Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Celoteh Sedih dari Seberang Kasino

Fransica Ria Susanti

Ribuan perempuan Indonesia terdampar di Makau. Pulang ke kampung tak pernah jadi pilihan.

 

BULAN yang tak bundar perlahan bergerak ke atas. Udara mulai terasa sejuk. Hembusan angin menciptakan riak di bawah dermaga kayu dan sesekali membuat gigil. Jam di pergelangan tangan telah sejak tadi bergeser dari angka satu.

 

Dendang shalawat dengan iringan rebana berbaur dengan musik hip-hop yang mengalun dari tape recorder yang ditaruh sembarangan di atas dermaga. Logat Jawa Timur sesekali terdengar di antara hiruk-pikuk bunyi rebana dan tape recorder.

 

 "Mulai dingin ya, Kak," ujar Oki (24), perempuan berambut jabrik yang tadi siang menjemput di Macau Ferry Terminal.

 

Oki bukan nama pemberian orang tuanya, tapi demikianlah ia biasa dipanggil oleh kawan-kawannya. Tubuhnya kurus dan berdandan seperti lelaki. Tapi raut wajah dan senyum kekanakannya tetap menyisakan jejak feminin.

 

Lebih dari dua tahun Oki tinggal di Makau. Ia nge-break kontrak dari majikan saat kerja di Hong Kong, meski baru 1,5 bulan. Tak jelas mengapa ia memutuskan berhenti kerja, padahal belum ada sepeser pun uang yang dikantonginya. Seperti pekerja migran lain yang bekerja di sektor rumah tangga, Oki malah harus membayar biaya penempatan dirinya ke agen sebesar HK$ 21.000 yang dibayar lewat potongan gajinya selama tujuh bulan berturut-turut.

 

Namun dengan keputusannya untuk nge-break kontrak, tak jelas urusannya dengan biaya tersebut. Ia memilih tak bercerita. Saya hanya khawatir ia pernah mengalami nasib seperti Afriani (24). Pekerja asal Malang yang saya temui di sebuah penampungan di Hong Kong itu tiap hari menangis karena ayahnya di kampung terus-menerus diancam orang-orang suruhan PJTKI untuk meminta bayaran Rp 9 juta. Gara-garanya Afriani belum menyelesaikan potongan biaya agen, tapi keburu diputus kontrak oleh majikan karena sakit.

 

Oki hanya berkisah bahwa statusnya sudah overstayed alias visa kerjanya habis sejak dua tahun lalu, dua pekan persis setelah ia memutuskan kontrak dengan majikannya di Hong Kong. Ia sebenarnya pergi ke Makau dengan harapan dapat majikan baru. Namun ini bukan soal mudah, terlebih ia tak selesai kontrak dengan majikan pertama.

 

Meski begitu, Oki tak berniat pulang ke kampungnya di Ponorogo. Sebagai sulung dari tiga bersaudara, ia ingin menjadi tulang punggung keluarga. "Saya usaha apa saja di sini untuk hidup," ujarnya.

 

Bersama rekannya, setiap hari Oki berjualan nasi, soto, bakso, gorengan, dan es campur di Leal De Senado Square, lapangan di jantung kota Makau yang menjadi tujuan wisata turis mancanegara. Di lapangan yang juga populer dengan sebutan San Malo ini wisatawan dimanjakan dengan pemandangan gedung-gedung tinggi berarsitektur Eropa dan juga bangunan tua gereja Katolik. Sementara lorong-lorong kecil di sela gedung-gedung tinggi tersebut, juga gerai-gerai toko yang memasang pengumuman sale di depan pintu masuk, menjadi  daya tarik tersendiri. Lurus ke arah belakang lapangan ini, sebuah reruntuhan bangunan dari gereja St Paul selalu dijejali pengunjung setiap kali liburan datang.

 

Namun di tengah lalu-lalang para turis, Oki dan sejumlah perempuan asal Indonesia mesti bertahan hidup dari receh yang mereka kumpulkan dengan berdagang nasi dan bakso. "Di sini lebih bebas. Orang boleh dagang. Nggak dikejar-kejar seperti di Hong Kong," ujarnya.

