Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Belajar Dalam Genangan

Liza Desylanhi

 Sudah dua bulan kompleks sekolah itu terendam banjir. Tak ada dana. Cita-cita meninggikan bangunan agar bebas banjir terhambat.


BOCAH-bocah bertelanjang dada asyik berenang. Mereka meluncur, berkejaran, layaknya perenang andal. Sesekali mereka saling memercikkan air.


Sudah dua bulan ini halaman SMU Nusantara di Tuju Utara, Jakarta Utara, terendam air. Ketinggian air antara selutut sampai sepaha orang dewasa. Selama dua bulan pula tempat ini berubah menjadi kolam renang. Meskipun airnya berwarna cokelat kehijauan, toh bocah-bocah yang baru duduk di bangku sekolah dasar itu tak sungkan menceburkan diri ke dalamnya.


Ternyata keriangan bukan cuma milik bocah-bocah ini. Bagi Sam dan teman-temannya, banjir di halaman sekolah mereka juga membawa kesenangan tersendiri. Apalagi banjir selalu menjadi tamu tahunan. "Kalau banjir gini enaknya bisa jorok-jorokan pas pulangnya. Kayak kemaren teman kecebur saya jorokin," ujarnya sambil tergelak. "Mau renang ya renang aja di situ,"katanya lagi.


Di balik keriangan itu mereka gundah dan kesal. "Sekolah ini bagaimana ya, sangat memprihatinkanlah. Banjir mululu," kata Sam. "Belajarnya juga terganggu."


Bagi Sam, banjir adalah ancaman serius bagi masa depannya. Siswa kelas III ini mulai khawatir ketinggalan pelajaran. "Nggak tenang belajarnya," katanya. "Pemandangannya keluar mulu banjir, banjir. Anak-anak pada renang, jadi ga konsen belajar. Ga enak. Apalagi dah kelas III. Ini mau menghadapi ujian. Harusnya belajar keras, jadinya main-main gini belajarnya," katanya dengan logat Batak yang kental.


Banjir itu bahkan menggenangi ruang kelas yang lantainya sudah ditinggikan semeter. Sekolah terpaksa diliburkan. Akibat ruang kelas menjadi sangat pendek, jarak antara lantai dan langit-langit tidak lebih dari 2,5 meter. Kalau musim panas tiba, berada di ruangan itu terasa gerah sekali. Makanya setiap ruang kelas dilengkapi kipas angin.

Kini dari seluruh areal sekolah, baru ruang kelas dan ruang guru yang bangunannya ditinggikan secara keseluruhan. Laboratorium bahasa Inggris, kantin, ruang unit kegiatan sekolah, dan toilet dibiarkan tergenang air. Tiang basket sumbangan Wali Kota Jakarta Utara dua tahun lalu itu pun mulai dimakan karat karena lama tergenang air.


Untuk menyiasati agar sepatu tak cepat rusak, selama banjir siswa diperbolehkan memakai sandal hingga ke dalam kelas. Bahkan beberapa siswa memilih menggunakan sepatu bot plastik untuk menghindari penyakit. "Temen saya sampai demam berdarah, sekarang dirawat di RS Pelabuhan," katanya. "Cuma kaki keriput-keriput kena banjir mulu."


Banjir bukan hanya menggenangi lokasi SMU, SMP, dan STM Nusantara. Tiga SD negeri yang jaraknya tak jauh dari lokasi sekolah itu juga senasib. Begitu juga rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Menurut Paramitha, siswa kelas III IPA SMU Nusantara, sekolahnya yang paling parah. "Yang SD nggak terlalu," katanya.


Wakil Kepala Sekolah SMU Nusantara Hamdan Hasibuan menuturkan, sejak beberapa tahun ini setiap memasuki musim hujan daerah di belakang Islamic Centre ini selalu tergenang air. Menurut dia, ini akibat pembangunan yang tidak ekologis. Semua berlomba mendirikan bangunan megah, tetapi tidak memperhatikan dampak lingkungannya. "Jadi, karena ada bangunan-bangunan gedung di sekitarnya ini, seperti Islamic Center yang dulunya (lokalisasi) Kramat Tunggak," katanya. "Setelah dibangun Islamic Center yang diuruk hingga tinggi, akhirnya airnya larinya ke sini."


Sebagai upaya sementara, pihak sekolah membuat tanggul untuk mencegah air masuk ke ruang kelas, kemudian memompa air keluar. Namun semua upaya itu tak banyak membantu.


Pengurus yayasan sempat berencana meninggikan banguan sekolah, bahkan meningkatnya. Tapi sebelum rencana itu terwujud, ketua yayasan pensiun, sementara dua pengurus lainnya sudah enggan mengurusi sekolah. Selain mereka sudah tua, Sekolah Nusantara dinilai sudah tidak menguntungkan dari segi bisnis. Tiap tahun jumlah siswanya selalu berkurang. Sekarang siswa SMU Nusantara tinggal 230 siswa. Kata Hamdan, kejayaan sekolah seluas 3.000 m2 itu sudah berlalu.


Para pengurus yayasan telah berupaya mencari dana untuk membangun sekolah. Semua intansi didatangi. Berkali-kali mereka mendatangi Dinas Pendidikan Nasional, mengajukan proposal permohonan bantuan renovasi gedung sekolah. Tetap tak ada tanggapan. "Kita juga sudah banyak ngajuin proposal ke pemerintah, ke perusahaan yang bonafide, belum ada bantuan," katanya.


Jangankan meminta bantuan renovasi gedung sekolah, untuk mendapatkan sarana mengajar saja tidak gampang. "Kalau kita butuh buku, kadang-kadang kehabisan gitu. Saya pernah ngalamin sendiri, katanya dah habis. Untuk sekolah negeri didahulukan," tambahnya.


Kini harapan merenovasi sekolah hanya tinggal menunggu tahun ajaran baru tiba. Saat itu biasanya sekolah mendapatkan dana segar dari penerimaan siswa baru. Tentu jumlah dana itu  tak banyak. Pihak sekolah tak bisa mematok uang biaya pendidikan yang tinggi, mengingat mayoritas siswa dari keluarga miskin. (E2) Foto-foto oleh VHRmedia.com/Adri Irianto

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

PKL Surabaya Tolak Perda Penggunaan Jalan

20 November 2008 - 13:38 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua