| 03 September 2010 |
Kisah
Hilangnya Seorang Kapten (3)
4 Desember 2008 - 16:46 WIB
Kurniawan Tri Yunanto
Kesedihan Nurhasanah kian lengkap. Empat tahun setelah Yadin hilang, suaminya meninggal. Kini dia menghabiskan waktunya dengan berjualan gado-gado di rumah mungilnya di kawasan Sunter, Jakarta Utara.
Yadin hilang di usia yang masih muda, 22 tahun. Keinginannya menjadi kapten berusaha diwujudkan dengan belajar di Sekolah Pelayaran Menengah (SPM). Setelah lulus, anak kedua dari tiga bersaudara ini, melanjutkan kuliah di akademi maritim. Namun, keinginannya untuk berlayar tidak terbendung. Yadin memutuskan ikut berlayar dengan kapal tanker ke Hong Kong dan Jepang. Si mamak pun menyambut baik keingingan anaknya. Dia mencari pinjaman ke sana-sini untuk biaya berlayar si anak.
Setelah dua tahun berlayar, kapal tanker yang menjadi sandaran hidup Yadin dirampok. Bersama temannya, dia pernah diajak untuk kabur dan menjual kapalnya. Karena ketakutan, Yadin memutuskan pulang ke Jakarta. Setahun kemudian dia melanjutkan studinya. Karena trauma bekerja di kapal tanker, Yadin bertekad lulus ujian agar menjadi kapten kapal.
Dua minggu sebelum pengambilan ijazah, kakak ipar Yadin yang di Singapura menawarkan untuk berlayar. Si mamak kembali mencarikan uang pinjaman untuk keberangkatan Yadin ke Singapura. Tiket seharga Rp 425 ribu dan uang saku Rp 75 ribu diberikan kepada anaknya.
Yadin sudah berkemas rapi, mau berangkat, tiba-tiba dia bilang tidak jadi berangkat. "Aku mau ambil hasil ujian sendiri," katanya kepada si mamak. "Tidak usah, ntar mamak ambilin. Ntar di-faks," jawab Nurhasanah.
Tawaran itu tidak diindahkan Yadin. Tiket yang sudah di tangan dikembalikan lagi. Sementara itu kakak iparnya terus menelepon dan siap menjemput di Batam. "Kamis malam dia hilang, 14 Mei 1998. Padahal hari minggu dia harus sudah berangkat ke singapura. Tapi dia tidak jadi berangkat, karena dia memang ingin ambil ijazahnya sendiri."
Kasus penculikan aktivis dan pengilangan orang secara paksa 1998 merenggut si calon kapten kapal Yadin Muhidin. Daster yang sempat dijanjikan sang anak kepada mamaknya hanya menjadi bagian dari sejarah kelam kasus ini. Sejarah pelanggaran HAM berat yang belum juga terungkap, setelah lebih dari 10 tahun berlalu.
Segenggam harapan kembali muncul ketika panitia khusus DPR mempertanyakan penculikan aktivis dan orang hilang secara paksa. Namun, keraguan dan ketidakpercayaan kepada anggota Dewan juga tidak bisa dimungkiri. Apalagi hal ini muncul ketika menjelang pemilu 2009.
"Saya menunggu dan terus menunggu. Kalau anak saya memang mati, hanya Allah yang tahu. Semoga Bapak bisa ungkap kasus ini. Saya tidak menuntut apa-apa. Hanya dikasih tahu saja di mana kuburnya. Seperti ketika almarhum suami saya sakit, selalu saya tungguin. Ketika meninggal, saya ikut menguburkan dan sering ziarah. Tapi ini.... jasadnya di mana tidak tahu. Kabar beritanya pun tidak ada. Kalau memang sudah meninggal, tolong ya Allah, tuntun saya di mana kuburnya," kata Nurhasanah kepada anggota Pansus DPR Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa pada audiensi di kantor Kontras beberapa waktu lalu lalu. (Habis)
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III16 Januari 2009 - 21:4 WIB
- Orangutan Mampu Barter Uang dan Makanan 24 Desember 2008 - 12:35 WIB
- Pansus Belum Inventarisasi Masalah RUU Pengadilan Tipikor11 Desember 2008 - 18:26 WIB
- Kejagung agar Jawab Penyidikan Komnas HAM 10 Desember 2008 - 15:52 WIB
- Aktivis LBH Semarang Diintimidasi Polisi9 Desember 2008 - 16:18 WIB
Kisah Terkait
- Hilangnya Seorang Kapten (2)24 November 2008 - 13:12 WIB
- Kenangan yang Tak Memudar14 September 2007 - 17:22 WIB
- Anak Rimba Menenteng Kamera9 Juli 2007 - 16:0 WIB
- Wayang Barata di Metropolitan18 Mei 2007 - 18:5 WIB
Artikel Terkait
- Mengenang Para Martir Perubahan15 Mei 2008 - 13:0 WIB
- Kami Tidak Akan Pernah Lupa13 Maret 2008 - 15:3 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