 

Dari dagangannya itu Oki bisa menghidupi dirinya. Omzetnya sekitar HK$ 3.000 per minggu. Setelah penghasilan dibagi dengan sang kawan, ia masih bisa mencukupi hidupnya, termasuk menyewa kos HK$ 20 per hari, biaya makan dan rokok, dan kebutuhan lain. Sekilas, saya juga melihat ia mengantungi dua handphone di sakunya.

 

Tunggu Visa 

Namun tak semua punya cerita seperti Oki. Sejumlah perempuan buruh migran asal Indonesia yang terdampar di Makau tak tahu apa yang mesti dilakukan. Mereka biasanya "dititipkan" oleh agen di sebuah  tempat dan mesti membayar HK$ 20 per hari. Mereka tidur berjejal di ruang tamu atau di kamar dalam flat dua kamar yang biasanya dihuni sekitar 20 orang.

 

Yuni (22), perempuan yang juga berasal Ponorogo, misalnya, menjadi penghuni flat tersebut setelah memutuskan kontrak dengan majikan di Hong Kong. Agennya kemudian mencarikan majikan baru dan Yuni diminta hengkang dulu ke Makau untuk menyiasati visa kerja.

 

Beruntung Yuni hanya perlu menunggu beberapa bulan untuk bisa masuk ke Hong Kong lagi. Namun Eni (21), asal Malang, terpaksa masih menunggu dengan ketidakpastian. Setiap hari, Eni mesti menghitung berapa utang yang mesti dibayar jika kelak mendapat pekerjaan setelah visanya turun. Ia, dan banyak perempuan Indonesia lainnya, terus menghitung jumlah uang sewa yang belum terbayar, juga kebutuhan lain yang mereka cukupi dari berutang. Tak ada yang gratis di Makau.

 

Banyak kisah di mana penantian yang tak pasti ini kerap membuat mereka berstatus overstayed. Di Hong Kong, status seperti ini bisa mengantarkan mereka ke bui selama empat hingga enam bulan. Jika ketahuan identitas mereka palsu, hukuman bisa lebih lama lagi.

 

Namun di Makau, kasus overstayed tak pernah berakhir di bui. Pasalnya, pemerintah Makau tak cukup punya dana memulangkan mereka, tidak seperti di Hong Kong, pemerintah bertanggung jawab memulangkan mereka setelah penahanan.

 

"Saya beberapa kali pernah ketangkep waktu gerebekan. Tapi kemudian dibebasin," kisah Oki.

 

Menurut pengakuan sejumlah pekerja overstayed yang pernah tertangkap, mereka biasanya diberi jangka waktu oleh Imigrasi untuk mencari uang guna membeli tiket pulang. Alasan ini pula yang membuat aktivitas dagang Oki berlangsung aman tanpa razia. Namun mencari uang tentu juga bukan hal gampang.

 

Mendadak seseorang yang duduk di belakang saya berbisik sambil menelengkan dagunya ke arah Eni. "Ia kangen anaknya," ujarnya. Ada sisa air di mata Eni.

 

Saya tak menyangka semuda itu ia telah meninggalkan bocah di kampung halaman yang memanggilnya ibu. Padahal, barusan dia berceloteh soal rencana untuk pergi ke kasino, main jackpot atau rollet kecil-kecilan, sembari mengambil minuman botol gratis yang biasanya tersedia di tempat itu.

 

Di seberang dermaga, terpisah oleh danau dalam, kehidupan di Lisboa, Wynn, dan Sands masih berdegup. Berselimut lampu pijar yang bergerak teratur dari lantai bawah hingga ke atas menciptakan refleksi indah di atas permukaan danau. South China Morning Post menyebut Sands yang dibuka tahun 2004 dengan modal US$ 265 juta telah meraup untung dalam jumlah menakjubkan. (E4)

 

- Fransisca Ria Susanti, wartawan tinggal di Hong Kong.

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

PKL Surabaya Tolak Perda Penggunaan Jalan

20 November 2008 - 13:38 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua