggal ibunya. Ada yang diserahkan ibunya, ada yang diserahkan polisi, ada juga yang dititipkan tunawisma.

"Kalau ada tamu, mereka bilang kok saya nggak diadopsi, sih? Kok bunda saya nggak datang-datang," tutur Marwianti, kepala panti, menirukan pertanyaan anak-anak yang mulai besar.

Sore hari anak-anak mulai bangun. Ada bingkisan untuk mereka. Mereka sangat gembira menerima hadiah. Bangunan itu mulai ramai. Para penghuninya mulai bermain. Ada yang berteriak-teriak. Ada yang menangis. Sebagian lagi berceloteh dengan teman-temannya.

Saat ada pengunjung yang mencari anak untuk diadopsi, bocah-bocah itu akan bersaing keras mencoba menarik perhatian dengan berbagai cara.

Alam punya cara tersendiri untuk mencari perhatian. Ia duduk terpaku di lantai. Celananya basah oleh ompol. Anak kelas 0 besar taman kanak-kanak itu kencing di celana. Ketika ditanya mengapa ngompol, dia hanya mengangkat bahu.

"Nggak boleh ngompol! Kamu itu hidup di panti! Nggak boleh ngompol. Kamu udah gede," kata pengasuh yang mulai jengkel oleh ulah Alam. Kadang-kadang, pengasuh itu memukulnya sebagai pelajaran.

Alam adalah penghuni tertua di situ. Sampai dia umur lima tahun, belum ada pengunjung yang tertarik mengadopsinya. Sementara banyak teman seumurnya yang sudah meninggalkan panti diadopsi oleh keluarga mapan.

Alam sebenarnya anak yang menarik. Ia cerdas, ceria, dan gesit. Kepalanya yang pelontos membuat banyak orang gemas padanya. Mungkin cara dia mencari perhatian yang berlebihan membuat pengunjung tidak pernah memilihnya sebagai anak angkat.

Usai berganti celana, Alam mulai menikmati film kartun di televisi. Tokoh kesukaannya seorang dokter, meski dia sendiri ingin menjadi polisi. Film kartun membuatnya semakin overacting. Selain kartun, Alam juga suka nonton sinetron.

Alam datang ke panti tiga tahun silam, diantar seorang polisi. Ibunya berprofesi sebagai pekerja seks komersial karena dipaksa suaminya. Suatu hari, ibu Alam terlibat tindak kriminal dan dipenjara. Karena tidak ada pengasuh, polisi menitipkan Alam di panti ini.

"Mama ketangkep polisi, karena punya pacar penjahat," cerita Alam.

Selain Alam, penghuni lama di panti ini adalah Arjuna. Anak ini berparas Arab. Ibunya buruh migran di Kuwait. Suatu hari, ibunya diperkosa majikannya dan lahirlah Arjuna. Setelah menitipkan anaknya di panti, sang ibu menghilang tanpa kabar. Ia tak pernah kembali. Surat pun tak pernah dikirimkan. Konon, ibu itu kembali bekerja di Timur Tengah.

"Aku mau punya mama," kata Arjuna.

Lain lagi Ismail. Bocah tiga tahun ini tidak tahu sebenarnya ibunya tinggal tak jauh dari panti ini. Menurut dia, ibunya sudah tiada. Padahal, si ibu tinggal di Panti Bina Laras yang bersebelahan dengan Panti Tunas Bangsa. Bina Laras menampung para perempuan korban pemerkosaan yang mengalami gangguan jiwa. Sudah lima tahun ibu Ismail sakit jiwa, setelah diperkosa orang tak dikenal. Ismail pun lahir di panti itu, lalu ditampung Panti Tunas Bangsa.

Alam, Ismail, Arjuna, dan anak-anak panti ini memiliki perilaku yang mirip. Mereka suka mencari perhatian orang-orang yang datang. Menurut Marwianti, anak-anak panti haus kasih sayang. "Kurang kasih sayang menimbulkan mereka jadi overacting. Apalagi kalau ada tamu, jadi overacting. Mencari perhatian," ujarnya.

Jika tamu itu laki-laki, anak-anak itu suka memanggil "ayah". Bila yang datang perempuan, mereka memanggil "mama". Tak jarang mereka berterus terang minta diadopsi. Bahkan, banyak yang merengek ikut pulang.

Malam sudah larut. Bocah-bocah itu kembali menggantungkan harapan. Hari ini tak ada yang membawa mereka "pulang". Anak-anak itu terus berharap suatu hari ada orang tua yang mau membawa mereka pulang ke rumah, pada sebuah keluarga. (E2)

©2010 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua