| 03 September 2010 |
Kisah
Hilangnya Seorang Kapten (2)
24 November 2008 - 13:12 WIB
Kurniawan Tri Yunanto
Ibu korban penculikan menjadi pasien psikiater. Mencari anak hingga Taman Makam Pahlawan Kalibata.
AWALNYA Nurhasanah mengira Yadin mampir ke rumah temannya. Namun, banyak teman anaknya itu justru menanyakan keberadaan Yadin. Bahkan, salah satu dosennya juga menanyakan keberadaannya. Pikiran sang mamak mulai kalut. Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benaknya. Dia masih ingat perkataan polisi kepada suaminya, "Dia sudah dikeluarkan. Saya tidak tahu lagi."
Tidak ada dokumen kepolisian yang menjelaskan bahwa Muhidin sudah dikeluarkan. "Kalau memang dipulangkan, pasti jalan kaki juga bisa, rumah saya dekatlah dari Tanjung Priok," kata Nurhasanah. "Tapi kenapa kok tidak pulang ke rumah? Sampai saya telepon saudara semua, di Surabaya, di Semarang, bahkan teman-temannya... semua mengatakan tidak ada."
Di hadapan para anggota Panitia Khusus DPR, Nurhasanah kembali melanjutkan ceritanya. "Yang saya heran, terheran-heran, kenapa anak saya begitu malam Jumat hilang, ada di Polsek Gorontalo, Tanjung Priok. Bahkan saksinya juga ada, dia ditahan di situ. Memang namanya jelas ada di situ. Kenapa waktu saya ke situ, kok sudah tidak ada?" kata Nurhasanah dengan tatapan kosong.
Sejak saat itu Nurhasanah dan keluarga terus mencari Yadin dengan cara mereka sendiri. Pukul 8 pagi, Nurhasanah sudah keluar rumah dan baru pulang pada pukul 9 malam. Hal itu dilakukan setiap hari. Dua minggu kemudian, perempuan kelahiran Tasikmalaya ini melaporkan hilangnya Yadin ke Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Pencarian mulai dilakukan ke berbagai instansi dan Istana Negara. Dari Mabes TNI di Cilangkap sampai presiden seperti Habibie, Gus Dur, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Hasilnya: nihil.
Akibat pencarian panjang yang tidak berujung ini Nurhasanah sempat dirawat psikiater. Bahkan, pernah juga dia mencari anaknya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. "Sampai anak dan mantu saya tidak mau ngantarin saya lagi. Pokoknya, ayo ke Kalibata. Ngapain ke Kalibata, Mak? Kata anak saya waktu itu. Kontras itu di sini, Mak. Pokoknya ayo ke Kalibata. Kalau kamu tidak mau anterin, Mamak akan turun di tengah jalan," tutut Nurhasanah.
Sesampai di Kalibata, penjaga kuburan terheran-heran melihat perilaku Nurhasanah. Bagaimana mungkin seorang sipil dikubur di taman makam pahlawan. Namun, untuk menyenangkan hati si mamak, anaknya membujuk penjaga untuk memperbolehkan ibunya masuk. Setelah sekian lama mencari, nama Yadin Muhidin tidak ditemukan. Dengan mengusap kepala si mamak, penjaga kuburan meminta agar pulang.
Kekalutan itu pernah membuat Nurhasanah koma tiga hari di rumah sakti. Ingatan pada sosok Yadin kembali menghantui ketika bulan Ramadan. Di hari ke-15 bulan Ramadan, Yadin lahir ke dunia. Setiap hari ke-15 Ramadan, si mamak hanya bisa berdoa dan berucap, "Saya sudah ridho, ya Allah. Dia sekarang sudah kepunyaanmu." (Bersambung). Foto: Kurniawan Tri Yunanto.
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- AJI & MA Sepakat soal Penanganan Kasus Pers13 Januari 2009 - 15:27 WIB
- 30 Kepala Sekolah Diperiksa, Tersangka Bertambah12 Januari 2009 - 14:15 WIB
- KPK Mulai Usut Latar Belakang Kebijakan BLBI9 Januari 2009 - 9:35 WIB
- Kejati Jatim Salahkan Polisi 24 Desember 2008 - 14:58 WIB
- Urip Dipecat, Kemas & M Salim Dijatuhi Sanksi Teguran23 Desember 2008 - 11:43 WIB
Kisah Terkait
- Hilangnya Seorang Kapten (3)4 Desember 2008 - 16:46 WIB
- Hilangnya Seorang Kapten (1)21 November 2008 - 13:41 WIB
Artikel Terkait
- Mengenang Para Martir Perubahan15 Mei 2008 - 13:0 WIB
- Kami Tidak Akan Pernah Lupa13 Maret 2008 - 15:3 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







