Voice of Human Rights News Center

English English 20 November 2008  

 

Kisah

Kantin Kejujuran

Liza Desylanhi

Kantin KejujuranKios itu tanpa penjaga. Pembeli mengambil barang, menaruh uang pembayaran, dan mengambil kembalian sendiri.

 

BEL sekolah berbunyi. Itu tanda waktu istirahat tiba. Tanpa membuang-buang waktu, para siswa SMUN 1 Ciparay, Kabupaten Bandung, berhamburan keluar kelas. Kantin menjadi tujuan utama mereka. Saatnya mengisi perut yang sedari tadi meronta. Apalagi hari itu hawanya lumayan dingin.


Dalam sekejap kantin sederhana seluas 3 meter persegi itu penuh sesak. Suasana hiruk, suara para siswa bersahutan. Semua berebut ingin segera dilayani. Para penjaga kios itu pun mendadak sibuk. Sungguh asyik mereka menyantap kudapan hangat, sambil memandang jajaran bukit Culah di kejauhan atau melayangkan pandangan ke hamparan rumput hijau yang terbentang luas.


Kantin ini menempati sudut belakang halaman sekolah. Letaknya pun lebih tinggi dibandingkan bangunan lainnya. Kontur tanah sekolah seluas lebih dari 1,5 hektare ini berjenjang.


Kios yang berada paling kiri kantin terlihat lengang. Hanya terlihat satu-dua siswa keluar-masuk kios berukuran 3x3 meter itu. Salah satunya Rani, siswa kelas II jurusan IPA. Ia memilih-milih jajanan bersama kedua temannya. Tiga jenis makanan ringan diambilnya. Setelah melihat harga yang tertera, Rani menaruh selembar uang 10 ribuan. Lalu ia mengambil uang Rp 7.000 dari dalam toples plastik sebagai kembalian. "Kan di sini kita ngambil barangnya sendiri, ngambil kembaliannya sendiri," katanya sambil memasukkan uang kembalian ke saku.


Kata Rani, tak ada penjaga di kios yang mulai dibuka pertengahan Januari lalu itu. Pembeli melayani diri sendiri. Konsep yang dijalankan di kantin ini adalah kejujuran. Memang, kantin itu diberi nama Kantin Kejujuran. Di sini sejumlah makanan ringan dalam kemasan plastik berjajar rapi di rak. Gelas minuman siap minum berada di dalam lemari pendingin. Sejumlah alat tulis seperti pensil, penghapus, kertas, dan penggaris tertata apik di dalam etalase kaca. Pembeli tinggal memilih barang yang diinginkan dan meletakkan uangnya di dalam toples plastik sesuai harga yang tertera. Kalau ada kembalian, mereka mengambil sendiri uang kembalian tersebut.


Rani mengaku setiap hari pasti menyempatkan diri jajan di kios yang masih asing bagi sebagian besar teman-temannya itu. Ia ingin pembeli di kantin ini bertambah. Kata Rani, awalnya hampir tak ada pembeli di Kantin Kejujuran, karena dagangan belum lengkap. "Jadi, kita diharapkan selalu ke sini untuk meningkatkan (omzet) Kantin Kejujuran ini," ujar dara berwajah manis ini. (E1)

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

    Tidak ada data 5 Berita terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

    Tidak ada data 5 Kisah terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua