Voice of Human Rights News Center

English English 21 November 2008  

 

Kisah

Masih Ada Damai di Cisalada (1)

Indah Nurmasari

AhmadiyahJemaat Ahmadiyah tetap hidup rukun dengan para tetangga. Konflik keyakinan yang terus diberitakan media tak mengusik kerukunan mereka.

 

KAMPUNG Cisalada cerah siang itu. Keriangan anak-anak bermain meramaikan kampung di kaki Gunung Salak, Bogor, itu. Suasana serupa terlihat di kampung sekeliling Cisalada, Desa Cibatok ketika kami melewatinya. Warga kampung Cisalada yang seluruhnya merupakan pengikut Ahmadiyah tampak akrab dengan penduduk kampung yang lain. Mereka belajar di sekolah yang sama dan berbelanja di pasar yang sama. Tidak ada rasa sungkan yang melingkupi warga kampung lain untuk bergaul dengan warga kampung Cisalada.

 

Ghalib, siswa kelas IV SDN 03 Cempe Udik, menuturkan, selama dia bersekolah tidak sekalipun ada perlakuan yang berbeda dari teman-teman ataupun gurunya. Padahal mereka tahu Ghalib berasal dari keluarga pengikut Ahmadiyah. "Saya tahu kalau saya orang Ahmadiyah. Sama teman-teman biasa saja. Main kayak biasanya. Main kuda-kudaan. Nggak ada yang benci saya," kata Ghalib.

 

Begitu pula Khaula. Siswi kelas II SDN 03 Cempe Udik ini mengaku biasa-biasa saja. Tidak ada perlakuan beda dari guru. "Biasanya main karet bareng," ujarnya malu-malu.

 

Anak-anak Cisalada mengikuti berita tentang tindak kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah di tempat lain. Mereka juga tahu banyak kelompok yang ingin Ahmadiyah dilarang. Mereka hanya bisa bertanya-tanya apa yang salah dengan keyakinan yang dipeluk secara turun-temurun.

Ahmadiyah

Kadang-kadang Ghalib merasa ketakutan jika suatu saat kekerasan merembet ke desanya. Apalagi Ghalib pernah melihat di televisi ada masjid Ahmadiyah yang dibakar dan serangkaian kekerasan lain. "Takut," katanya. "Ngeliatnya pengen nangis. Serem lihat orang dipukuli di Monas."

 

Ghalib bahkan pernah menyaksikan langsung serangan terhadap pengikut Ahmadiyah di Parung, Bogor. Kerusuhan itu terjadi dia sedang bepergian bersama ayahnya. Kejadian itu bertepatan dengan diadakannya pertandingan sepak bola antarpengikut Jemaat Ahmadiyah di Parung. Bayangan menakutkan itu melintas lagi di ingatannya. Suasana yang tadinya penuh sukacita dan keceriaan berubah menjadi kekacauan. Peserta dan penonton acara itu berlarian mencari tempat aman dari lemparan batu dan benda-benda lainnya. (Bersambung...)

Foto-foto VHRmedia/Dian Ali Rachman 

©2008 VHRmedia.com


Berita Terkait

Arsip Berita »

Kisah Terkait

Arsip Kisah »

Artikel Terkait

    Tidak ada data 5 Artikel terkait

Arsip Artikel »



Berita Terkini

Kejagung Akan Hentikan Penyidikan Kasus VLCC

20 November 2008 - 18:9 WIB

Yusril ‘Seret’ Marsilam Simanjuntak

20 November 2008 - 16:54 WIB

Polda & Apjati Jatim Teken MoU Lindungi Buruh Migran

20 November 2008 - 15:59 WIB

UMK Jateng Tahun 2009 Naik 12,92%

20 November 2008 - 15:19 WIB

PP 44/2008 Kaburkan Hak Kompensasi Korban

20 November 2008 - 14:25 WIB

Arsip Berita »

Inspirasi

Politik Aspal di Sepotong Jalan

31 Oktober 2008 - 9:48 WIB

 SEPOTONG jalan sepanjang 1,5 kilometer membelah kampung kami jadi dua bagian: barat masuk wilayah Kelurahan Ngijo, sedangkan timur Kelurahan Patemon. Itulah "jalan raya" bagi kami, penduduk Gebyog, pedukuhan kecil di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


"Berpuluh tahun lalu aparat desa meminta setiap kepala

ICW
Prakarsa Rakyat

Berita Terpopuler

Curhat

Menakar Harga Perempuan

30 November 2007 - 11:45 WIB

Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah

12 September 2007 - 11:20 WIB

Bayi Mungil di Rumah Kontrakan

13 Agustus 2007 - 14:12 WIB

Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin

11 Juli 2007 - 12:32 WIB

Bukan Salah Kartinem...

24 April 2007 - 11:51 WIB

Arsip Curhat »

Foker Papua