| 03 September 2010 |
Kisah
Jalan-jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)
19 November 2008 - 17:54 WIB
Yovinus Guntur Wicaksono
Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.
KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan padi. Mereka seakan tidak peduli pada kedatangan jenazah kakak beradik yang bikin heboh itu.
Salah seorang warga Tenggulun, Slamet, bukan nama asli, mengaku sebagai sesama warga desa dirinya prihatin atas tragedi yang menimpa Amrozi dan Ali Gufron. Namun, di sisi lain, ia tidak bisa menerima kekerasan yang telah ditunjukkan oleh keduanya. "Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan seperti itu," katamya. "Apalagi ini dilakukan di negara yang membesarkan dan melahirkan mereka. Lagi pula, banyak warga muslim yang menjadi korban," kata pria ini.
Begitu pula Sugeng, juga nama samaran. Ia tidak bisa menerima perbuatan yang dilakukan Amrozi dan Ali Gufron. Menurut dia, kedua terpidana mati tersebut telah "berjihad" di jalan yang salah.
Penolakan warga Desa Tenggulun tidak hanya berhenti di situ. Mereka juga menolak menyejajarkan Amrozi dan Ali Gufron dengan Noorhadi, ayah keduanya, yang dimakamkan di TPU Tenggulun. Warga tidak ingin makam desanya "dikotori" oleh dua sosok yang dinilai sebagai teroris itu.
Pihak keluarga pun akhirnya menguburkan jenazah Amrozi dan Ali Gufron di kebun mangga milik keluarga yang bersebelahan dengan TPU Tenggulun. Di kebun mangga tersebut tertulis kalimat "Makam Pejuang Islam, Penegak Amar Makruf Nahi Munkar".
Setelah kasus bom Bali I terbongkar, warga Tenggulun mengaku enggan menitipkan anak-anaknya ke Pondok Pesantren Al Islam yang didirikan Amrozi. Mereka menyatakan tidak ingin anaknya menjadi teroris seperti Amrozi dan Ali Gufron. Meski demikian, mereka mengaku sungkan pada keluarga Amrozi yang dinilai terpandang di desa tersebut.
Juru bicara keluarga Amrozi, Ustad Khosin, berharap roh Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra terbang bersama burung belibis menghadap sang bidadari surga yang diimpikan mereka. Dan, entah secara kebetulan atau tidak, beberapa saat sebelum jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan, tiga ekor belibis berhenti sejenak di atap rumah ibu Amrozi, dan akhirnya terbang jauh meninggalkan Desa Tenggulun. (E2)
Foto: Deni Prastyo
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
- Ide Lokalisasi PSK di Serang Ditentang12 Januari 2009 - 14:31 WIB
- Sosialisasi Pemilu di Surabaya Tidak Maksimal8 Januari 2009 - 14:1 WIB
- Seluruh Anggota Komisi IX Terima Uang BI7 Januari 2009 - 16:54 WIB
- Minggu Puncak Arus Balik Angkutan Kereta2 Januari 2009 - 17:27 WIB
- Turun, Jumlah Jurnalis Tewas di Tahun 2008 31 Desember 2008 - 13:59 WIB
Kisah Terkait
- Jalan-jalan ke Kampung Amrozi (1)14 November 2008 - 11:52 WIB
- Air Gunung Tak Mengalir Sampai Cijeruk (3, Habis)28 Oktober 2008 - 18:33 WIB
- Air Gunung Tak Mengalir Sampai Cijeruk (1)24 Oktober 2008 - 17:3 WIB
- ‘Berkah’ Kematian Soeharto 31 Januari 2008 - 12:16 WIB
- Para Pemburu Kabar Soeharto28 Januari 2008 - 15:36 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Inspirasi
Politik Aspal di Sepotong Jalan
31 Oktober 2008 - 9:48 WIB
SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







