Voice of Human Rights News Center

English English 03 September 2010  

            Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com                Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru di: http://www.vhrmedia.com   

 

Kisah

Jalan-jalan ke Kampung Amrozi (2, Habis)

Yovinus Guntur Wicaksono

 Warga Tenggulun menghormati orang tua Amrozi, namun menolak jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan di pemakaman desa.


KETIKA peti mati Amrozi dan Ali Gufron tiba di Tenggulun, tak banyak warga desa yang datang melayat. Sebagian besar tetap beraktivitas seperti menanam jagung dan padi. Mereka seakan tidak peduli pada kedatangan jenazah kakak beradik yang bikin heboh itu.


Salah seorang warga Tenggulun,  Slamet, bukan nama asli, mengaku sebagai sesama warga desa dirinya prihatin atas tragedi yang menimpa Amrozi dan Ali Gufron. Namun, di sisi lain, ia tidak bisa menerima kekerasan yang telah ditunjukkan oleh keduanya.  "Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan seperti itu," katamya. "Apalagi ini dilakukan di negara yang membesarkan dan melahirkan mereka. Lagi pula, banyak warga muslim yang menjadi korban," kata pria ini.

Begitu pula Sugeng, juga nama samaran. Ia tidak bisa menerima perbuatan yang dilakukan Amrozi dan Ali Gufron. Menurut dia, kedua terpidana mati tersebut telah "berjihad" di jalan yang salah.

Penolakan warga Desa Tenggulun tidak hanya berhenti di situ. Mereka juga menolak menyejajarkan Amrozi dan Ali Gufron dengan Noorhadi, ayah keduanya, yang dimakamkan di TPU Tenggulun. Warga tidak ingin makam desanya "dikotori" oleh dua sosok yang dinilai sebagai teroris itu.

Pihak keluarga pun akhirnya menguburkan jenazah Amrozi dan Ali Gufron di kebun mangga milik keluarga yang bersebelahan dengan TPU Tenggulun. Di kebun mangga tersebut tertulis kalimat "Makam Pejuang Islam, Penegak Amar Makruf Nahi Munkar".

Setelah kasus bom Bali I terbongkar, warga Tenggulun mengaku enggan menitipkan anak-anaknya ke Pondok Pesantren Al Islam yang didirikan Amrozi. Mereka menyatakan tidak ingin anaknya menjadi teroris seperti Amrozi dan Ali Gufron. Meski demikian, mereka mengaku sungkan pada keluarga Amrozi yang dinilai terpandang di desa tersebut.

Juru bicara keluarga Amrozi, Ustad Khosin, berharap roh Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra terbang bersama burung belibis menghadap sang bidadari surga yang diimpikan mereka. Dan, entah secara kebetulan atau tidak, beberapa saat sebelum jasad Amrozi dan Ali Gufron dikuburkan, tiga ekor belibis berhenti sejenak di atap rumah ibu Amrozi, dan akhirnya terbang jauh meninggalkan Desa Tenggulun. (E2)


Foto: Deni Prastyo


 

©2010 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Wajah Baru VHRmedia

21 Januari 2009 - 14:20 WIB

Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM

16 Januari 2009 - 23:54 WIB

Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid

16 Januari 2009 - 21:33 WIB

Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror

16 Januari 2009 - 21:15 WIB

LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III

16 Januari 2009 - 21:4 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Tidak ada data 5 Berita terpopuler

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua