Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Jalan Panjang Penyapu Jalan

Ani Ismawati

Parno Atmaji telah pergi. Meninggalkan derita tak berkesudahan.

Siang di bawah terik matahari kutemukan wajah lusuhnya. Tubuhnya renta digerus usia. Tujuh puluh dua tahun sudah usia menggerogoti wajah mudanya. Memakan habis otot kuatnya. Membungkukkan tulang punggung dari badan tegarnya.

Mbah Parno, begitu panggilan akrabnya. Nama lengkapnya Parno Atmaji. Kehidupannya sebagai tukang sapu jalanan di daerah Ciputat, Tangerang, Banten, membuatnya akrab dengan pelbagai kendaraan, yang tentu tak pernah mampu dimilikinya. Sekadar berkhayal punya pun mungkin ia tak sanggup. Berada di dalam mobil hanya beberapa menit untuk mencoba pedal gas mungkin juga terasa aneh baginya.

Sosok pendiam ini capek menjalani rel panjang kehidupannya. Ia bosan pada kemiskinan yang membelit. Namun dia tak sanggup lari dari kemiskinan yang terus saja menguntit perjalanan hidupnya.

Mbah Parno mengantongi uang dari hasil menyapu tak genap Rp 200 ribu per bulan. Uang yang tak ia mengerti sebenarnya datang dari mana dan dibawa bos siapa. Yang jelas selama hampir 50 tahun Mbah Parno menerima uang imbalan dari seseorang yang ia sendiri tak kenal. "Aneh sih sebenarnya," katanya. "Kalau ingin menuntut (kenaikan upah) juga ke mana? Tapi yang penting dapat uang buat makan."

Lelaki tua ini tinggal di belakang Lapangan Terbang Pelita Pondok Cabe, Legoso, Jakarta Selatan. Penyangga rumahnya hanya setinggi tanaman jagung. Di tengah bangunan-bangunan tinggi Mbah Parno hidup serba kekurangan. Potongan-potongan tripleks yang menempel pada setiap kayu penyanggah rapuh itu menjadi saksi tentang pahitnya kehidupan keluarga kecilnya. Untung saja tak ada yang mengungkit tanah ini milik siapa. "Kalau sampai digusur, entah akan tinggal di mana," ujarnya.

Rumah kecil itu dihuni bersama anak perempuannya, Ijah, 40 tahun, yang memberinya seorang cucu, Murni, sebagai teman pelipur lara. Menantunya, suami Ijah, sudah terbebas dari kejamnya hidup. Sebuah kecelakaan bus di Jalan Kalibata, Jakarta Selatan, dua tahun silam membuat anak semata wayangnya menjanda.

Istrinya, Suminah, sudah meninggalkan Parno sejak muda. Suminah tak tahan hidup dalam kemiskinan. Ia pergi dengan laki-laki lain yang lebih mapan. Usia Suminah dengan Mbah Parno terpaut 13 tahun. Mereka menikah tahun 1960. Saat itu Suminah berumur 20 tahun. Pasangan ini dikaruniai seorang anak. Namun saat Ijah berusia 10 ditinggal pergi ibunya begitu saja. Ijah kecil pun menjalani hari-hari panjang hanya bersama bapak.

Mbah Parno sering berpikir kenapa kemiskinan tak juga pergi darinya. Dia sedih jika memikirkan itu. Matanya menerawang jauh bersama angin bertiup kencang. Debu-debu jalanan beterbangan melewati bulu-bulu matanya dan melilipkan matanya. Bising knalpot kendaraan semakin akrab menderu-deru. Dalam keramaian, Mbah Parno menjalani hidupnya dari hari ke hari.

Sorot matanya yang tajam mencoba menelisik jauh makna hidup. Ketegarannya mencoba menghancurkan dinding keangkuhan dan kerasnya hidup. Dengan otot tua yang kian melembek dia ingin mendobrak pintu menuju singgasana megah dan masuk ke dalamnya. Aku di sini, di hadapannya, kian mengerti bongkahan demi bongkahan kesabaran kian luluh.

Hidup susah sudah menyongsong Parno Atmaji lahir ke dunia. Karena panen tak kunjung tiba, keluarga kecil orang tuanya di Boyolali, Jawa Tengah, meninggalkan kampung halaman, hijrah ke Jakarta. Anak tunggal ini belajar menapaki hidup di Ibu Kota. Parno kecil mulai merasakan hawa Jakarta tak sesejuk dan sesegar udara dan angin Boyolali.

Tahun demi tahun di Jakarta mengajarkan pada Pak Karjo, bapaknya, bahwa hidup memang tak semudah yang dibayangkan. "Apalagi untuk urusan mencari pekerjaan," tutur Parno. "Lha wong buat makan bertiga saja Bapak nyaris tak sanggup memenuhi."

Uang hasil jual rumah di kampung hanya cukup untuk membangun rumah dari tripleks di Legoso. "Rumah itu satu-satunya warisan orang tua buatku," ujarnya.

Sisa uang itu untuk makan keluarga dan ongkos pergi-pulang bapaknya mencari kerja. Akhirnya kerja memang didapat, meskipun hanya sebagai tukang bersih-bersih di sebuah perusahaan kecil. Tapi itu tak berlangsung lama. Suatu saat Pak Karjo dipecat.

Pak Karjo tak sanggup memasukkan anak tunggalnya itu ke sekolah. Akhirnya Parno turun ke jalan, naik turun kendaraan umum. Bermodal botol plastik yang diisi sejumput beras, Parno kecil mengamen. Dia menawarkan suara. "Bernyanyi tak jelas," katanya.

Seperak dua perak masuk kantong kecilnya. Sedari pagi ia keluar masuk kendaraan umum mengamen dengan lagu-lagu dan suara sebisanya. Di hiruk-pikuk kota Jakarta Parno kecil seperti tak kenal lelah.

Parno beranjak remaja. Pada usia 18 tahun Parno ingin pensiun ngamen. Tiga belas tahun mengamen cukup sudah. Dia memutar otak, melirik kanan kiri. Ternyata sudah banyak perkantoran tumbuh di Jakarta. Tapi setiap kali mau mengetuk pintu kantor untuk melamar kerja, ia teringat tak memiliki selembar pun ijazah. "Tak punya surat layak nilai," katanya.

Parno nyaris putus harapan. Apalagi bila teringat di dunia ini dia hidup sendiri. Beberapa tahun sebelumnya bapaknya meninggal dalam keputusasaan berkepanjangan. Tak lama kemudian ibunya menyusul ke alam baka. Jika mengingat itu matanya selalu berkaca-kaca.

Namun dia sadar harus bangkit. Dia ingin bekerja apa saja. Yang penting bukan tindak kejahatan. Dia ingin berdagang, tapi apalah daya modal tak ada. Suatu hari seorang tetangga menawarinya sapu lidi bergagang dan sebuah gerobak sampah yang tampak menjulang lebih tinggi dari tubuhnya. Parno remaja pun menyingsingkan lengan baju menyapu debu dan sampah jalanan. Dari hari ke hari.

Parno remaja mengenal Suminah, gadis berambut sebahu yang digelung. Setiap hari Suminah berkeliling dari kampung ke kampung menjajakan jamu. Racikan jamu gadis itu terasa pas di lidah Parno. "Langganan ibu-ibu," ujarnya.

Semakin lama Parno tidak hanya menyukai jamu racikan Suminah, tapi mencintai peraciknya. Dua bulan saling curi pandang, akhirnya cinta mereka berpaut dan dua insan itu menikah. Cinta Parno pada Suminah kian dalam ketika Ijah lahir. "Hidup ini sudah lengkap," katanya. "Meskipun miskin, punya dua perempuan yang mencintai diriku dengan utuh."

Bersama Suminah, Parno merawat Ijah. Kemiskinan tak mengurangi kebahagiaan keluarga kecil itu.

Tiga belas tahun berlalu. Kebahagiaan dan keceriaan keluarga Parno terkoyak. Ada tetangga baru melirik Suminah. Celakanya, Suminah pun tertarik. Entah kenapa Suminah tiba-tiba lupa suami dan anak yang baru berumur sepuluh tahun. Tanpa menoleh dia pergi bersama laki-laki itu.

Kebahagiaan Parno berubah jadi gunungan kecewa dan derita. Dia mencoba mengerti pilihan hidup Suminah. Mungkin perempuan itu capek menjalani hidup dalam kemiskinan sehingga begitu mudah putar haluan. "Cinta tak lagi ada padanya untukku," kata Parno.

Lima puluh tahun sudah Parno berkutat dengan derita, debu, dan sampah. Jalan-jalan semakin panjang karena lorong perempatan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, telah dibangun. Aspal jalanan kian berkilat. Tak ada tapak kaki, yang ada hanyalah gilasan ban-ban kendaraan, sampah, dan debu yang membuat Mbah Parno bersin-bersin.

Tiba-tiba aku teringat Mbah Parno. Aku ingin menemuinya, sekadar bertukar cerita. Aku kangen mata teduh itu. Kutanya pada orang-orang di Jalan Raya Lebak Bulus, di mana gerangan lelaki tua itu. Seseorang memberi tahu bahwa Mbah Parno telah meninggal pada bulan Februari lalu. Aku tersentak sedih. Ternyata dia telah pergi meninggalkan segala derita.

Aku ingin mengenang lelaki penuh derita ini. Mungkin tak ada lagi yang ingat atau memperhatikan salah seorang saja dari begitu banyak penyapu jalan di kota Jakarta, dan kota-kota lain. Mereka mungkin sekadar angka-angka statistik bagi Dinas Kebersihan atau pemerintah. Tapi mereka juga manusia, warga negara Indonesia. (E2)

©2008 VHRmedia.com


Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua