Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Kisah

Hilangnya Seorang Kapten (3)

Kurniawan Tri Yunanto

Kesedihan Nurhasanah kian lengkap. Empat tahun setelah Yadin hilang, suaminya meninggal. Kini dia menghabiskan waktunya dengan berjualan gado-gado di rumah mungilnya di kawasan Sunter, Jakarta Utara.


Yadin hilang di usia yang masih muda, 22 tahun. Keinginannya menjadi kapten berusaha diwujudkan dengan  belajar di Sekolah Pelayaran Menengah (SPM). Setelah lulus, anak kedua dari tiga bersaudara ini, melanjutkan kuliah di akademi maritim. Namun, keinginannya untuk berlayar tidak terbendung. Yadin memutuskan ikut berlayar dengan kapal tanker ke Hong Kong dan Jepang. Si mamak pun menyambut baik keingingan anaknya. Dia mencari pinjaman ke sana-sini untuk biaya berlayar si anak.


Setelah dua tahun berlayar, kapal tanker yang menjadi sandaran hidup Yadin dirampok. Bersama temannya, dia pernah diajak untuk kabur dan menjual kapalnya. Karena ketakutan, Yadin memutuskan pulang ke Jakarta. Setahun kemudian dia melanjutkan studinya. Karena trauma bekerja di kapal tanker, Yadin bertekad lulus ujian agar menjadi kapten kapal.


Dua minggu sebelum pengambilan ijazah, kakak ipar Yadin yang di Singapura menawarkan untuk berlayar. Si mamak kembali mencarikan uang pinjaman untuk keberangkatan Yadin ke Singapura. Tiket seharga Rp 425 ribu dan uang saku Rp 75 ribu diberikan kepada anaknya.


Yadin sudah berkemas rapi, mau berangkat, tiba-tiba dia bilang tidak jadi berangkat. "Aku mau ambil hasil ujian sendiri," katanya kepada si mamak. "Tidak usah, ntar mamak ambilin. Ntar di-faks," jawab Nurhasanah.


Tawaran itu tidak diindahkan Yadin. Tiket yang sudah di tangan dikembalikan lagi. Sementara itu kakak iparnya terus menelepon dan siap menjemput di Batam. "Kamis malam dia hilang, 14 Mei 1998. Padahal hari minggu dia harus sudah berangkat ke singapura. Tapi dia tidak jadi berangkat, karena dia memang ingin ambil ijazahnya sendiri."


Kasus penculikan aktivis dan pengilangan orang secara paksa 1998 merenggut si calon kapten kapal Yadin Muhidin. Daster yang sempat dijanjikan sang anak kepada mamaknya hanya menjadi bagian dari sejarah kelam kasus ini. Sejarah pelanggaran HAM berat yang belum juga terungkap, setelah lebih dari 10 tahun berlalu.


Segenggam harapan kembali muncul ketika panitia khusus DPR mempertanyakan penculikan aktivis dan orang hilang secara paksa. Namun, keraguan dan ketidakpercayaan kepada anggota Dewan juga tidak bisa dimungkiri. Apalagi hal ini muncul ketika menjelang pemilu 2009.  


"Saya menunggu dan terus menunggu. Kalau anak saya memang mati, hanya Allah yang tahu. Semoga Bapak bisa ungkap kasus ini. Saya tidak menuntut apa-apa. Hanya dikasih tahu saja di mana kuburnya. Seperti ketika almarhum suami saya sakit, selalu saya tungguin. Ketika meninggal, saya ikut menguburkan dan sering ziarah. Tapi ini.... jasadnya di mana tidak tahu. Kabar beritanya pun tidak ada. Kalau memang sudah meninggal, tolong ya Allah, tuntun saya di mana kuburnya," kata Nurhasanah kepada anggota Pansus DPR Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa pada audiensi di kantor Kontras beberapa waktu lalu lalu. (Habis)

©2010 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua