Voice of Human Rights News Center

English English 28 Agustus 2008  

 

Kisah

Kios Narkoba (2)

Yuliyanti

Skretariat Kios NarkobaKarena membagikan jarum gratis, mereka dituduh melegalkan narkoba dan kristenisasi. Bahkan ada petugas lapangan yang diarak telanjang dan dihujani peluru.

 

HASIL penelitian Kios membuktikan hampir separuh pencandu narkoba menggunakan jarum suntik bekas dan bergantian. Sedangkan Pusat Data Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) memperkirakan pada tahun 2010 ada 400.000 orang terinveksi HIV dan 100.000 kematian akibat HIV.

Karena itu Kios lebih memilih mengurangi dampak buruk narkoba ketimbang menghukum pengguna narkoba. Pendekatan ini dikenal dengan istilah harm reduction. Pendekatan ini memang masih menjadi perdebatan di kalangan pihak yang menanggulangi narkoba. Pendekatan harm reduction dianggap melegalkan narkoba, karena membagikan jarum suntik steril kapada para pencandu.


Bahkan aktivis Kios harus bekerja di bawah tanah untuk membagi-bagikan jarum suntik dengan membawa botol berisi pembersih atau bleaching dan air sebagai kamuflase saat beraktivitas membagikan jarum suntilk. Para petugas lapangannya yang juga mantan pencandu ini masuk ke wilayah-wilayah tongkrongan para pencandu, sehingga memudahkan mereka mendapatkan pemakai jarum suntik.


"Polisi kira kami bandar baru, karena kami bawa bleaching," kata Suhendro. "Kami bawa untuk selalu mencuci jarum setelah mereka pakai, " kata Suhendro.


Gesekan aktivis Kios dengan warga dan para pemuka agama pun tak terhindarkan. Bahkan mereka pernah diisukan melakukan kristenisasi, karena berhubungan dengan nama kampus Universitas Katolik Atmajaya. "Kami dibilang membantu misionaris-misionaris Kristen," kata Suhendro.


Apalagi wilayah Kios yang berada di Cideng Barat berdekatan dengan wilayah kelompok-kelompok Islam. "Lingkungan di sini rata-rata sudah mengerti karena kami melakukan advokasi di sini, kalau nggak kita sudah digerebek FPI-lah, " lanjut Suhendro sambil tertawa.


Kekerasan yang dialami para petugas lapangan memang sulit dihindari, karena mereka datang ke spot pencandu narkoba. Tak jarang pula para petugas lapangan Kios digelandang aparat kepolisian. Mereka bahkan ditelanjangi di jalanan layaknya seorang kriminal. Bahkan kata Suhendro, ada petugas lapangan hampir terhujam peluru ketika polisi melakukan penggerebekan.


"Tiba-tiba polisi datang langsung main tembak saja, tidak ada basa-basinya. Dret... dret... dret...." katanya. (bersambung)

Foto: VHRmedia.com/Dian Ali Rahman.

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Inspirasi

Kampus, Rumah Bersalin, dan Anak Jalanan

25 Juli 2008 - 14:10 WIB

Tidak biasanya saya menumpang angkutan umum saat jam-jam sibuk. Tapi Senin malam lalu saya menghabiskan sekitar satu jam di angkutan umum menuju sebuah rumah sakit bersalin di kota ini untuk memberi selamat kepada teman lama yang baru dikaruniai anak pertama.


Pukul 20.38. Saya turun sekitar lima meter menjelang halte tempat saya

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Pegawai Honorer Surabaya Tak Terdata BKN

8 Agustus 2008 - 16:24 WIB

Anggaran Pendidikan Utamakan Gaji Guru

15 Agustus 2008 - 16:58 WIB

Pengesahan PP 41/2007 Jatim Molor

1 Agustus 2008 - 16:1 WIB

Status Tersangka Bupati Sleman Belum Jelas

1 Agustus 2008 - 15:33 WIB

Peraturan 5 Menteri Tak Berkekuatan Mengikat

1 Agustus 2008 - 16:33 WIB

Arsip Berita »

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua
Teater Sandekala