| 03 September 2010 |
Kisah
Hilangnya Seorang Kapten (1)
21 November 2008 - 13:41 WIB
Kurniawan Tri Yunanto
Empat hari lagi Yadin harus berangkat berlayar. Tawaran berlayar ke Singapura dari kakak iparnya tiba-tiba ditolak begitu saja. Demi sebuah keingingan untuk mengambil hasil ujian, tiket pesawat dikembalikan. "Sebentar lagi jadi kapten, Mak. Nanti Mamak aku beliin daster," kata Yadin Muhidin kepada emaknya tersayang.
Pengakuan itulah yang sampai saat ini belum bisa dilupakan Nurhasanah (52), ibunda Yadin. Pengakuan yang sempat dikatakan, sebelum Yadin Muhidin dinyatakan hilang.
14 Mei 1998. Menjelang detik-detik tumbangnya Soeharto, kondisi ibu kota negara tiba-tiba mencekam. Unjuk rasa di mana-mana. Asap hitam pun mengepul mengotori langit. Penjarahan, aksi bakar mobil dan rumah terjadi hampir di setiap sudut Jakarta.
Suasana yang sama juga terjadi di kawasan Sunter, Jakarta Utara, tidak jauh dari rumah Yadin. Orang-orang lalu-lalang di depan rumahnya. Waktu itu Yadin baru bangun dari tidur. Rasa penasaran pun muncul dan memaksanya keluar rumah sekitar pukul 11.00. Siangnya dia sempat pulang dan salat duhur.
Tidak lama kemudian datang Imam, teman dekat Yadin, dan mengajaknya keluar lagi. Lantaran tidak bisa menolak, Yadin menyempatkan ganti celana panjang karena terik matahari memang masih menyengat. Yeti, kakaknya sempat mengingatkan agar jangan menggunakan celana panjang. "Nanti kamu ditangkap polisi, lho," celetuk kakaknya itu.
Tanpa menghiraukan peringatan Yeti, keduanya pergi. Entah ke mana mereka pergi. Sementara itu aksi penjarahan masih terjadi di banyak tempat. Bahkan aparat Polsek Gorontalo, Tanjung Priok, telah menangkap lebih dari 400 orang.
Azan magrib berkumandang, aksi pembakaran sudah mereda, namun Yadin belum juga muncul. Nurhasanah mulai khawatir atas keselamatan anaknya yang saat itu berusia 22 tahun. Dari seorang temannya, Nurhasanah mendengar kabar Yadin ditangkap petugas keamanan dan dibawa ke Polsek Gorontalo. Beberapa teman Yadin yang lain juga terkejut ketika mengetahui teman main catur dan karambol itu belum pulang. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
Ayah Yadin bergegas mencari anaknya ke Mapolsek Gorontalo. Dia menemukan nama anaknya dalam daftar yang dirilis kepolisian. "Memang waktu itu ada kerusuhan, mereka menjarah semua. Anak saya cuma menemukan pancongan seperti yang dibawa pencari sampah itu, tidak membawa apa-apa. Saya tahu karena tertulis di situ," kata Nurhasanah menirukan perkataan suaminya. (Bersambung)
Foto: VHRmedia/Kurniawan Tri Yunanto
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- AJI & MA Sepakat soal Penanganan Kasus Pers13 Januari 2009 - 15:27 WIB
- 30 Kepala Sekolah Diperiksa, Tersangka Bertambah12 Januari 2009 - 14:15 WIB
- KPK Mulai Usut Latar Belakang Kebijakan BLBI9 Januari 2009 - 9:35 WIB
- Kejati Jatim Salahkan Polisi 24 Desember 2008 - 14:58 WIB
- Urip Dipecat, Kemas & M Salim Dijatuhi Sanksi Teguran23 Desember 2008 - 11:43 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







